Menginstall Optimisme Dalam Jiwa

0
4
Ilustrasi Harapan dan Keputusasaan (Sumber Gambar : Pixabay.com)

Pandemi di Indonesia bertambah buruk semenjak Bencana Alam menimpa kita. Beberapa kali kita bisa mendengar banyak orang yang mengatakan bahwa Bumi telah sekarat, hal tersebut karena ulah manusia dan kini kita menerima akibatnya. Terbesit pikiran bahwa dunia sudah tua dan akan usai seakan hidup manusia sudah berjalan di putaran roda akhir. Pesimisme telah merambah jauh kedalam kehidupan kita.

Tapi, apabila kita menelisik lebih jauh lagi telah banyak cobaan yang menerpa umat manusia. Umat manusia di zaman tersebut bahkan berfikir bahwa “akhir telah datang” kepada kaum mereka. Namun, hari ini kita masih ada dan “akhir belum datang.”

Allah SWT tidak pernah membicarakan waktu datangnya kiamat. Hal ini menjadi kunci bahwa Allah SWT tidak mau menjatuhkan manusia dapat keputusasaan. Manusia harus optimis mampu bertahan dan menjadi penghuni alam raya yang di ciptakan-Nya hingga hari akhir.

Pesimis Sebagai Awal Kehancuran

Sikap pesimis akan menjadi awal kehancuran sebuah bangsa. Apabila seorang kapten akan menentukan arah kapal, maka pikiranlah yang akan mementukan sikap manusia. Pikiran yang buruk dan penuh rasa pesimis akan mengarahkan kepada keputusan yang pesimis.

Keputusan pesimis tersebut antara lain enggan melangkah maju, membangun usaha, belajar hal baru atau merubah diri. Pikiran pesimis terselimuti oleh anggapan bahwa semua tidak akan berubah dan cobaan tak akan pernah berakhir. Bahkan muncul anggapan bahwa semua akan berubah jauh lebih buruk. Maka dari itu, orang-orang pesimis akan mengambil langkah mundur, menjauh dan menghindar.

Viktor Emil Frankl (26 Maret 1905 – 2 September 1997) menjelaskan bahwa mereka yang pesimis akan mati terlebih dahulu. Viktor Frankl adalah seorang yahudi yang masuk ke kamp konsentrasi Jerman. Sebagai seorang dokter (dahulu psikologi masih masuk ilmu kedokteran), ia mengamati dan menilai orang-orang seisi camp. Ia mendapati banyak orang yang mati di kamp kerja paksa karena ulah pikirannya sendiri.

BACA JUGA  Wabah Corona : Meneladani Sikap Umar bin Khattab, Abu Ubaidah al Jarrah dan Masyarakat Islam di Masa Lalu

Viktor Frankl menilai mereka yang pesimis akan mudah terserang penyakit, giginya mudah copot dan bersikap menyakiti diri sendiri (tidak mau makan dls). Sementara mereka yang optimis tetap berjuang, mereka tetap berharap bahwa suatu hari mereka akan di bebaskan. Viktor sendiri membangun harapan optimis akan bertemu dengan Istri tercintanya, walau akhirnya ia harus menerima kenyataan Istrinya terbunuh di kamp gas.

Kelak penemuan Viktor Frankl akan menjadi aliran psikologi yang bernama Logoterapi. Temuannya membantu mereka untuk menemukan motivasi dalam hidup (optimisme) lewat dialog dengan pasiennya.

Langkah Membangun Optimisme

1. Meluaskan Pengetahuan

Kita takut melangkah maju di kegelapan karena khawatir menginjak benda tajam. Demikian pengetahuan menerangi jalan dan memberikan kita gambaran masa depan. Sehingga kita berani mengambil langkah optimis kedepan.

Namun, jangan terjebak dengan segelintir informasi samar. Segelintir informasi samar dapat menjadikan kita berada di antara dua kutup ekstrim :

Terlalu Takut : Misalnya karena ada informasi mengenai Covid-19 semakin tinggi membuat orang panik. Mereka melakukan belanja besar-besaran yang memicu inflasi dan kelangkaan barang.

Terlalu Berani : Informasi kasus Covid-19 di Indonesia rendah di banding Brazil dan Amerika. Sehingga orang-orang berfikir untuk berwisata ketika libur Natal dan Tahun Baru. Membuat lonjakan kasus ketika awal Januari 2021.

BACA JUGA  Ancaman Candu Perilaku Buruk ditengah PSBB

Informasi haruslah menyeruluh baik ancama dan peluang yang hadir. Layaknya bersiap berjalan di kegelapan, kita harus tahu jalan yang aman (tanpa kerikil) dan jalan yang berbaya.

2.  Jangan Bergantung Pada Motivator

Saat ini banyak trend para motivator mendorong para pesertanya dengan motivasi sugesti. Para peserta acaranya di sugesti dengan kesuksesan agak optimis dan bersemangat. Bahkan ada persepsi bahwa ketika kita semangat, dunia akan tunduk pada kita. Kenyataannya, cara ini tidak akan mampu bertahan lama di bandingkan dengan kita membangun pengetahuan.

Berbondong-bondong orang menonton chanel youtube yang memberikan sugesti kesuksesan. Isinya hanyalah saran-saran umum seperti kerja keras, semangat, disiplin dls. Hal ini tidak akan pernah membangun optimisme jangka panjang dan malah menghabiskan waktu untuk menonton siaran tersebut.

3. Bergaul Dengan Orang Optimis dan Berilmu

Rasulullah SAW pernah mengingatkan umatnya untuk berhati-hati memilih teman. Benar sekali, kita harus memilih teman yang selalu Optimis agar energi semangatnya bisa menular ke diri kita. Selain optimis, ia harus berilmu, karena mereka yang berilmu mampu memberikan jalan keluar atas masalah kita.

Apabila kita hidup di lingkungan yang pesimis, takut perubahan, penuh kecurangan dls, maka di sarankan untuk hijrah mencari tempat baru. Tempat yang penuh dengan aura negatif tersebut tidak akan bisa membangun antusiasme untuk berkembang. Apabila itu adalah tempat kerja, maka perusahaan tersebut terancam bermasalah.

BACA JUGA  Ada Apa Sesudah Corona ?
4. Mendekatkan Diri Kepada Tuhan Yang Maha Esa

Penulis pernah mengalami masa-masa pesimisme. Maka berangsur-angsur penulis meluaskan pandangannya dan banyak bergaul dengan orang yang optimis dan berilmu. Namun, tetap saja ada kekhawatiran akan ketidakpastian masa depan. Bahkan seorang yang berilmu-pun tahu akan batasan perkiraan masa depan.

Saya ikut pecinta alam di kelas XI SMA di tahun 2010-an. Dengan sebuah senter kecil saya masuk bersama rekan saya di kegelapan hutan. Agar selamat, saya berusaha berpijak di batu yang solid dan tanah yang kering. Namun apa daya, ternyata kaki saya terpeleset di sebuah bebatuan yang saya anggap “solid” di bandingkan tanah di sekitarnya. Beruntung saya selamat karena reflek yang bagus akibat latihan silat sebelumnya.

Layaknya kisah di atas, walau ada “pijakan” ilmu pengetahuan, kita tetap tidak bisa memastikan 100% kejadian tersebut. Pasti ada kesalahan yang luput dari perhitungan yang kita buat. Maka dari itu, berdoa kepada Tuhan dan memohon perlindungan-Nya akan mengurangi kegelisahan hati yang kita rasakan.

Selain berdoa, salah satu cara lainnya adalah dengan banyak beramal / bersedekah. Berkali-kali dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman akan membalas kebaikan Umat-Nya. Tentu, dengan banyak beramal dan menyampaikan kebajikan akan membuat kita merasa aman. Rasa aman tersebut lahir dari jaminan Allah SWT yang akan memberikan balasan setimpal dan bahkan berkali-lipat akan perbuatan kita.

Penutup

Ingatlah bahwa cobaan adalah sebuah hal yang kita tidak bisa pilih. Namun, menjadi optimis atau pesimis adalah sebuah pilihan.