Mengenang Revolusi Nasional Indonesia

0
10

Tahun 1949, 71 tahun lalu, bertepatan dengan tanggal 27 Desember hari ini. Sebuah kejadia besar yang merupakan jerih payah bangsa Indonesia terjadi. Belanda mengakui bahwa Indonesia adalah sebuah negara merdeka dan mengakhiri sebutan Hindia Belanda.

Sebuah Pandangan Yang Berlawanan

Jerih payah ini bukanlah hal yang mudah, hal ini di capai setelah ratusan ribu rakyat Indonesia gugur dalam pertempuran. Bagi Belanda, kita adalah penjahat, orang yang bar-bar dan tak tahu adab. Bangsa Indonesia di anggap merampas harta Belanda, Indonesia di anggap sebagai aset dan manusia didalamnya adalah budak. Dari kacamatanya kita adalah pelayan rumah yang mengklaim rumah milik majikannya.

Berbeda dengan kacamata orang Indonesia. Kita hidup ratusan tahun di pulau ini. Beranak pinak dan hidup dalam kedamaian. Lalu tiba-tiba mereka datang, menyerbu dan mengadu domba. Lantas mereka membangun banyak benteng, memaksa kita membuat jalan, rel kereta dan bendungan demi pundi-pundi uang.

Belanda dengan bangganya menyebut bahwa mereka “menciptakan” Belanda dari bawah laut ke permukaan, dengan membangun tanggul yang amat panjang. Bangsa Indonesia mencemooh betapa banyak darah yang mengalir dari tanggul yang mereka buat itu. Darah-darah bangsa Indonesia yang mereka Jajah, mereka adu domba dan mereka eksploitasi.

BACA JUGA  Kepekaan Spiritual Sebagai Syarat Kesuksesan

Ketika Bangsa Ini Diremehkan

Mungkin saat itu, bangsa Belanda tertawa ketika melihat Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Bangsa ini di pimpin oleh segelolongan orang-orang yang “kemarin sore” muncul. Bung Karno menjabat wakil presien ketika berumur 44 Tahun, sementara Bung Hatta menjabat wakil presiden berumur 43 Tahun. Lalu komandan angkatan perang kita, Jenderal Sudirman masih berumur 30-an tahun.

Tapi, mereka melupakan satu hal. Bahwa anak-anak mudalah yang menciptakan perubahan di masa-masa genting. Mereka baru menyadari kegarangan Republik Indonesia ketika 100.000 lebih anak-anak muda di penjuru tanah air bergerak secara padu melawan mereka. Anak-anak muda Republik ini tak boleh di remehkan!

Layaknya Napoleon berkata, “aku tak takut dengan 100 kawanan singa yang di pimpin oleh satu ekor domba, aku takut dengan 100 kawanan domba yang di pimpin oleh satu ekor singa.” Benar sekali, 100.000 domba menjadi singa-singa yang menerkam seluruh serdadu Belanda dan Inggris, yang hendak mengembalikan Indonesia kepada Penjajahan.

Menelan Ludah Sendiri

Saat itu, barat terkenal dengan Demokrasi, namun tidak mau memberikan kemerdekaan dan demokrasi bagi bangsa-bangsa yang mereka jajah. Dengan pecundangnya, mereka menggalakan agresi militer 2. Dimana dalam agresi ini mereka menangkap pimpinan Republik Indonesia, Soekarno, Hatta dan Syahrir. Mereka menggunakan strategi yang sama seperti ketika mereka menangkap Pangeran Diponogoro, Cut Nyak Dien dls. Mereka menyangka bahwa tertangkapnya pimpinan Republik ini akan membuat bangsa Indonesia kalang kabut dan menyerah.

BACA JUGA  Sebuah Renungan Ditengah Wabah Pandemi Corona

Namun, dengan sigap Sjafruddin Prawiranegara membangun pemerintahan sementara di Bukit Tinggi. Menunjukan bahwa macan-macan Republik Indonesia masih meraung dengan keras ke udara. Penangkapan itu akhirnya menjadi bumerang bagi Bangsa Belanda. Amerika saat itu mengecam penangkapan tersebut. Lalu berakhir dengan tersusunnya perjanjian Roem–Van Roijen Agreement.

Republik Indonesia Serikat

Setelah berbagai dinamika terjadi, terjadilah konverensi meja bundar. Saat itu beberapa kalangan beranggapan bahwa ini merupakan kemunduran. Karena Republi Indonesia berubah menjadi Republik Indonesia Serikat di tanggal 27 Desember 1949. Namun, dibalik kemunduran tersebut, saat itulah Belanda paling di rugikan karena harus mengakui bahwa ada “Bangsa Indonesia”. Selain itu Belanda harus menghapus “Hindia Belanda” dari kata kunci untuk merujuk Nusantara.