Pendahuluan | EnterPreneur

0
38
Advertisement

Dalam Program Enter-Preneur ini, saya akan memberikan pengantar untuk masuk ke dunia Enterpreneur bagi anak muda. Artinya, saya hanya akan mengajarkan seputar dasar-dasar teori dalam memulai usaha. Teori, acapkali di remehkan. Kemungkinan besar karena kekecewaan sistem pendidikan di Indonesia yang masih belum Ideal. Jangan membuat kesalahan anda dalam memahami teori sewaktu pendidikan dahulu, membuat anda menyimpulkan bahwa teori tidak diperlukan.

Teori ada, pada dasarnya untuk membantu kita mencerna realitas. Jika kita tidak paham bahwa ada yang namanya konsep Planing, maka kita tidak terpikirkan untuk membuat Rencana ketika membangun perusahaan, sehingga hanya berfokus kepada gerakan. Jikalau kita terjebak kepada gerakan, biasanya paling mentok kita hanya bisa membangun satu lini usaha, karena fokus hanya terbatasi apa yang ada di depan mata, bukan apa yang ada di masa depan.

Jika kita tidak paham konsep Organising, maka kita tidak paham bahwa pembagian tugas amatlah penting dalam perusahaan. Jika kita tidak memahaminya, dapat membuat para SDM kita kelebihan pekerjaan, kekurangan pekerjaan atau tidak imbang memberi beban kerja. Sehingga, teori sama pentingnya dengan pengalaman lapangan.

Tapi, teori tidak bisa operable di semua konteks, misalnya teori penggerakan motivasi menggunakan bonus, tidak akan bisa di pakai bagi para keryawan yang gajinya sudah besar-besar. Maka memperbanyak pengetahuan dengan mempelajari teori-teori manajemen adalah sebuah keharusan bagi seorang Enterpreneur.

Seorang Enterpreneur yang mengalami kegagalan, jika tidak paham teori akan menyalahkan peruntungan, lingkungan atau bahkan diri sendiri yang pada akhirnya akan membuat dirinya depresi. Berbeda dengan Enterpreneur yang mengalami kegagalan tetapi memahami teori, karena ia paham teori, ia dapat melambatkan atau menghentikan laju usahanya agar tidak menghantam dinding kegagalan dengan amat keras, selain itu ia juga tahu alasan kegagalannya.

BACA JUGA  Cinta Sejati dan Nafsu Duniawi | Bengkel Cinta

Secara garis besar, disini saya mempermudah teman-teman mempelajari teori tentang Manajemen dan Enterpreneur yang Operable di lapangan. Saya mengajarkan dengan cara gratis, interaktif dan sudah saya cerna agar sederhana dan mampu di pahami oleh anak remaja sekali-pun. Harapan saya hanya satu hal, setelah memahami teori yang saya ajarkan, coba praktekan sehingga ilmu saya nantinya akan bermanfaat.

Advertisement

Tantangan Menjadi Seorang Enterpreneur

Menjadi Enterpreneur adalah sebuah tantangan berat, jika teman-teman berharap langsung mendapat keuntungan ketika memulai usaha, sebaiknya menjadi karyawan saja. Para Enterpreneur, acapkali mendapat balik modal hingga berbulan-bulan dan bahkan tahunan.

Mungkin paling cepat adalah usaha sembako, bisa kurang dari sebulan, tergantung penempatan lokasi usahanya. Jika usaha makanan, kafe atau F&B. Dari wawancara yang saya lakukan, bisa terlihat balik modal dalam waktu maksimal 6 bulan, bahkan bisa lebih cepat. Sementara untuk usaha bengkel, bisa balik modal dalam waktu 2 tahun, karena membutuhkan pelanggan loyal. Paling sulit dan paling lama adalah usaha properti karena properti paling sulit di jual, walau ketika terjual, Enterpreneur akan mendapatkan keuntungan yang besar. Ini semua terjadi di waktu normal, akan lebih lama ketika dalam konteks krisis ekonomi atau pandemi. Bahkan, balik modal terkadang amatlah sulit dan keuntungan hanya angan belaka.

BACA JUGA  Mari Hadapi, Jangan Lari | Re-Talk

Perlu di ketahui, Enterpreneur berbeda dalam hal tanggung jawab di bandingkan dengan pekerja. Jikalau perusahaan bangkrut, para pekerja tinggal mencari lowongan kerja baru. Tetapi, para Enterpreneur menanggung hutang dan rugi dari kegagalan usaha. Sehingga, untuk memulai usaha Enterpreneur membutuhkan kesabaran, disiplin dan pantang menyerah, dimana hal itu adalah hal yang sulit. Bahkan, kerja keras kita sebagai seorang Enterpreneur bisa tidak menghasilkan apapun. Tetapi, ketika kita tidak bekerja keras, dapat dipastikan kita tidak akan mendapatkan apapun.

Kenikmatan Sebagai Seorang Enterpreneur

Jika sebelumnya saya menjelaskan hal-hal menakutkan, kini saya jelaskan sisi terang menjadi seorang Enterpreneur. Pertama, jika kita punya usaha dan kondisi ekonomi memukul kita, hal yang pertama kita lakukan adalah pengurangan tenaga kerja. Sementara, para pekerja hanya bisa mendapati dirinya di PHK, karena tidak ada jalan lain, dari pada dia bekerja tetapi tidak di Gaji. Lalu para enterpreneur akan berjibaku, bahkan bisa berganti lini usaha sampai titik karyawan terakhir di PHK dan modal lenyap. Bahkan, jika modal lenyap pun, masih ada jaringan usaha yang bisa di gunakan untuk membangun kembali usaha ketika iklim usaha kembali normal. Layaknya bara terpendam di dalam lahan gambut yang bisa terbakar musim kering. Dapat dikatakan bahwa, menjadi pekerja adalah satu langkah mendekati kemiskinan, sementara menjadi Enterpreneur adalah puluhan langkah sebelum jatuh kepada kemiskinan.

Kedua, menjadi Enterpreneur mampu meningkatkan ekonomi keluarga. Jika kita menjadi pekerja, tentu kita bisa meminta perusahaan menarik keluarga kita ke dalam perusahaan. Tetapi, itu hanya terjadi jika ada lowongan dan kita dekat dengan pemimpin perusahaan. Berbeda jika kita punya usaha sendiri, kita bisa merekrut dan mengangkat kondisi ekonomi anggota keluarga kita, serta bisa mengajarkan mereka menjadi enterpreneur dan memiliki kemandirian ekonomi sendiri.

BACA JUGA  Tips Memilih Pasangan | Bengkel Cinta

Ketiga, menjadi Enterpreneur artinya membangun negara. Sistem ekonomi di semua negara di dunia di sokong oleh para pengusaha. Semakin banyak pengusaha yang hidup didalam suatu negara, semakin kuat negara itu. Baik dari pengusaha kecil yang membuka kedai, kafe atau warteg, maupun pengusaha besar di sektor manufaktur.

Keempat, ajaran Agama seperti Islam mengajarkan para umatnya menjauhi kemiskinan. Bahkan Rasullullah SAW berkata bahwa berdagang atau Enterpreneur di zamannya adalah salah satu pintu Rezeki. Umar bin Khattab memarahi dan mengingatkan para sahabat yang bersantai-santai untuk kembali ke Pasar dan menggerakan ekonomi. Abdurahman bin Auf memonopoli pasar agar mampu menciptakan harga sewa yang murah, sehingga menekan laju inflasi. Logikanya, semakin banyak uang yang di miliki oleh masyarakat, maka semakin banyak Zakat, Sedekah dan Infak yang di berikan, maka semakin cepat pula pembangunan dan pemerataan kemakmuran yang terjadi dari dana tersebut.

Maka bisa di katakan bahwa menjadi seorang Enterpreneur lebih banyak kenikmatannya di bandingkan menjadi seorang pekerja. Tetapi, itu tergantung pilihan teman-teman untuk menempuh jalan yang berat untuk mencapai kemandirian Finansial. Atau memilih jalan yang mudah sebagai seorang karyawan namun penuh dengan resiko PHK.

 

Advertisement