Media (Mainstream) adalah Musuh Masyarakat

0
84
Sumber : Pexel
Advertisement

Perkembangan globalisasi salah satu dampak yang dapat dirasakan adalah peran media massa sebagai gaya hidup dalam mendapatkan informasi, data, hiburan, serta pengetahuan. Dalam kehidupan manusia media dan data merupakan sebuah kebutuhan primer. Kebutuhan akan pengetahuan, data, hiburan dan informasi melahirkan kebutuhan pula terhadap media, media sebagai salah satu alat distribusi data, informasi, hiburan bagi manusia.

Dengan melihat nilai penting media tersebut menjadikan kita harus tetap mengikuti perkembangan media yang membawa data dan informasi yang bertujuan menambah pengetahuan dan tak jarang hanya menjadi hiburan bagi kehidupan kita, dari lelahnya kebohongan hidup serta munafiknya

Mewakili keresahan masyarakat penulis merasa prihatin akan kondisi media hiburan dan infomasi yang beredar dewasa ini. Tanpa kita sadari, media informasi menentukan taraf hidup yang kita miliki. Banyak taraf hidup kita berkurang karena asupan hiburan dan informasi yang keliru dan tidak berkualitas. Kondisi hari ini dapat di gambarkan sebagai berikut, “Masyarakat seperti kelaparan dan hanya tawarkan makanan berkolesterol tinggi. Masyarakat memahami betapa bahayanya media mainstream. Namun masyarakat tidak bisa meninggalkan akibat kecanduan, kurang pengetahuan dan tak ada pengaantinya.”

 

Masyarakat dan Hiburan

Hiburan telah menjadi sebuah kebutuhan mendasar bagi masyarakat. Hiburan menjadi salah satu alternatif masyarakat untuk melepas stress atau beban hidup yang mereka rasakan. Hiburan sendiri adalah bagian budaya di dalam masyarakat. Hiburan hadir didalam berbagai kebudayaan seperti musik-musik, lagu-lagu rakyat, dongeng-dongeng dls. Tanpa kita sadari, hiburan membangun identitas dan kesatuan didalam masyarakat melalui informasi dan modifikasi perilaku.

Advertisement
BACA JUGA  Ancaman Candu Perilaku Buruk ditengah PSBB

Masyarakat dan Televisi

Televisi awalnya hadir dan mendominasi media informasi dan hiburan di masyarakat. Televisi banyak merubah gaya hidup di masyarakat. Namun, televisi mengalami penurunan kualitas secara perlahan. Televisi awalnya hanya berfokus kepada hiburan dan edukasi berubah menjadi sebuah media bisnis yang berusaha menciptakan ketergantungan penonton.

Kehadiran televisi meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan akses kemudahan informasi berita. Televisi juga menawarkan ide-ide baru yang mampu mendorong masyarakat mencapai tingkat kesejahteraan baru. Namun, televisi juga menawarkan hal-hal buruk dibaliknya. Saat ini televisi banyak menyajikan hiburan yang tidak mendidik dan menurunkan taraf hidup masyarakat. Televisi menghadirkan berbagai program yang memberikan dampak buruk bagi masyarakat seperti program gossip, konflik, kekerasan, hedonisme, drama romansa dan drama kenyataan yang penuh dengan rekayasa.

 

Masyarakat dan Media Sosial

Media sosial ternyata hadir sebagai platform yang mulai menggantikan fungsi pertelevisian sebagai media utama secara perlahan. Sayangnya media sosial mengalami pergeseran fungsi terlalu jauh dari media komunikasi menjadi media infromasi. Informasi yang bernilai kredibel tercampur dengan media informasi yang tidak berguna. Masyarakat di banjiri informasi yang menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk menyeleksi informasi.

Media sosial juga diwarnai oleh nilai-nilai yang sama seperti televisi dengan menghadirkan gossip, konflik, kekerasan, hedonisme, drama kenyataan yang penuh rekayasan dls. Belum lagi terjadi kompetisi dalam kekayaan, kebebasan ekspresi, popularitas dls. Media sosial telah menurunkan kualitas hidup masyarakat dengan menarik masyarakat kepada kegiatan yang tidak diperlukan.

 

Media dan Pudarnya Budaya Nasional

BACA JUGA  Menginstall Optimisme Dalam Jiwa

Kita telah lama setuju bahwa banyak budaya barat yang hadir di Indonesia menjadi penyakit sosial di masyarakat kita. Budaya penindasan, hedonisme dan kapitalisme yang dihadirkan oleh penjajah telah membuat kita bergerak untuk merubahnya dan meraih kemerdekaan. Namun, budaya itu hadir kembali tanpa kita sadari lewat propaganda tersembunyi di berbagai hiburan kita.

Saat ini hiburan mainstream di kontrol dan di kuasai oleh barat. Barat terus menyebarluaskan pemikiran liberalismenya. Mereka menciptakan ilusi bahwa mereka berada di puncak tertinggi peradaban. Kita seakan berpikiran atau di buat berpikir bahwa kehidupan barat yang penuh dengan pemborosan dan hedonisme adalah sebuah contoh. Kita juga tidak menyadari bahwa hal ini masuk ke generasi muda kita lewat media sosial, game, televisi dan media-media lainnya.

Jika kita berpendapat bahwa Amerika menjadi epicentrum utama yang menyebarkan pemikiran liberalismenya ke berbagai lini masyarakat dunia. Saat inni Amerika tidak bertindak sendiri karena beberapa bangsa di berbagai belahan dunia telah menjadi epicentrum liberalisme. Di asia sendiri, Jepang telah menjadi epicentrum liberalisme. Jepang saat ini adalah produsen film dewasa kedua terbesar di dunia.

Namun, dominasi penyebaran liberalisme oleh Jepang mulai berubah dengan kehadiran korea selatan sebagai epicentrum baru. Kita bisa melihat gaya kehidupan liberal dan hedonis di dalam drama-drama korea selatan. Drama-drama tersebut tanpa kita sadari penuh dengan propaganda kehidupan liberal dan kapitalis yang hadir di asia. Saat ini, Indonesia sendiri secara perlahan menjadi epicentrum barat di asia tenggara akibat paparan media liberal barat dan asia.

BACA JUGA  Sebuah Renungan Ditengah Wabah Pandemi Corona

Kehadiran budaya liberalisme secara pasti menghapus budaya nasional yang kita miliki. Jika hal ini dibiarkan, kita akan mendapati kehadiran budaya Amerika (barat) yang liberal di rumah kita. Keluarga kita akan hancur berantakan akibat kebebasan yang berkembang di bangsa kita. Situasi ekonomi akan menghimpit kaum lemah dan media akan di bungkam oleh korporasi. Politik akan di isi sepenuhnya oleh orang-orang yang korup dan tunduk kepada korporasi, terlebih itu adalah korporasi asing dengan kekuatan ekonomi milyaran dollar. Budaya yang kita sebut Indonesia seperti gotong royong, kepedulian dan empati akan hilang ditelan zaman.

 

Refleksi

Dengan melihat realitas media dijadikan alat untuk mendistribusikan kepentingan paham liberalisme dengan tujuan merubah sudut pandang masyarakat dalam penentuan standard hidup yang dikatakan baik.

Sudah sepatunya dengan melihat realitas yang demikian kita perlu mewasdai, jangan sampai kita ikut tenggelam dalam nilai – nilai yang dibawakan, perlunya antisipasi tameng sebagai benteng pertahanan bagi diri kita, tameng yang mungkin bisa kita lakukan dengan selalu kritis terhadap pengetahuan yang didapatkan dari media. Sikap kritis tersebut akan melahirkan rasa ingin tahu terhadap nilai – nilai yang terkandung yang ingin disampaikan dari media, mengingat media menjadi salah satu kebutuhan primer dalam hidup kita.

 

Dengan yang demikian kita bisa menyikapi secara bijak terhadap perilaku dan pilihan media yang akan kita pilih dalam upaya memenuhi kebutuhan kita.

Oleh Aditya Santoso dan M. Amri, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Nasional Jakarta

Advertisement