Re-Code Personal Branding ditengah Krisis Ekonomi : Pengenalan Dasar

0
66
Sumber : Pexel
Advertisement

PHK dan ancaman PHK merebak ditengah masyarakat. Para pekerja seakan bisa “dibuang” atau “disingkirkan” begitu saja oleh perusahaan. Kini banyak perusahaan beranggapan bahwa para pekerja sama saja satu sama lainnya sehingga mudah digantikan. Hukum ekonomi berlaku, ketika suatu hal cukup banyak dipasaran maka harga akan jatuh. Keunikan adalah harga mati apabila para pekerja ingin bertahan di pusaran bursa kerja. Kini Teori Personal Branding hadir untuk membantu pekerja untuk membangun keunikan. Keunikan ini akan membuat harga mereka dimata perusahaan menjadi cukup mahal. Sehingga mereka menjadi sulit di “buang” atau “disingkirkan” begitu saja.

 

Semuanya Memiliki Brand

Setiap orang memiliki identitas sebagai akibat usaha masyarakat membedakan satu individu dengan yang lainnya. Namun, ada yang menghendaki identitas tersebut dan ada yang tidak sengaja terindentitaskan. Semisal ada identitas sebagai seorang yang membosankan atau kaku, Identitias itu diberikan oleh masyarakat bagi orang itu. Identitas itu menjadi sebuah label di bagi orang tersebut yang awalnya polos kosong. Tanpa kita sadari, kita semua sudah di labeli oleh orang-orang di sekitar kita dan acapkali sulit merubah identitas tersebut. Maka artikel ini tidak berniat “membangun personal branding” namun “merubah personal branding”.

BACA JUGA  Cita-cita Ekonomi Indonesia

 

Personal Brand, Sebuah Pedang Bermata Dua

Advertisement

Dari tukang sapu di jalan raya hingga seorang eksekutif di perusahaan BUMN memiliki label mereka masing-masing. Mereka semua di persepsi dan dinilai dari luar oleh Perusahaan, Masyarakat dan bahkan Negara. Nilai mereka berbeda dan hal tersebut adalah alamiah, karena manusia selalu menilai sebuah nilai guna sesuatu bagi diri mereka, tak terkecuali orang lain bagi diri mereka.

Sangat merugikan apabila kita mendapatkan label yang kita tidak harapkan, yang bersifat negatif. Begitu pula sebaliknya, ketika di anggap sebagai seorang yang unik dan mengundang produktifitas bagi organisasi. Dalam badai apapun kita dapat bertahan didalam organisasi dan kalau-pun organisasi hancur, kita mampu dengan mudah mencari pekerjaan dengan “label” diri didalam jaringan yang kita miliki.

Namun sebagian besar umumnya mendapatkan label pekerja biasa. Label tersebut membuat para pekerja dianggap sebagai orang yang sama seperti yang lainnya. Para pekerja dianggap bagaikan buih dilautan atau jerami di tumpukan. Maka dari itu kita harus berubah dengan menciptakan keunikan-keunikan yang bisa mendorong orang lain tertarik kepada diri kita.

 

Dasar Personal Branding

Untuk menciptakan personal brand atau label diri, ada beberapa pemahaman penting yang harus dimiliki. Pertama, Personal Branding tidak pernah bertujuan untuk membuat diri kita menjadi artis. Kita tidak perlu terkenal karena unik. Bahkan terkadang hanya perlu sedikit orang yang memahami keunikan kita. Yaitu orang-orang yang berhubungan dengan pekerjaan kita. Tidak perlu semua orang tahu keunikan kita, bahkan bisa berbahaya karena akan memicu permusuhan, penjiplakan atau bahkan usaha menjatuhkan diri kita.

BACA JUGA  Kongo : Enam Ranger Penjaga Hutan Tewas

Kedua, kita bisa memperkuat keunikan hanya dengan karya atau pembuktian. Personal Branding tidak dapat dibayangkan seperti kejadian membangun seribu candi dalam semalam dengan bantuan jin dan setan seperti Raden Bandung Bondowoso. Personal Branding adalah pembangunan Candi Borobudur yang dilangsungkan selama 75 – 100 tahun. Personal branding membutuhkan balok-balok karya untuk dapat menjulang kelangit.

Ketiga, Personal Branding membuat dapat membuat identitas kita tahan isu dan gossip. Kerentanan diri tanpa personal branding persis seperti seorang pengusaha yang baru saja naik daun akibat startupnya. Bahkan ia sampai diangkat menjadi staff khusus milenial presiden. Namun, masyarakat langsung berpersepsi negatif ketika ada sebuah proyekan yang digelontorkan dan ia terlibat didalamnya. Untuk membendung emosi masyarakat, maka ia mengundurkan diri dari staff khusus milenial presidenan.

Personal branding dapat digambarkan sebagai Candi Borobudur. Gempa Jogja di tahun 2006 mengakibatkan kompleks Candi Sewu runtuh, namun Borobudur tetap berdiri tegak melawan langit. Memang proses pembangunan Borobudur lebih sulit dari Candi Sewu, namun ingatlah, setiap yang sulit dibangun akan semakin sulit runtuh. Kita tentu ingin karir kita bertumbuh dengan pijakan yang kuat, alih-alih pondasi yang lemah.

BACA JUGA  Rangkuman Berita Nasional 2 Januari 2021

Keempat, Personal Branding perlu target audiensi. Tidak semua orang harus memahami dan mengenal diri kita. Namun, orang-orang penting dalam karir kita harus mengenal baik diri kita. Mereka akan menjadi penentu kesuksesan diri kita. Orang penting ini adalah atasan kita, kolega yang secara langsung berkaitan dengan pekerjaan kita atau orang di luar perusahaan yang berkaitan dengan nasib promosi kita. Kita harus mampu membangun “siapa diri kita” dan “apa yang kita miliki” di kepala mereka masing-masing.

 

___

Selanjutnya akan dijelaskan variabel personal branding dan bagaimana membangun variabel itu dalam diri kita. Tulisan ini akan berlanjut di artikel “Re-Code Personal Branding ditengah Krisis Ekonomi : Kopetensi dan Jaringan” yang terbit pada Rabu, 13 May 2020.

Advertisement