Rangkuman Berita Internasional 4 Januari 2021

Rangkuman Berita Internasional 4 Januari 2021

Advertisements

Jepang : Tokyo Mempertimbangkan Lockdown Kembali

Di lansir dari Japan Today, infeksi Virus Corona semakin meningkat di Tokyo, Jepang. Hal ini membuat Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga mempertimbangkan lockdown.

“Kami akan mempertimbangkan penerbitan deklarasi darurat (untuk wilayah Tokyo)”, kata Suga pada konferensi pers Tahun Baru di Tokyo.

Advertisements

“Faktanya, jumlah orang yang terinfeksi virus corona tidak menurun tetapi tetap tinggi di Tokyo dan tiga prefektur yang berdekatan. Menyikapi hal ini dengan serius, kami pikir kami perlu mengeluarkan pesan yang lebih kuat,” katanya.

Pemerintah Tokyo sebelumnya meminta restoran, bar dan tempat karaoke yang menyajikan alkohol untuk ditutup pada pukul 10 malam sejak akhir November. Sayangnya,  langkah tersebut sejauh ini tidak efektif dalam menurunkan jumlah infeksi virus.

Timur Tengah : Mesir, Ethiopia, Sudan melanjutkan pembicaraan bendungan Nil

Di lansir dari DW News, Ketiga negara Lembah Nil mengadakan putaran baru pembicaraan melalui konferensi video di hadapan para pejabat Afrika Selatan secara virtual, serta pengamat internasional lainnya. Afrika Selatan adalah kepala dewan bergilir Uni Afrika saat ini.

“Pertemuan itu menyimpulkan … bahwa minggu ini akan dikhususkan untuk pembicaraan bilateral antara tiga negara, para ahli, dan pengamat,” kata Kementerian Perairan Sudan dalam sebuah pernyataan.

Sungai Nil sendiri berawal dari Ethiopia, lalu Sudah dan berakhir di Mesir. Ethiophia berniat menggunakan bendungan untuk menghasilkan listrik bagi 50% masyarakatnya yang belum menerima listrik. Sementara Mesir membutuhkan Air untuk pertaniannya karena 90% air berasal dari Sungai Nil. Mesir khawatir berkurangnya pasokan air dari bendungan dan pemanasan global akan membuat kegagalan pertanian di Mesir.

BACA JUGA  China : Membangun Rumah Sakit Setelah Wabah Covid-19 Kembali Muncul

Kasmir : Tentara India Membunuh Tiga Orang Dan Menyulut Amarah Publik

Kasmir adalah wilayah sebuah lembah yang di duduki oleh tiga negara, Pakistan, India dan China. Di lansir dari The Guardian, seorang perwira militer India didakwa atas pembunuhan di luar hukum terhadap tiga pekerja Kashmir dalam baku tembak pada Juli 2020. Petugas itu di temukan telah menembak warga sipil, meletakkan senjata di mayat mereka sebelum “melucuti identitas mereka dan menandai mereka sebagai teroris garis keras ”.

Penduduk setempat yang bergabung dengan pemberontakan di Kashmir biasanya mengumumkan perekrutan mereka di media sosial. Sering kali mereka mempublikasi dengan di sertai dengan foto sedang memegang senjata, tetapi tidak satu pun dari ketiganya yang melakukan ini. Mereka yang bergabung tanpa pengumuman semacam itu biasanya masih di daftar oleh polisi dan tentara. Data detail mereka, termasuk fotonya, di simpan dalam catatan. Namun, polisi setempat mengakui bahwa ketiganya “tidak di sebutkan dalam daftar teroris kami” dan tidak pernah ditangkap sebelumnya. Namun demikian, polisi dan militer menyatakan bahwa mereka adalah “rekan dari teroris garis keras”. Hal ini membuat publik, termasuk keluarga dari ketiga korban tersulut amarah.

Iraq :  Ribuan Orang Mengenang Pembunuhan Qassem Soleimani

Di lansir dari DW News, ribuan orang pendukung militer Iraq turun ke jalan dan meneriakan slogan anti Amerika. Para demonstran pro-Iran, banyak yang berpakaian hitam, berkumpul di Tahrir Square kota itu untuk juga mengutuk Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi, mencapnya sebagai “pengecut” dan “agen Amerika.”

BACA JUGA  Nasional : Prediksi Lonjakan Kasus Covid-19 Ditengah Keterbatasan Kapasitas Rumah Sakit

Pembunuhan Soleimani sendiri membuat ketegangan antara Amerika dan Iran semakin tinggi. Hal tersebut membuat Iran meninggalkan kesepakatan tingkat kemurnian Uranium dan berniat meningkatkannya hingga 20%. Hal tersebut membuat Iran selangkah lebih dekat untuk mempersenjatai dirinya dengan Bom Nuklir. Amerika semakin membawa dunia mendekat kepada Perang Dunia ke 3 yang melibatkan teknologi nuklir.

Amerika Serikat : Nimitz Tetap Di Teluk Persia

Di lansir dari DW News, Amerika Serikat telah membatalkan keputusan untuk membawa pulang kapal induk dari Teluk Persia. Pentagon memutuskan hal ini setelah Iran menunjukan “ancaman”nya. USS Nimitz, kapal Aircraft yang mampu membawa 90 Pesawat Tempur akan tetap di perairan Teluk Persia.

Nimitz telah berpatroli di perairan Teluk sejak akhir November 2021. Awalnya penjabat sekretaris pertahanan AS, Christopher C Miller,  telah memerintahkan kapal tersebut untuk pulang. “Transit langsung ke rumah untuk menyelesaikan pengerahan hampir 10 bulan,” demikian pernyataan yang di keluarkan pada tanggal 31 Desember

Namun pernyataan itu di tarik dan menjelaskan, “USS Nimitz sekarang akan tetap di tempatkan di wilayah komando pusat operasi AS. Tidak ada yang meragukan tekad Amerika Serikat.” Hal ini di lontarkan setelah terjadi perayaan satu tahun serangan pesawat tak berawak AS di Baghdad yang menewaskan komandan Iran Qassem Suleimani dan letnan Iraknya Abu Mahdi al-Muhandis.

BACA JUGA  Jepang : Tingkat Bunuh Diri Meningkat 16% Dari Tahun Sebelumnya

Ribuan pengunjuk rasa Irak meneriakkan “Balas Dendam” dan “Menolak Amerika” pada hari Minggu. Peringatan setahun serangan pesawat tak berawak Baghdad juga di peringati di Iran dan pendukung di Suriah, Lebanon dan Yaman.

Niger : Lebih Dari 100 Orang Tewas Dalam Serangan Desa

Dilansir dari DW News, terjadi penyerangan dengan sepeda motor. Penyerangan tersebut menyapu dua desa di Niger barat, menyebabkan banyak korban tewas di masing-masing desa, kata seorang walikota setempat, Minggu.

Serangan di desa Tchoma Bangou dan Zaroumadareye di wilayah Tillaberi yang di landa jihadis, hanyalah yang terbaru dari serangkaian pembantaian warga sipil. Itu terjadi saat  hasil pemilihan presiden nasional putaran pertama di umumkan.

Almou Hassane, walikota komune Tondikiwindi yang mengelola kedua desa, mengatakan serangan itu di lakukan oleh “teroris yang datang dengan mengendarai sekitar 100 sepeda motor.” Sekitar 75 orang lainnya terluka dengan beberapa membutuhkan perawatan di ibu kota, Niamey, dan kota Ouallam. Desa-desa itu terletak sekitar 120 kilometer (75 mil) di utara Niamey dan dekat dengan perbatasan dengan Mali.

Serangan itu di yakini sebagai pembalasan atas pembunuhan dua pejuang sebelumnya oleh penduduk desa, setelah orang-orang muda dari daerah itu mencoba membentuk kelompok Jihadis.

Advertisements

KATEGORI
TAGS
Share This

KOMENTAR

Wordpress (0)