RE-PODCAST: #ResensiBukuBagus E01 – Resensi Buku How Democracies Die

0
58
Advertisement

Buku Bagaimana Demokrasi Mati menjadi perbincangan publik setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berfoto dengan buku tersebut. Netizen terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama mengatakan bahwa itu merupakan pesan politik, sementara lainnya menyatakan tidak mengandung pesan apapun. Mari kita telisik lebih dalam mengenai buku kontroversi yang sempat menggemparkan jagad maya di Indonesia.

Sang Pengarang Buku

Buku ini di karang oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Dari wikipedia dijelaskan Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt adalah pengajar di Universitas Harvard. Studi Steven Levitsky banyak membahas partai politik, sistem partai, otoriterisme, demokrasi dan kelemahan institusi informal di Amerika Latin. Sementara Ziblatt berfokus dalam perbandingan politik, demokrasi dan demokratisasi di Eropa Barat.

Steven Levitsky telah mengarang empat buku selain buku Bagaimana Demokrasi Mati. Diantaranya Kompetitif Otoriterisme (bersama Lucan A. Way), Institusi Informal dan Demokrasi, Demokrasi Argentina dan Transformasi Partai Buruh di Amerika Latin.

BACA JUGA  Tips Memilih Pasangan | Bengkel Cinta

Sementara Ziblatt telah mengarang dua buku selain buku Bagaimana Demokrasi Mati. Diantaranya Partai Konservatif & Kelahiran Demokrasi dan Struktur Pemerintahan Negara.

Isi Pokok Buku

Isi buku setebal lebih dari 290 halaman ini hanya membahas dua teori utama. Teori pertama adalah teori mengenai empat indikator kunci perilaku otoriter. Empat kunci tersebut antara lain : 1) penolakan atas aturan main demokratis, 2) meyangkal legitimasi lawan politik, 3) anjuran kekerasan, 4) membatasi kebebasan sipil lawan dan media.

Advertisement

Teori kedua adalah teori mengenai norma fundamental (dasar, penting dan inti) untuk menjaga fungsi demokrasi. Norma tersebut adalah 1) saling toleransi dan 2) sikap menahan diri secara kelembagaan.

Banyak data-data yang melegitimasi pemaparan kedua teori ini. Banyaknya data-data pendukung tersebut membahas dari perpolitikan Eropa, Amerika Latin hingga Amerika Serikat. Data-data pendukung di kemas secara rinci, ringkas dan padat.

Alasan Generasi Milenial dan Generasi Z Membaca Buku Ini

Generasi Mileial dan Generasi Z wajib memiliki kesadaran dan kepekaan politik yang kuat. Buku ini dapat memberikan informasi sikap tokoh politik yang semakin mendekati sikap otoriter. Levitsky dan Ziblatt membantu kita untuk waspada terhadap penurunan kualitas demokrasi menjadi otokrasi.

BACA JUGA  RE-PODCAST: #EntrepreneurMuda E04 - Membangun Usaha / Bisnis F&B di Masa Pandemi

Alasan lainnya adalah buku ini mengajarkan salah satu etika dasar dalam politik. Sikap toleransi dan menahan diri secara kelembagaan adalah hal yang harus di miliki tokoh politik Indonesia. Tentunya akan ada pemimpin-pemimpin baru yang lahir dari Generasi Milenial dan Generasi Z. Sikap-sikap ini wajib di pelajari untuk menjadi bekal pegangan ketika memimpin Indonesia.

Namun, ada banyak penjelasan yang belum di sampaikan dalam artikel ini. Penjelasan lebih rinci akan di bahas melalui Podcast Reaksi.id. Silahkan mendengarkan penjelasan teori tersebut di Podcast kami. Terimakasih atas perhatiannya dan sampai jumpa di resensi buku bagus berikutnya.

 

Advertisement