Stress Pada Remaja Part 2 | Generasi Zet

0
15
Sumber Gambar : www.pexels.com
Advertisement

Pembuka

Teman-teman sudah memahami sekilas tentang Depresi dan dari artikel sebelumnya sudah dijelaskan mengenai hukum harapan. Kali ini akan dilanjutkan hukum-hukum lainnya dalam menghadapi Depresi

Hukum Kebalikan

Ada sebuah hukum yang disepakati oleh banyak Filsuf. Hukum ini bernama Hukum Kebalikan. Hukum Kebalikan menjelaskan bahwa:

“Semakin lari dari penderitaan, semakin menderita diri kitaSemakin dekat pada penderitaan, semakin bahagia diri kita”

Misalnya

Jika kita lari dari sebuah pekerjaan. Muncul dalam hati akan bayang-bayang rasa takut bertanggungjawab. Bahkan juga rasa takut gagal akibat kita menunda pekerjaan. Lalu rasa teror ketika menghadap orang yang memberi amanah.

Berbeda ketika kita berbesar hati menderita dan menyelesaikan pekerjaan. Rasa lega akan hadir dalam hati. Disertai rasa bangga yang akan mewarnai sanubari. Selain itu kita akan dihargai karena tugas itu tuntas dan selesai.

Advertisement

Maka ketika ada tantangan hadir, ketakutan menyeruak dan rasa ragu muncul.

Hadapi, hadapi dengan besar hati, dengan sekuat diri dan dengan gagah berani. Setelah semua selesai, kita akan kaget dan bangga atas diri ini. Jangan lari, karena lari akan berakhir dengan menyakiti diri sendiri.

BACA JUGA  RE-PODCAST: #EntrepreneurMuda​ E09 - Menjadi Tunanetra Tidak Menghalangiku Membangun Usaha

Hukum Berfikir Positif

Hukum yang saya jelaskan berikutnya adalah hukum Befikir Positif. Para Ilmuwan menunjukan bahwa manusia cenderung pesimis dibanding optimis. Hal-hal yang bersifat negatif akan selalu hadir untuk membanjiri pikiran.

Pikiran negatif ini menenggelamkan dan membungkam pikiran-pikiran positif. Sifatnya layaknya phobia yang sifatnya irrasional yang hadir untuk mencela diri dan mencela orang lain. Pikiran negatif juga dapat mendorong kita melakukan keburukan.

Ayo hadapi pikiran negatif ini, beranikan diri dan jawablah semua pikiran negatif yang hadir. Jika kita punya seribu alasan untuk berfikir negatif. Maka ciptakan seribu satu jawaban atas pikiran itu. Jika kau tak tahu jawabannya. Bertanyalah, bertanya kepada mereka yang berhasil menjawabnya. Carilah jawaban, ungkaplah kebenaran.

Jangan lari, jangan memendamnya, jawablah semua keraguan mu. Kelak jawaban-jawaban itulah yang akan mendewasakan mu.

Hukum Keterbatasan

Hukum berikutnya adalah hukum keterbatasan, ada sebuah kisah yang menggambarkan hal ini:

Tersedu-sedu seorang pawang gajah bercerita. Para Gajah yang ia rawat, gagal selamat dari sebuah kebakaran besar.

Hari itu, asap berkobar dari dalam kandang. Sang pawang segera membuka pintu kandang. Ia berharap para hewan segera berlari keluar. Namun, para hewan tak kunjung pergi. Mereka terbiasa dituntun keluar kandang, sehingga tetap menunggu sang Pawang kembali. Hingga akhirnya meregang nyawa didalam kandang yang terbuka

Sekarang, kita hidup dalam sebuah kesulitan. Pasti ada tantangan didepan mata yang menyilaukan pandangan. Pasti ada seribu alasan yang berusaha menghentikan langkah. Menciptakan ketidakyakinan dalam diri dan mendorong rasa takut akan sakit dan gagal.

BACA JUGA  Fenomena Foya-Foya | Citizen 4.0

Tapi, semua batasan itu kadang kala hanya bersifat imagi, tembuslah, maju dan coba. Jangan-jangan, kesulitan itu hanya sebuah alasan. Alasan agar kita diam didalam kandang yang nyaman. Tanpa tahu bahwa api telah menjalar.

Ayo keluar, maju, tembus dan rasakan udara segar! Jangan biarkan stigma dan anggapan buruk menghentikan langkah mu. Cobalah, cobalah, pasti ada jalan keluarnya

Advertisement