Fenomena Foya-Foya | Citizen 4.0

0
14
Sumber Gambar : pixabay.com
Advertisement

Saat ini kita dibanjiri oleh konten-konten yang menunjukan kemewahan yang bersifat Foya-foya di Media Sosial. Sekarang pertanyaannya, apakah mereka yang menunjukan berfoya-foya itu merasakan bahagia seperti yang tergambar di Media Sosial tersebut?

Philip Brickman dan Donald T. Campbell menciptakan istilah dalam esai mereka “Hedonic Relativism and Planning the Good Society” (1971), menjelaskan mengenai Teori Hedonik Treadmill. Teori ini menunjukkan bahwa kekayaan tidak meningkatkan tingkat kebahagiaan.

Secara sederhana, teori digambarkan ketika kita lapar, kita Makan Nasi sehingga kita bahagia. Lalu, selanjutnya kita Makan Nasi lagi walau sudah kenyang. Maka bukan kebahagiaan, tapi kita malah akan merasa begah dan mual.

Sehingga, kekayaan pada awalnya akan membuat kita bahagia. Namun, ketika kita sudah memiliki kekayaan tersebut cukup lama, kekayaan tersebut tidak akan membuat kita bahagia lagi.

Penentu Kebahagiaan

Pertanyaan selanjutnya, lalu bagaimana kita bisa bahagia dengan maksimal? Kebahagiaan Maksimal bisa kita raih dengan tiga kondisi:

  • Pertama, kebutuhan dan keinginan kita mampu dipenuhi
  • Kedua, Lingkungan kita mendukung kita untuk menikmati kebutuhan dan keinginan kita. Tentu kita tidak akan merasa nikmat makan, ketika ada orang yang sekarat karena kelaparan duduk disamping kita.
  • Ketiga, adalah bersyukur atas hal-hal yang kita dapatkan.
BACA JUGA  Mengurai Kerumitan Masalah | Re-Talk

Dari penjelasan di atas maka kita tidak akan bahagia jika kita menghabiskan uang dengan berfoya-foya demi diri kita sendiri. Kita harus peduli dengan orang lain agar kita bisa merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak akan datang sepenuhnya ketika kita bahagia sementara orang lain menderita.

Advertisement

Kebahagiaan juga tidak akan datang jika kita bersikap Individualis. Karena pada dasarnya kita adalah mahluk sosial. Kita membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan kita dan berbahagia.

Para Ilmuwan juga menemukan bahwa menghabiskan uang untuk “Pengalaman Positif” lebih baik dari pada menghabiskan uang untuk “Barang.” Pengalaman Positif ini tidak terbatas kepada rekreasi ke tempat wisata. Karena Rekreasi, tidak akan merubah kondisi lingkungan kita yang bisa saja makin memburuk seiring waktu.

Pengalaman Positif yang lebih bermanfaat bisa berupa kegiatan Filantropi seperti membantu orang lain. Memperbaiki lingkungan alam, Beorganisasi dan membentuk gerakan dan Memperjuangkan keadilan dan kebenaran

Tentunya, semua usaha kita dalam mencapai kebahagiaan harus di tutup dengan rasa Syukur atas hal-hal yang kita miliki. Rasa Syukur ini akan semakin memaksimalkan rasa bahagia didalam diri kita.

BACA JUGA  Toxic Relationhsip Yang Melukai | Generasi Zet

Advertisement