Umar Bin Abdul Aziz : Warisan Terpenting Bagi Seorang Anak

0
75
Sumber Gambar : www.pexels.com

Tersebutlah kisah mahsyur Umar bin Abdul Aziz, salah satu khalifah Bani Umayyah. Dikala sakaratul menjemput, ia meninggalkan sebelas anak dan masing-masing anak mendapat warisan hanya tiga perempat dinar (apabila kurs dinar Rp 3.340.500 maka total Rp 10.856.625 atau hanya 10 juta). Saat menjelang kematiannya, ia berkata kepada mereka, “Aku tidak mempunyai harta yang dapat aku wariskan.” Sementara itu, Hisyam bin Abdul Malik, salah seorang khalifah Bani Umayyah berikutnya, meninggalkan sebelas anak dan masing-masing anak mendapat warisan satu juta dinar (apabila kurs dinar Rp 3.340.500 maka total Rp 3.340.500.000.000 atau 3,34 Triliun).

Di kemudian hari, tertanya tidak ada satu pun dari anak-anak Umar bin Abdul Aziz, kecuali mereka kaya. Bahkan salah seorang anaknya, sanggup menyediakan biaya dari harta pribadinya untuk serratus ribu pasukan berkuda sekaligus dengan kudanya dalam perang fi sabillilah. Sementara tidak seorang pun diantara anak-anak Hisyam bin Abdul Malik, kecuali mereka jatuh miskin.

 

Interpretasi

Kita bertanya-tanya mengenai rahasia Umar bin Abdul Aziz dalam mendidik anak-anak mereka. Dan apa kesalahan fatal yang dilakukan oleh Hisyam bin Abdul Malik sehingga anak-anaknya tenggelam dalam kegagalan finansial. Ternyata, hal tersebut dijelaskan dengan riset ilmiah di abad modern, yang dipaparkan oleh Malcom Gladwell dalam buku David dan Goliath.

Malcom Galdwell (2018 : hal 45) memaparkan bahwa mengajarkan anak di lingkungan kaya lebih sulit dibandingkan membesarkan anak di lingkungan yang miskin. Karena orang kaya akan kehilangan ambisi, kebanggaan dan harga diri. Dan jika mungkin, diantara keduanya (kondisi seimbang) akan ada kondisi yang lebih baik. Dari sini bisa kita lihat bahwa kekayaan akan menjadi hambatan dalam pendidikan anak. Dan kemungkinan besar hal tersebut dialami oleh Hisyam bin Abdul Malik. Kemungkinan Hisyam bin Abdul Malik menyadarinya, namun ia belum mendapatkan jawaban yang tepat untuk memecahkan masalahnya hingga ajal menjemputnya.

BACA JUGA  Renungan Jumat : Memaksimalkan Potensi Amal Soleh

Maka selanjutkan kita akan mengungkap pendidikan Umar bin Abdul Aziz kepada anak-anaknya yang menyebabkan keberhasilan dalam kehidupan mereka. Kisah yang paling mahsyur mengenai pendidikan anak-anak Umar bin Abdul Aziz terekam dalam kisah-kisah berikut ;

  1. Tidak Menganak Emaskan atau Mendorong Kemandirian

Umar bin Abdul Aziz terkenal dengan sikap antinepotisme. Dikisahkan oleh Al-Hafiz Ibnu Jauzi dari Imam al-Auza’I berkata ketika Umar Bin Abdul Aziz tidak lagi memberi hal khusus kepada anggota keluarganya. Padahal hampir seluruh Raja-raja Bani Umayah terkenal selalu memberikan harta yang melimpah kepada sanak saudara mereka. Anbasah bin Sa’d berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah kita kerabat?” Umar menjawab, “Tidak ada hal khusus yang ada pada ku untuk kalian. Hak harta ini adalah sama diatara kalian dan orang di tempat yang jauh di sana. Demi Allah, jika hal yang tidak hak diberlakukan dan merata di dunia seperti saran yang kamu sampaikan, maka azab Allah akan datang.”

Jika kita lihat, sikap ini menjadikan saudara-saudara dan bahkan anak-anak Umar bin Abdul Aziz lebih mandiri atau tidak berusaha menggantungkan dirinya kepada orang tuanya. Kemandirian yang dilahirkan, membentuk mental kerja keras dan pantang menyerah yang nantinya akan berguna di kemudian hari. Mental-mental inilah yang membangkitkan Jepang setelah hancur usai Perang Dunia Kedua, dimana bangsa Jepang menyadari bahwa mereka tidak bisa bergantung kepada bangsa lain selain berusaha sendiri ditengah krisis yang melanda bangsanya.

  1. Berhati-hati dalam Penggunaan Aset
BACA JUGA  Salahkah Menjadi Orang Sensitif?

Umar bin Abdul Aziz juga tegas dalam membedakan harta umat dan harta pribadi. Alkisah salah seorang anak Umar bin Abdul Aziz hendak berkonsultasi ditengah malam dengannya. Lantas ia bertanya, “apakah ini urusan pribadi atau urusan negara?” Lantas sang anak menjawab bahwa hal ini adalah urusan pribadi. Maka Umar langsung meniup lentera yang menerangi mereka. Dan menjelaskan bahwa lentera ini menggunakan uang rakyat. Maka mereka berdiskusi ditengah gelapnya ruangan.

Dari kisah ini kita bisa mendapati bahwa Umar benar-benar menekankan pembedaan harta benda. Jika kita telisik, seorang yang manajemen keuangannya baik adalah orang yang mampu membedakan asal muasal harta. Sehingga pengeluarannya dapat terencana dan dapat hidup dengan lebih teratur.

  1. Kuat dalam Menanamkan Nilai-nilai Islam

Kisah lainnya adalah nilai-nilai luhur Islam yang sangat kuat, mengakar dalam diri anak-anak Umar bin Abdul Aziz. Hal ini terlihat dari kisah ketika Umar hendak mengembalikan harta-hartanya yang dulu ia terima dari negara sebagai hadiah sewaktu menjabat gubernur. Maka salah satu sahabatnya bersedih karena khawatir Umar bin Abdul Aziz akan jatuh miskin dan terlunta-lunta, sementara ia memiliki sebelas orang anak. Namun, Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz (anaknya) mewakili pendapat kesebelas anaknya menjawab “segerakan.” Dan Umar membesarkan hati anaknya dengan mengangkat tangan dan berucap, “Alhamdullilah yang menjadi keturunanku orang yang membantuku dalam agamaku.”

Sikap para anak-anak Umar bin Abdul Aziz menunjukan keberanian mereka untuk jatuh miskin karena yakin akan pertolongan Allah SWT. Keyakinan dan keberanian ini tentu akan menimbulkan keberanian dalam diri mereka sehingga mereka berani bekerja keras dan mengambil resiko. Dimana mental-mental inilah merupakan mental yang diperlukan oleh pengusaha.

  1. Menghargai Ilmu
BACA JUGA  Kepekaan Spiritual Sebagai Syarat Kesuksesan

Setelah kita membicarakan Panjang lebar mengenai keutamaan ilmu akhirat yang ditegakan oleh Umar bin Abdul Aziz. Namun, jangan lupa bahwa ia ikut andil dalam mengumpulkan ilmu di kota-kota besar Islam seperti Kufah, Damsyik dan Basrah. Masjid menjadi pusat ilmu pengetahuan dimana di isi oleh ilmu-ilmu seperti matematika dan sains. Tujuan penyebaran Ilmu ini adalah kesejahteraan Umat Islam dan mendorong Umat Islam menjadi negara yang paling kuat di dunia.

 

Penutup

Memang banyak kisah-kisah yang menceritakan Umar bin Abdul Aziz. Namun, dari intrepertasi di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa pendidikan anak yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz berprinsip: Ilmu Islam, Mandiri, Adil dan Ilmu Pengetahuan yang kami singkat IMAN. Dengan prinsip IMAN, diharapkan akan tumbuh generasi baru yang sehebat anak-anak Umar bin Abdul Aziz dan bahkan seperti beliau.

Namun, diakui bahwa orang tua belum tentu mampu menyajikan keempat hal ini. Maka dari itu, orang tua perlu bekerjasama dengan instansi pendidikan formal (sekolah) dan non formal (pengajian) untuk mampu memenuhi kebutuhan diatas. Namun, tidak lupa juga untuk terus berusaha memberikan sikap yang adil dan pendidikan kemandirian kepada anak-anak. Perlu di ingat bahwa orang tua adalah guru yang paling utama dan paling dekat dengan anak.