Wabah Corona : Serangan Banjir Informasi dan Hoaks

0
92
Sumber Gambar : www.pexels.com

Era mileial di Indonesia melenial di Indonesia merupakan sebuah peristiwa yang unik. Era ini diawali dengan hadirnya reformasi dalam perpolitikan di Indonesia, bertumbuh dan meratanya kekuatan ekonomi dalam negeri, munculnya kesadaran sosial dimasyarakat disertai oleh perkembangan teknologi informasi. Seluruh momentum ini bersatu melahirkan sinergisitas yang mewarnai Indonesia saat ini. Era ini menuntut keterbukaan informasi sebagai sebuah tuntutan Sistem Pemerintahan yang Baik (Good Governance).

Namun, keterbukaan informasi berakibat munculnya fenomena banjir informasi. Dimana setiap orang mampu mengutarakan pendapatnya dan seakan menjadi seorang pakar bidang (influencer). Padahal banyak dari mereka tidak pernah menjalani pendidikan di bidang tersebut. Contohlah mengenai fenomena Virus Corona, setiap orang berpendapat mengenai cara penangkalan virus tersebut. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kekebalan tubuh masyarakat Indonesia diatas manusia normal. Tetapi kenyataannya, pendapat yang tidak sesuai ilmu medis tersebut terbantah setelah WNI terbukti mampu tertular virus tersebut dari warga Jepang.

Kita dapat mengamati bahwa fenomena banjir informasi ini cukup menarik karena fenomena inilah yang akan mengawali fenomena hoaks. Contohlah ketika fenomena WNI tertular Virus Corona ini terjadi, beramai-ramai warga Indonesia menshare berita tersebut secara gotong royong di media sosial. Hasilnya adalah munculnya bibit-bibit kepanikan massal dimana beberapa dari mereka pergi ke pasar swalayan atau agen penjualan untuk membeli bahan pokok. Seakan-akan kejadian ini akan mengawali isolasi yang terjadi di Wuhan. Anggaplah informasi ini bergulir bak bola salju dan muncul berita hoaks satu demi satu ikut meramaikan jagad banjir infomasi seperti Pemilu Presiden 2019 lalu. Maka kepanikan massal akan terbentuk sempurna dan pembelian massal atas bahan pangan terjadi. Jika terus berlanjut, hal tersebut akan mengawali krisis pangan (karena harga pangan akan melonjak). Belum lagi bursa saham (IHSG) akan ambruk akibat ketakutan para pengusaha dan investor dalam negeri. Ambruknya bursa saham akan mengawali krisis finansial. Lalu krisis di pasar modal ini akan mengawali krisis ekonomi karena ekonomi Indonesia kekurangan modal. Krisis ekonomi akan menimbulkan hilangnya kepercayaan kepada pemerintah dan akhirnya adalah perpecahan bangsa.

Tentu kita berpendapat bahwa hal ini tidak akan mungkin terjadi, karena tingkat pendidikan di Indonesia yang relative tinggi. Namun, hal ini bukan demikian adanya karena ada fenomena rasionalitas kolektif yang terjadi diantara masayarakat. Rasionalitas kita (akal pikir) akan berkata bahwa kondisi Indonesia tidak seburuk China dalam menghadapi masalah Virus Corona. Namun, hal tersebut dapat berubah ketika kita melihat segerombolan orang ramai-ramai membelanjakan uangnya untuk membeli bahan pangan karena khawatir akan terjadi isolasi seperti di Wuhan. Kita tentu akan ikut bergerombol membeli bahan pangan. Alasan kita bisa karena mungkin saja mereka benar bahwa Jakarta akan menghadapi konsisi isolasi yang sama seperti di Wuhan. Atau kita khawatir walau virus ini tidak menyebar, gerombolan ini menghabiskan bahan pangan sehingga kita tidak mendapatkannya. Apapun alasannya, rasionalitas kolektif akan mematikan akal rasionalitas kita secara personal. Dan rasionalitas kolektif bekerja layaknya gerakan massa. Gerakan massa adalah sebuah kelompok yang terbentuk akibat keputusan kolektif yang acapkali tanpa pentimbangan rasional.

BACA JUGA  5 Aktivitas Sehari-hari Yang Merusak Earphone

Maka saat ini kita dihadapkan kepada kondisi dilematis antara memilih mengurangi akses atau membiarkan akses informasi yang akan berdampak kepada jumlah berita yang menyesatkan (hoaks). Jika kita memilih mengurangi akses informasi, maka dampaknya adalah monopoli informasi oleh pemerintah lewat media-media besar yang dikontrol oleh pemerintah. Hal ini sama saja kita kembali ke masa Orde Baru.

Jika kita memilih untuk membiarkan akses informasi sama seperti sekarang, tentu kita akan kesulitan menentukan mana berita yang layak kita percayai dan mana berita yang tidak layak. Maka perlulah suatu metode atau pendekatan demi menghasilkan analisis serta kesimpulan. Disini penulis menawarkan tiga cara praktis dalam menganalisis berita.

Bayangkan proses pemurnian air di PT PAM. Ketika banjir air datang, air masuk kedalam berbagai saringan yang bertingkat-tingkat. Dari proses pengendapan hingga penjernihan. Banjir informasi yang datang kepada kita akan melewati saringan pertama yaitu analisis ahli, lalu analisis framing dan terakhir adalah analisis antitessa. Berikut penjelasannya ;

  1. Pendekatan Analisis Ahli

Dalam menghadapi Virus Corona, tak perlulah kita menjadi ahli mikrobiologi atau bioteknologi agar mampu menganalisis masalah tersebut. Kita cukup perpegang kepada pendapat ahli di bidang tersebut. Namun, saat ini kita mendapati berbagai ahli yang tersebar di berbagai penjuru tanah air. Apabila ada banyak ahli yang memicarakan hal yang sama, maka kita dapat menentukan derajat keahliannya dengan melihat kasus-kasus yang ia pernah tangani sebelumnya.

BACA JUGA  Iran : Garda Revolusi Iran Menguji Coba Rudal dan Drone Jarak Jauh

 

Misalnya ahli dalam penyakit ISPA berpendapat mengenai cara menghadapi Virus Corona berbanding dengan seorang dokter umum. Tentu pendapat yang kita gunakan adalah pendapat ahli penyakit ISPA karena ia menjelaskan masalah yang sesuai bidang keahliannya dan lebih spesifik.

 

  1. Pendekatan Analisis Framing

Analisis Ahli telah mampu menyaring informasi yang layak karena disertai oleh ahli. Namun, kita mendapati bahwa terkadang ada dua berita yang mencatut nama ahli. Dan berita ini bisa berseberangan satu sama lain. Maka disinilah analisis framing dimulai.

 

Analisis framing ini berpendapat bahwa sebuah berita akan disampaikan berdasarkan kepentingan atau “bingkai” yang ditentukan oleh pembuat berita. Sebuah kejadian kecelakaan bisa menjadi berbeda ketika diceritakan oleh orang yang berbeda. Karena kepentingan mengkritik pemerintah, wartawan menulis akibat kelalaian dalam pemasangan marka jalan. Karena kepentingan pejalan kaki, wartawan menulis, tidak adanya pembatas yang memisahkan jalan raya dan trotoar sehingga membahayakan pejalan kaki. Kepentingan itulah yang akan kita analisis dalam menentukan apakah berita ini penuh dengan kepentingan atau disampaikan secara apa adanya. Maka kita harus memahami afiliasi pembuat berita yang akan menentukan kepentingan berita tersebut.

 

Contoh yang paling terbaru bisa kita lihat dari pemberitaan media-media Amerika atas Virus Corona yang cukup intensif. Walau tidak ada pemalsuan dalam pemberitaan, pemberitaan yang berulang (intensif) tersebut menciptakan kepanikan global. Maka hal tersebut membuat China menuding Amerika berlebihan dalam pemberitaan Virus Corona. Jika kita amati, tentu bisa kita analisis bahwa terdapat kepentingan Amerika untuk melemahkan perekonomian China lewat pemberitaan ini. Karena Amerika tidak bisa memenangkan persaingan lewat perang dagang, maka pemberitaan Virus Corona adalah kesempatan emas untuk menyerang China.

 

  1. Pendekatan Analisis Antithessa

Setelah melalui analisis framing, kita dapati bahwa berita yang kita baca memiliki kepentingan-kepentingan tertentu. Tentu saja tidak mungkin kita langsung menjadikan berita tersebut sebagai pijakan. Maka analisis selanjutnya masuk kedalam analisis antithesa.

 

Analisis Antithesa adalah sebuah analisis filsafat yang mengkontraskan sebuah pendapat dengan pendapat yang selainnya. Analisis antithesa bisa kita lakukan dengan mencari berita yang bersebrangan dengan berita yang ada. Jangan terkelabui oleh jumlah berita yang di ulang (ingat kasus Virus Corona yang di ulang-ulang oleh Amerika), tetapi berfokus kepada isi berita yang bertentangan. Kita hadapkan dua berita yang saling bertentangan itu dan ide-ide yang terdapat didalamnya. Kita bandingkan ide yang paling logis, kuat dan akurat.

BACA JUGA  Amerika : Peralihan Massal Ke Aplikasi Signal Setelah WhatsApp Merubah Kebijakan Privasi

 

Contohnya ketika terdapat berita mengenai pendapat ahli statistika Amerika menyampaikan bahwa Virus Corona sudah sampai di Indonesia berdasarkan analisisnya. Tentu kita kontraskan dengan pendapat pemerintah RI yang menyampaikan tidak ada indikasi penyebaran virus tersebut. Kedua belah pihak sama-sama menggunakan ahli. Di pihak Amerika terdapat ahli Statistika, dipihak Indonesia terdapat ahli dari Departemen Kesehatan. Kedua belah pihak saling bersebrangan secara kepentingan (analisis framing), Amerika berkepentingan memperparah kondisi ekonomi Asia dan Indonesia berusaha mempertahankan kepercayaan Investor. Maka data merekalah yang kita andalkan untuk saling di “pertarungkan”.

 

Dari data ini diketahui bahwa Pihak Indonesia telah mengontrol penerbangan internasional dan menyediakan 100 rumah sakit diseluruh penjuru tanah air menghadapi Virus Corona. Sehingga jika terdapat indikasi penyakit ini, pemerintah akan segera mengetahuinya. Sementara data analisis statistika Amerika hanya berdasarkan prakiraan sebaran dan transportasi. Tentu, kita masih dapat mempercayai pemerintah yang secara riel terjun ke lapangan. Sementara kita agak sulit mempercayai seorang ahli statistik yang hanya berdasarkan data terbatas yang ia dapatkan. Namun, upaya penjagaan akan tetap kita tingkatkan (tidak sepenuhnya pecaya kepada pemerintah). Karena inkubasi virus umumnya terjadi setelah 14 hari, sehingga akan ada keterlambatan pemerintah dalam pendeteksiannya.

Diharapkan ketiga cara analisis berita ini dapat memberikan pemecahan kepada generasi milenial yang menghadapi banjir Informasi yang berpotensi membuat kita menelan berita hoaks. Diharapkan ketiga analisis ini dapat menyaring informasi yang beredar di masyarakat. Sehingga kita semua tetap berpijak kepada informasi yang tepat.


Note :

Artikel ini sebelumnya sudah memenangkan juara ke 2 lomba Perbanas Journalistic Week (PJW) 2020 dengan tema “Journalism in Industry 4.0” 10 Maret 2020 atas nama Aditya Santoso yang sebelumnya dikirim dengan judul Fenomena Banjir Informasi, Hoaks dan Cara Menghadapinya.