Cita-cita Indonesia Merdeka Dengan Kedewasaan Rakyat Semesta

0
49

Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar – Wa lillahil hamd. Takbir telah berkumandang yang menandakan Idul Fitri didepan mata. Idul Fitri ini adalah pertanda melangkahnya kita kepada tingkatan manusia yang baru, manusia yang lebih sempurna secara jiwa. Kedewasaan rakyat akan semakin memperkuat Indonesia di percaturan dunia, karena rakyat adalah tumpuan utama kemajuan bangsa.

Kemerdekaan tidaklah dengan mudah dicapai tanpa adanya kedewasaan dalam diri rakyat Indonesia. Kedewasaan itu harus dibangun lewat ujian dan pengorbanan tiada henti. Bung Hatta pernah mengingatkan bahwa rakyat Indonesia haruslah bertanggung jawab, mandiri serta kenal hak dan kewajiban. Itulah kedewasaan yang harus dicapai dan dikejar oleh bangsa Indonesia.

Walau Bung Hatta telah meninggalkan kita, cita-citanya masih menjadi sebuah pasak yang akan dibangun sebuah bangunan indah diatasnya. Kini ilmu pengetahuan telah berkembang dan terus menerus memperjelas indikator manusia ideal yang harus dikejar setiap bangsa. Tulisan ini bermaksut memberikan gambaran manusia yang diharapkan oleh Bung Hatta dalam konteks kekinian. Sebuah kedewasaan yang akan memberikan Indonesia sebuah kemerdekaan yang sesungguhnya.

 

Dewasa Secara Intelektual

Telah lama ilmuwan menemukan bahwa dewasa secara Intelektual adalah hal yang harus dicapai oleh setiap insan. Maka kita akan menemukan sekolah yang dasar (Taman Kanak-kanak), wajib (SD, SMP dan SMA), tinggi (S1, S2 dan S3). Kini para ahli di berbagai bidang juga membentuk berbagai pelatihan untuk membentuk keahlian bidang yang di buktikan lewat sertivikasi.

Dewasa secara intelektual artinya seseorang mampu memecahkan masalah yang ia hadapi dengan menggunakan kemampuan nalar / pikirnya. Secara umum kita namakan penilaian itu sebagai Intelligence Quotient. Apabila indikator menunjukan 100, maka kecerdasan kita adalah standar (umum) sesuai dengan usia kita.  Namun ada pula yang menunjukan diatas 100, itulah yang disebut sebagai dewasa secara intelektual, melampaui usia yang nyata. Jika nilai IQ cukup tinggi, mereka disebut sebagai Jenius. IQ terus meninggat sejalan dengan kegiatan belajar yang kita lakukan. Maka sangat penting menjadi seorang pembelajar seumur hidup untuk memperatahankan dan meningkatkan IQ yang kita miliki.

BACA JUGA  Ada Apa Sesudah Corona ?

 

Dewasa Secara Emosional

Namun, akhir-akhir ini IQ telah menunjukan keterbatasannya. IQ akan berubah tumpul dan tidak mampu memecahkan masalah ketika emosi bermain. Acapkali kita lihat, betapa banyak orang dari berbagai latar pendidikan bisa membunuh orang lain hanya karena gelap mata. Emosional ternyata mampu mempengaruhi optimalisasi IQ dalam kehidupan kita. Mekanisme didalam kepala kita (otak) membuat fungsi berfikir terlompati ketika ada sebuah rangsang yang menandung emosional. Lompatan tersebut langsung mendarat di fungsi tindakan. Jadi ketika kita emosional, kita akan cenderung langsung bertindak. Pengelolaan emosi acap kali di sebut Emotional Quotient (EQ).

Tindakan emosional di ciptakan Tuhan untuk sebuah kondisi gawat darurat. Seperti ketika kita melihat ular yang membuat kita langsung melompat. Ada pula kondisi seperti kita melihat orang tercinta terseret arus sungai telah membuat kita terjun menyelamatkan. Namun, beberapa tindakan perlu pertimbangan seperti marah ketika dihina. Adakalanya kita bersabar dan mencari cara membalas penghinaan tersebut dengan cara yang lebih baik. Rasulullah SAW dihina oleh para orang-orang Mekah, namun Rasululllah SAW bertindak sabar yang malah menjadi balasan keras bagi petinggi Mekah. Karena kesabaran beliau, banyak akhirnya orang-orang berbondong masuk ke ajarannya.

Dewasa secara Emosi sebenarnya bisa tercapai oleh pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Usaha evaluasi dan pengelolaan emosi diri sudah banyak dijelaskan oleh para Ilmuwan. Sekelumit caranya akan saya jelaskan di artikel tersendiri apabila masih diberikan umur dan waktu oleh Allah SWT. Jika saya diminta menjelaskan secara garis besar, pengelolaan emosi membuat kita harus membelokan SELURUH tindakan emosi kita kepada tindakan berfikir. Artinya, kita selalu berusaha mempertahankan kesadaran pikiran kita didalam kondisi apapun. Pikiran kita haruslah 1) mengingat tujuan dan prinsip jalan hidup kita, 2) mengukur akan dampak tindakan terhadap tujuan dan 3) mencari jalan untuk pelampiasan emosi (tindakan) yang lebih baik.

BACA JUGA  Ancaman Candu Perilaku Buruk ditengah PSBB

 

Dewasa Secara Ketahanan Mental

Namun, dalam kehidupan sehari-hari ada kalanya tantangan hadir. Inilah dimensi ke tiga yang saya bahas yaitu dewasa secara ketahanan mental. Ketahanan mental yang disebut sebagai Adversity Quotient (AQ). Ilmu ini dijelaskan sebagai sebuah kegiatan mendaki, 1) ada yang menyerah ketika melihat tantangan (Quiter), 2) ada yang mendaki namun menyerah dan membangun tenda di pertengahan karena banyak perhitungan (Camper) dan 3) ada yang sampai di puncak karena terus bertahan dalam kerasnya tekanan (Climber).

Tentu kita semua ingin memiliki ketahan mental (Climber) dan mampu mencapai tujuan besar dalam hidup kita. Dalam membangun katahan mental acapkali mudah secara teori namun sulit dilaksanakan. Teorinya adalah kita tidak boleh mengatakan tidak bisa atau tidak mungkin pada setiap tantangan. Namun, kita dibolehkan mundur untuk mencari jalan lain. Menyerah adalah tindakan mundur sejenak untuk mencari cara. Albert Einstein berkata bahwa Idiot adalah orang yang mengharap hasil berbeda dengan cara yang sama. Orang yang tahan mental bukan hanya bertahan dalam kesulitan, namun juga mencari jalan lain apabila halangan menghadang. Seperti beratnya menggali tambang, jika kita bertemu batu besar maka ada baiknya kita memutar untuk terus menggali berlian.

 

Dewasa Secara Spiritual

Kenyataannya telah banyak orang yang berhasil dalam hidupnya namun tidak bahagia dan kehilangan kebermaknaan. Ada pula orang yang terus menerus dalam tekanan dan mempertanyakan hakikat hidupnya. Juga pula ada orang yang enggan maju karena khawatir kesulitan menghadang. Disanalah ketika IQ, EQ dan AQ tak mampu berbicara, Spiritual Quotien (SQ) memulai kerjanya.

BACA JUGA  Wabah Corona : Meneladani Sikap Umar bin Khattab, Abu Ubaidah al Jarrah dan Masyarakat Islam di Masa Lalu

SQ (Spiritual Quotient) adalah sebuah kesadaran bahwa hidup ini bukan melulu di dunia namun pula ada di Akhirat. Berdasar pada keadaran bahwa kebahagiaan di dunia ini terbatas walau kita memiliki kekayaan segunung emas (pada akhirnya kita akan mengadapi batas umur dan kematian). Layaknya sebuah keuntungan yang kita kejar selama sebulan penuh, namun hanya memberikan kebahagiaan sejenak (ketika gajian dan membelanjakan uang tsb).

SQ memberikan kebermaknaan pahala ketika kita bekerja dan tertekan keras dalam berfikir (IQ), menahan emosi kita karena kesadaran bahwa dunia hanya sementara (EQ) dan memotivasi kita meraih hal yang mulia di dunia maupun akhirat (AQ). SQ melengkapi ketiga hal selainnya dan menyeimbangkannya dalam sebuah Equibrilium (keseimbangan) yang indah. SQ lah yang sebenarnya akan merubah peradaban yang telah dibangun oleh barat menjadi lebih baik dari saat ini.

 

Kembali lagi kepada Idul Fitri dan berakhirnya Ramadhan 1441 H. Telah satu bulan kita diperas pikir kita untuk terus bekerja (IQ). Kita pula berusaha menekan emosi kita (EQ). Kita juga di motivasi untuk menyempurnakan puasa hingga matahari terbenam (AQ). Diakhir semua itu, kita menengadah ke langit seraya berkata, “kulakukan ini hanya untuk Mu ya Allah, tuhan semesta alam” (SQ). Ramadhan telah menjadikan peradaban kita maju selangkah lebih baik, peradaban manusia-manusia Indonesia yang dengan semangat menyongsong masa depan. Semoga gambaran cita-cita manusia Indonesia ini terekam baik dalam benak kita masing-masing, sehingga kita tak lupa berusaha mencapainya baik setelah ramadhan 1441H ini meninggalkan kita, maupun ketika nanti ramadhan berikutnya datang menyambut.