Cita-cita Ekonomi Indonesia

0
45
Sumber : Pexel

Telah lama tatanan Ekonomi Dunia semakin bermasalah dibawah kepemimpinan Liberalisme. Komunisme yang sudah terjungkal jatuh, tak lebih buruk dibandingkan Liberalisme. Neo liberaslime hadir untuk membangkitan Liberalisme, namun malah menghidupkan sebuah zombie yang menghatui jagad ekonomi dunia. Tak pelak Ideologi-ideologi ini membawa berbagai masalah. Dimulai dari perang, kelaparan, kesenjangan dan berbagai masalah moralitas yang menjatuhkan harkat derajat manusia. Ada yang salah dengan ideologi-ideologi tersebut, namun hal itu tidak disadari oleh banyak orang.

Kembali ke ribuan tahun silam ketika Ekonomi melayani Masyarakat. Ketika itu, masyarakat bertujuan hidup sejahtera dan bersahaja. Terpenuhilah segala kebutuhan masyarakat dari yang dasar hingga yang tersier. Namun, hawa nafsu merubah mereka. Kala masa kelam itu, angka-angka dari pundi-pundi harta menjadi penentu derajat manusia. Maka manusia berlomba-lomba merampas dan menjarah. Persia terbakar hasrat haus akan kekuasaan dan tak henti-hentinya menggempur Yunani. Romawi pun tak mau kalah ikut menggempur Yunani dan menjadi rival abadi Persia. Ketika derajat manusia ditentukan oleh angka material, disanalah manusia menjadi budak ekonomi. Ketika manusia menjadi seorang budak, maka disanalah ia kehilangan sisi kemanusiaannya. Kini sudah hampir dua ribu tahun berlalu, ternyata manusia kembali diperbudak oleh angka material.

BACA JUGA  Ancaman Candu Perilaku Buruk ditengah PSBB

Kesalahan utama dari ekonomi liberal dan komunisme sangat sederhana namun benar-benar fundamental (penting). Mereka sama-sama mengejar sesuatu yang salah!

Liberalisme mengejar kebahagiaan setinggi-tingginya. Manusia dibuat tidak puas dengan kondisi yang mereka dapatkan. Ketika sebuah equibrilium (keseimbangan) ekonomi tercapai, Liberalisme hancurkan karena mereka ingin memproduksi lebih dan menjual lebih banyak. Hasilnya, masyarakat dibuatnya konsumerisme, dibuatnya serakah agar mau menelan berbagai macam prodak. Masyarakat dibuat memiliki banyak nasi di satu hari, namun dibuat kelaparan di hari-hari berikutnya. Masyarakat kehilangan titik seimbang antara pemasukan dan pengeluaran.

Komunisme mengejar sebuah tatanan sama rata, mereka melanggar sebuah equibrilium (keseimbangan) hak dan kewajiban didalam sistem ekonomi. Mereka yang bekerja lebih keras, kreatif dan berani mengambil resiko adalah yang mendapat hasil lebih banyak. Kemandekan ini menyebabkan sistem ekonomi Soviet babak belur dimuali dari akhir tahun 1960-an, yang menuntun kepada kematiannya di tahun 1991.

Disini harusnya baik pihak Liberal dan Komunisme kembali merenungkan temuan yang sebenarnya mereka akui bersama, yaitu Equibrilium (keseimbangan). Telah lama Equibrilium (keseimbangan) telah menjadi sebuah hal yang diakui dan berusaha di capai oleh ahli ekonomi. Hal ini antara lain ; keseimbangan antara permintaan-penawaran, pajak-pendapatan, eksport-import dls. Keseimbangan inilah yang menjadi titik tumpu akhir ekonomi dan setelah keseimbangan tercapai, tugas ekonomi selesai!

BACA JUGA  Ada Apa Sesudah Corona ?

Equibrilium (keseimbangan) telah menjadi bagian dari hidup kita. Semisal adalah keseimbangan antara istirahat, bekerja dan berolahraga yang membawa kepada kesehatan. Tak berbeda, ekonomi adalah sebuah besaran Equibrilium (keseimbangan) yang perlu dicapai. Apabila sebuah tatanan ekonomi dengan sengaja atau membiarkan keseimbangan bergeser, maka kerugian yang mereka dapat.

Persalahan yang kita temui adalah bahwa Equibrilium (kesimbangan) bersifat multi dimensi dan terus berkembang. Berusaha mengontrol keseimbangan bagaikan seorang pilot pesawat terbang yang berhadapan dengan berbagai indikator. Indikator ini bukan hanya berlandaskan kepada angka-angka (hutang-piutang, eksport-import, permintaan-penawaran dls) namun juga berlandaskan kepada perilaku ekonomi masyarakat. Contohnya adalah tidak seimbang apabila masyarakat tidak memahami hak dan kewajibannya, hal ini akan membuat masyarakat menuntut pendapatan (gaji) namun tidak memberikan kontribusi berkualitas (skill). Puluhan tahun lalu Bung Hatta telah menekankan bangsa Indonesia yang mandiri, memahami hak dan kewajiban serta bertanggung jawab. Bung Hatta sudah memahami pentingnya keseimbangan perilaku ekonomi, yang akan berdampingan dengan keseimbangan angka-angka.

Singkatnya, kesalahan sistem ekonomi hari ini adalah salah kaprah akan tujuan akhir ekonomi yang akan dicapai. Tujuan akhir ekonomi bukanlah untuk menjawab keserakahan umat manusia atau memaksa manusia memiliki tingkat kesejahteraan yang sama rata. Tetapi, tujuannya adalah tercapainya Equibrilium (keseimbangan) dalam segala indikator ekonomi. Disadari Indikator ini terikat dengan sektor lainnya, maka akan bertambahlah indikator ekonomi beberapa tahun kedepan. Maka sudah waktunya dunia ekonomi bergerak maju, dunia ekonomi sudah terlalu lama berputar bagai kucing yang mengejar ekornya sendiri.

BACA JUGA  Penghinaan Indonesia Raya : Apa Sikap Kita?

Kini kita sadari bahwa Liberalisme dan Komunime telah salah dalam berfilsafat dan mengungkap kebenaran. Karl Marx berkata bahwa Filosof bukan hanya bertugas untuk mengungkapkan fakta, namun juga menggerakan masyarakat. Kini bisa ditambahkan mengenai tugas filosof untuk melengkapi Karl Marx, filosof mengungkap fakta, menggerakan masyarakat dan membenahi pemikiran filosof lain yang keliru. Karl Marx terbukti keliru atas pemikiran komunismenya, maka selanjutnya pemikiran itu akan dihapus dan dibenahi oleh generasi berikutnya. Selanjutnya babak baru akan datang dari negeri bahari, Indonesia.

Salam merdeka!