Berjuanglah Sebelum Ajal Tiba

0
77
Sumber : www.pexels.com
Advertisement

Kadang kesulitan hidup hadir ditengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan. Kadang pula hadir kebosanan dan kebimbangan yang dilematis dalam hidup kita. Kita pula sulit untuk menentukan jalan yang kita ambil dan jalan yang kita tinggalkan. Kita juga sulit untuk melangkah maju menghadapi rintangan. Lalu, jika demikian terjadi, apakah kita harus diam dan menerima kenyataan. Atau melangkah maju mengambil sebuah pilihan. Yang kadang berat, namun harus dilakukan.

Cara termudahnya adalah dengan memisalkan, misalkan apabila ajal telah mendekat dan tiba diri ini telah tiba dipintu akhir kehidupan. Apakah yang akan kita pilih dalam keadaan yang demikian. Apa kita akan memilih sebuah jalan yang hanya memberi kebahagiaan, namun tidak mampu menjamin kehidupan setelahnya. Atau kita hadapi jalan yang sulit, penuh rintang yang akan memberikan bekas warna kehidupan.

Kadang kita berangan agar kebahagiaan dunia dapat kita seret ke liang peristirahatan. Padahal yang akan kita bawa akhirnya hanyalah tiga. Amal Jariah, Ilmu Bermanfaat dan Anak yang Solehah. Tak berbanggalah kita memiliki berjuta deposito. Tak berbangga juga kita memiliki rumah dan tanah. Jikalau pada akhirnya hanya sebuah petak sempit yang kita tinggali. Lambat laun pula, petak sempit itu akan ditambah penghuninya.

BACA JUGA  Bekerjalah Seperti Sebuah Gunung

Jikalau kita diberi sebuah pilihan, sebuah kesulitan dan sebuah musibah. Alangkah baiknya kita berfikir kembali. Ingatlah bahwa pilihan terberat adalah pilihan hidup penuh cobaan atau berpulang dengan sedikit perbekalan. Ingatlah bahwa kesulitan yang terberat adalah kesulitan di Akhirat, ketika buku amal kita amat tipis dan api neraka sangat panas. Ingatlah bahwa musibah terburuk, ketika seluruh aib dibuka di persidangan akhirat.

Jadi, jikalau kita merasa lelah, kesepian, kelaparan, bingung, sedih dan depresi. Ingatlah, hal itu belum seberapa dibandingkah dengan kondisi dimana panggilan Ajal berkumandang, namun diri belum memiliki apa-pun didalam buku amalnya.

Penulis beberapa kali bermimpi, sembari mungkin di ingatkan oleh Sang Pencipta. Dalam mimpi tersebut, nyawa penulis hendak dicabut. Penulis berteriak meminta mohon ampun akan penundaan waktu ajal. Sembari berharap dikembalikan ke dunia untuk menyampaikan satu atau dua patah kata yang mampu meringankan beban dosa penulis. Itu pula-lah yang mendorong penulis menyelesaikan sebuah artikel singkat ini.

Advertisement

Semoga sekelumit renungan ini mampu menghangatkan hati dikala dingin hujan malam februari. Semoga sekelumit renungan ini mampu mendinginkan hati dikala panas membara kemacetan dipagi hari. Semoga kita semua, mendapatkan kesempatan untuk mempersiapkan diri, menuju tempat peristirahatan terakhir. Semoga kita semua, mendapatkan kesempatan untuk memilih, sebelum semua pilihan tertutup dan kita hanya bisa menerima keputusan.

Advertisement