Terima Kasih : Rasa Syukur Atas Keberadaan Orang Lain

Terima Kasih : Rasa Syukur Atas Keberadaan Orang Lain

Advertisements

Terima Kasih, sebuah kata yang saat ini mulai terlupa akibat derasnya arus kehidupan. Kita mulai melupakan kebermankaan akan kehadiran orang lain dan menganggap hal tersebut adalah hal yang biasa. Padahal, kehadiran orang lain, terutama orang yang bermanfaat bagi kehidupan kita, adalah sebuah anugerah terbesar.

Rasa Terimakasih Sebagai Dorongan Alami

Manusia, kini mencipta berbagai alat untuk memenuhi kebutuhan mereka, pada titik tertentu, manusia malah khawatir bahwa kehadiran alat ini akan menggantikan diri mereka. Alat-alat yang di sertai kecerdasan buatan ini, walau sedemikian pintar, mereka tak sedikit-pun berterimakasih atas usaha keras penciptanya untuk menghadirkan dirinya.

Advertisements

Sebaliknya, manusia adalah mahluk yang dicipta untuk bersyukur dan berterimakasih. Manusia berterimakasih kepada penciptanya atas kesempatan hidup di dunia dan mengecap kebaagiaan. Mahluk beraqal dan berperasaan ini, senang tiasa mengucap terimakasih kepada sesama mereka atas bantuan yang ia terima.

Tuhan mencipta mahluk-mahluknya untuk berterimakasih, baik kepada diri-Nya maupun kepada sesama mereka. Lihatlah sikap seekor kucing yang mengeluskan lembut dirinya kepada manusia yang memberinya makan. Mungkin, kita juga bisa melihat indah warna warni dan harum setangkai bunga, sebagai rasa terimakasihnya kepada manusia yang telah menanam dan merawatnya.

Perasaan, Pembeda Mesin dan Manusia

Berterima kasih dan menerima ungkapan terima kasih adalah hal alami yang sudah ada didalam diri manusia. AI (kecerdasan buatan) tidak akan terdorong untuk berterimakasih, mereka adalah mahluk tanpa perasaan yang dicipta oleh manusia berdasarkan hukum komputasi (perhitungan matematis). Terima kasih, hanya bisa di ucapkan oleh mereka yang memiliki perasaan.

BACA JUGA  Menciptakan Tidur yang Optimal

Perasaan adalah sebuah keajaiban yang dicipta oleh Tuhan dan diberikan kepada para mahluknya. Perasan ini bisa berupa rasa Cinta, Benci, Cemburu yang dirasakan oleh anak muda. Bisa juga berupa bahagia, haru dan syukur sepasang suami-istri yang dikaruniai anak yang sehat dan sempurna. Mungkin rasa lega seorang mahasiswa yang lulus ujian ujian skripsi dan mendapat predikat sarjana. Perasaan adalah sebuah ciptaan kompleks nan rumit yang di miliki oleh mahluk hidup, terutama manusia.

Kecerdasan buatan mungkin bisa meniru bentuk fisik manusia, suara manusia dan bahkan perilaku manusia. Tapi, semua itu hanyalah tiruan dari ciptaan sempurna aslinya, manusia. Tiruan, sejatinya tidak akan pernah mampu menggantikan maha karya aslinya.

Manusia mungkin memilih untuk berhadapan dengan mesin demi efisiensi, seperti memilih datang ke ATM dari pada mengantri ke teller bank. Namun, ketika muncul permasalahan, seperti kartu ATM tertelan, kita akan datang ke petugas bank untuk mengurus kartu tertelan tersebut. Ingatlah, pada akhirnya, manusia akan kembali datang ke manusia lainnya untuk mengeluh dan meminta bantuan.

Manusia, bukan hanya membutuhkan pemecahan masalah, tetapi tempat untuk menyalurkan emosional, kegundahan, stress, tekanan hidup dls. Mungkin mereka bisa menyalurkan curhat mereka di media sosial, tetapi yang mereka tuju di media sosial adalah para manusia yang memiliki perasaan juga. Manusia, membutuhkan orang lain yang berempati, mampu merasakan rasa sakit yang sama dengan yang mereka rasakan.

Berterima Kasihlah, Agar Tak Digantikan Mesin

Manusia-manusia modern seakan lupa untuk mengucap hal ini, sederhanya seperti ketika saya mengisi bensin di pom bensin, ucapan terimakasih yang saya ucapkan memberikan kesan aneh bagi para petugas disana. Bagi mereka, mungkin membantu saya mengisi bensin dan melakukan pembayaran adalah kewajiban dan rutinitas, sehingga tidak ada hal spesial yang membuat saya dan dirinya saling berterimakasih.

BACA JUGA  Media (Mainstream) adalah Musuh Masyarakat

Jika kita hayati lebih jauh, kita mungkin selalu berterimakasih atas kehadiran pom bensin dalam perjalanan. Tanpa mereka yang hadir dan menjamur dimana-mana, mungkin kita akan selalu khawatir akan keadaan tanki bensin kita. Selain itu, mereka juga berterimakasih karena hadirnya kita membuat mereka bisa melanjutkan bisnis seperti biasa. Dengan kata lain, ada sebuah keuntungan yang didapat oleh kedua belah pihak dari kegiatan ini.

Manusia modern yang lupa untuk berterimakasih adalah mereka yang tenggelam dalam mekanisasi kehidupan, mereka menjadi mesin walau memiliki perasaan. Senyum tulus acapkali terhapus dari wajah mereka ketika sedang bekerja, berganti wajah kaku bak topeng. Acapkali mereka mengucap terimakasih, tetapi hanya sebagai formalitas demi sebuah tuntutan kerja, sebuah SOP yang meminta mereka untuk berterimakasih kepada pelanggan.

Terima Kasih Tulus Sepenuh Hati

Terima Kasih acapkali di ucapkan kepada pelanggan hanya sebagai formalitas, tuntutan kerja. Padahal, ucapan terimakasih yang tulus sebenarnya bisa di bedakan dengan mudah. Mereka yang berucap terimakasih dari hati yang terdalam terlihat sangat alami tanpa paksaan, guratan wajah mereka amat berbeda.

Mereka yang berterima kasih atas kehadiran pelanggan, memiliki kinerja yang berbeda, cara mereka memperlakukan pelanggan biasanya amat cekatan dan penuh semangat. Mereka benar-benar mencoba memahami pelanggan dari perasaan yang terdalam, mencoba memahami dan menjawab kegundahan, kegelisahan, amarah dan kesedihan pelanggan.

BACA JUGA  Uang Pembawa Berkah

Pernah suatu kali, saya melihat pegawai di mini market membiarkan antian menumpuk di satu kasir, sementara satu mesin kasir menganggur. Saya perhatikan, banyak pegawai yang berseliweran mengurus penempatan barang dan mengobrol santai. Sementara saya dan beberapa pelanggan lain sudah berdiri tidak sabar. Sekeluarnya saya dari mini market itu, saya bersumpah serapah dalam hati, bukan rasa bahagia, saya di liputi kekecewaan.

Sebaliknya, pernah saya mendapati sebuah mini market yang tiba-tiba mendapat serbuan pelanggan karena merupakan jama’ah pulang dari sholat jum’at. Pegawai mini market dengan sigap membuka salah satu mesin kasir yang mengganggur dan membagi antrian panjang serta melayani dengan amat cepat. Saya melihat gurat wajah semangat pelayanan di pelayan tersebut, ketika ia mengucap terimakasih, itulah terimakasih yang setulus-tulusnya.

Terima Kasih, jangan hanya sekedar di ucap, ia adalah perasaan tulus dari hati yang mendalam. Rasa syukur atas kehadiran orang lain, biasanya mendorong tubuh bergerak secara berenergi untuk memberikan pelayanan prima. Penulis sendiri adalah seorang barista, memahami betul bahwa konsumen yang datang dan dilayani dengan semangat serta di ucapkan rasa terimakasih mendalam, menjadi seorang pelanggan di kemudian hari. Karena di berikan pelayanan dari dalam hati, berdasar pada filosofis berterimakasih atas kehadiran mereka, hati mereka-pun tertambat dan menjadi pelanggan setia.

Advertisements

KATEGORI
TAGS
Share This

KOMENTAR

Wordpress (0)