Wabah Corona : Meneladani Sikap Umar bin Khattab, Abu Ubaidah al Jarrah dan Masyarakat Islam di Masa Lalu

0
165
Sumber Gambar : www.unsplash.com

“Saya berada di tengah-tengah pasukan kaum muslimin. Saya tidak ingin menjauhi mereka. Saya tidak ingin berpisah dari mereka sampai nanti Allah menetapkan keputusan Nya untuk saya dan mereka. Jangan paksakan saya mengikuti keinginan Anda! Biarkanlah saya di sini bersama-sama dengan prajurit saya.”

Itulah surat terakhir yang dikirimkan oleh Abu Ubaidah kepada Umar bin Khattab. Surat tersebut adalah sebuah catatan sejarah yang menunjukan keganasan wabah dimasa lalu. Dikala itu Sebuah Wabah besar pernah menelan hingga 25.000 Korban jiwa di masa pemerintahan Uman Bin Khattab, benama Wabah Tha’un. Wabah tersebut meliputi Syam dan Irak, negeri yang baru saja di bebaskan umat muslim.

 

Sikap Umar bin Khattab Sebagai Sikap Pemimpin Negara

Umar bin Khattab yang sedianya ingin mengadakan kunjungan kenegaraan ke wilayah tersebut, harus mengangguhkan kunjungannya. Penangguhan ini juga tidak di ambil secara mudah, karena terjadi perdebatan diantara para sahabat yang mendampinginya. Sedianya rombongan Khalifah akan dijemput oleh rombongan Abu Ubaidah. Ternyata ketika di jemput, Umar menyatakan enggan melanjutkan perjalanan. Maka Abu Ubaidah berkata, “Umar kita akan lari dari takdir Allah!” Sanggahan ini mengagetkan Umar bin Khattab dan rombongan. Umar menjawab, “Ya, lari dari tadrik Allah menuju takdir Allah juga.” Ia menunduk sebentar kemudian sambungnya, “Bagaimana kalau ada seseorang turun ke sebuah wadi yang terdiri dari dua lereng, yang satu subur dan yang satu lagi tandus, bukankah yang mengembalakan di tempat tandur itu dengan takdi Allah, dan yang mengembalakan di daerah subur juga dengan takdir Allah?” Keputusan Umar bin Khattab menjadi bulat setelah Abdur-Rahman bin Auf membacakan hadist, “Jika engkau mendengar wabah tha’un di sebuah negeri, maka janglah kalian memasukinya. Dan seandainya wabah tha’un terjadi di negeri yang engkau tinggali, jangalkan engkau meninggalkan negerimu karena lari dari tha’un,” HR. Bukhari.

BACA JUGA  Penghinaan Indonesia Raya : Apa Sikap Kita?

Setelah memberikan arahan kepada Abu Ubaidah terkait kebijakan atau langkah yang diambil dalam menghadapi wabah, rombongan Umar bin Khattab kembali ke Madinah. Sementara rombongan Abu Ubaidah yang sedianya menjemput rombongan Umar bin Khattab kembali ke Syam. Dan menuju kembali ketempat mereka akan berjibaku menghadapi maut yang dengan ganas berkobar.

Jika kita lihat dari kacamata modern, sikap Umar adalah tepat ketika ia menghindari wabah penyakit. Pemimpin negara (presiden) harus mengungsi ke tempat yang aman. Karena ia harus tetap mengkoordinasi wilayah yang terserang dan bebas dari wabah. Ia harus menciptakan kestabilan negara ketika negara tersebut menghadapi kondisi genting. Ia harus mengkoordinasi bantuan bagi wilayah-wilayah yang terserang wabah penyakit.

Lebih buruk jika Pemimpin Negara (Presiden) tertular hingga menyebabkan kematian. Pasti kestabilan negara akan semakin buruk setelah wabah menyerang dan kehilangan sosok panutan. Dipastikan akan terjadi kerusuhan yang mengancam daulah (negara) Islam dimasa itu.

 

Sikap Abu Ubaidah Sebagai Sikap Pemimpin Daerah

Setelah pertemuan dengan Umar bin Khattab, Abu Ubaidah berjibaku melawan wabah di daerah yang ia pimpin.                 Ia turut serta dalam kesibukan mengurus para penderita penyakit dan bahkan ikut memakamkam banyak korban. Ia seakan menjadi tumpuan harapan masyarakat Syams yang dikala itu mendapat ujian dari Allah SWT.

Melihat bertambah buruknya kondisi Syams, Umar bin Khattab bermaksut mengeluarkannya dari wilayah tersebut. Ia berkirim surat hendak memerintahkan Abu Ubaidah untuk keluar. Namun, Abu Ubaidah menolak dengan mengirimkan surat yang tertera di awal artikel ini. Cuplikan kata-kata diatas yang merupakan surat dari Abu Ubaidah, bukanlah maksut Abu Ubaidah hendak melawan perintah Umar bin Khattab. Tetapi ia berusaha menggambarkan betapa gentingnya kondisi disana hingga ia tidak mungkin pergi meninggalkan Syams.

BACA JUGA  Permata Yang Diperebutkan - Sejarah Indonesia ditengah Perang Dunia 2

Kita bisa bayangkan bahwa Abu Ubaidah adalah pemimpin daerah tersebut, layaknya Gubernur DKI Jakarta dan provinsi lainnya. Jikalah pimpinan daerah atau Gubernur meninggalkan daerah tersebut. Maka, kekacauan akan terjadi didala daerah tersebut. Akan terjadi eksodus besar-besaran dari daerah tersebut ke daerah daerah yang masih sehat. Alasannya sederhana, karena mereka ingin menyelamatkan diri ke tempat yang masih belum ada wabah penyakit.

Berdiamnya pimpinan daerah atau Gubernur di wilayah tersebut adalah usaha mempertahankan kepercayaan dan harapan masyarakat. Masyarakat Syam dan Irak tidak akan terdorong untuk lari ke wilayah yang lainnya. Sehingga sosok Abu Ubaidah adalah sosok yang mempertahankan keselamatan daulah (negara) islam di masa itu. Ia sadar akan bahaya jika ia meninggalkan wilayahnya, karena wabah akan membuntuti di belakangnya dan dapat menjalar hingga Madinah, Mesir dan Yaman. Yang dapat menciptakan situasi lebih buruk lagi.

 

Sikap Masayrakat Syam Sebagai Yang Harus Kita Ambil

Sebelum Abu Ubaidah menghembuskan nafas terakhir, ia berdiskusi dengan cendikiawan. Ia mendapati bahwa cara terbaik adalah memindahkan para masyarakat yang sehat ke bukit yang masih belum tersentuh penyakit tersebut. Namun, sebelum ia mampu melaksanakan nasehat tersebut, kematian menyambarnya. Maka ia digantikan oleh Mu’az bin Jabal, sayangnya ia juga meninggal. Dan akhirnya digantikan oleh Amr bin As.

BACA JUGA  Umar Bin Abdul Aziz : Warisan Terpenting Bagi Seorang Anak

Amr bin As berkata dalam pidato, “Penyakit ini bila sudah menyerang, menyala seperti nyala api. Bailah kita berlindung dari penyakit it uke gunung-gunung.” Setelah ia berpidato, masyarakat bergerak berbondong-bondong pergi dari kota yang tercemar wabah. Mereka berpencar ke atas gunung, menunggu hingga wabah tersebut berakhir.

Dari sini, kita bisa melihat adanya satu gerakan yang sama antara perintah Gubernur dan masyarakat. Dalam menghadapi cobaan wabah, kita harus bersinergi menaati perintah atau arahan pemerintah dengan segera. Kita juga tidak boleh mengubah atau menyebarkan berita yang bertentangan dengan arahan pemerintah daerah, seperti menyebar hoaks atau pendapat subyektif. Kepercayaan kepada pemerintah daerah harus kuat, karena ia sendiri berani mempertaruhkan nyawanya untuk tinggal bersama warganya.

 

Kesimpulan Jika Wabah Menyerang DKI Jakarta atau Wilayah Selainnya

  1. Maka ketika berada di posisi presiden, harus bersedia mengungsi ke luar dari wilayah yang berpenyakit demi mempertahankan kedaulatan Indonesia. Jikalau anak, istri atau terjangkit virus, kerelan meninggalkan mereka dibelakang haruslah dipersiapkan.
  2. Ketika menjadi seorang pemimpin daerah, bersiaplah untuk merelakan diri berjibaku bersama tenaga medis memecahkan masalah. Bahkan bersiap seakan ajal akan menjemput kapanpun. Senangtiasa menunjuk wakil dan wakil setelah wakil pemimpin daerah, untuk menghadapi situasi terburuk.
  3. Sementara jika berada di posisi masayarakat, harus rela ditinggal oleh Pemimpin Negara (Khususnya DKI Jakarta). Bersipalah untuk rela berjuang bersama pimpinan daerah (Gubernur) dan patuh akan arahannya. Tidak membangkang atau menyebar hoaks karena situasi sedang genting.