RE-PODCAST: #ResensiBukuBagus E02 – Dua Buku Komunikasi Recommended Part 2

0
45
Advertisement

Kali ini redaksi akan membahas dua buku paling di rekomendasikan bagi kalian yang ingin berkomunikasi secara efektif. Kemampuan komunikasi sendiri sangat penting karena di pakai di berbagai profesi, dalam bermasyarakat, berkeluarga dan tentunya dalam mencari pasangan hidup.

Dalam artikel sebelumnya redaksi sudah membahas Cara Berbicara Dalam Setiap Situasi karangan Emma Sargent & Tim Fearon. Buku trend dan bagus yang akan kita bahas kali ini adalah buku Berbicara itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang.

Profil Penulis Oh Su Hyang

Sedikit sekali data mengenai profil penulis Oh Su Hyang di internet. Profil hanya tercantum di buku berupa Dosen dan Pakar Komunikasi di Korea Selatan. Hal ini kemungkinan besar dikarenakan nama Oh Su Hyang menggunakan huruf hangul.

Buku ini membicarakan megenai Seni. Sebagai acuan untuk pembaca bahwa seni berbeda dengan ilmu. Seni bersifat teknis, seperti seni berpanah. Sementara ilmu bersifat teoritik, seperti seni berpanah yang mengandung ilmu fisika berupa gerak parabola. Maka buku ini sifatnya sangat teknis dalam memandu pembaca.

BACA JUGA  RE-PODCAST: #ResensiBukuBagus E01 - Resensi Buku How Democracies Die

Sekelumit Isi Buku Berbicara itu Ada Seninya

Seni dalam buku ini yang paling membantu kita dalam berkomunikasi adalah seni bercerita. Dalam buku ini di jabarkan empat faktor cerita yang bagus yaitu tema, konflik, simpati dan solusi. Hal ini bisa kita dapati dalam cerita lokal seperti bawang merah dan putih. Temanya adalah pembalasan bagi mereka yang dzolim. Konflik disuguhkan antara bawang merah dan bawang putih. Simpati muncul lantara melihat bawang putih di sakiti. Dan solusi muncul tatkala bawang merah dan ibunya mendapatkan azab atas perbuatan dzolimnya.

Advertisement

Pembicara yang baik adalah pendengar yang baik. Oh Su Hyang menyadari hal tersebut dan memasukan rumus mendengar dalam bukunya. Mendengar menjadi salah satu komunikasi antar pribadi yang efektif. Dan rumus mendengar yang di tawarkannya adalah THR (Tanya, Hargai dan Reaksi). Kita bertanya akan hal yang menarik dari lawan bicara kita, lalu kita hargai setiap pendapat lawan bicara kita serta kita iringi reaksi yang positif terhadap pendapat lawan bicara kita.

BACA JUGA  Phone Snubbing | Generasi Zet

Hal menarik lainnya dari buku ini adalah pemecahan masalah bagi kawan-kawan yang menghadapi trauma berbicara. Trauma ini sendiri di pecahkan lewat persepsi positif, menghargai diri, menguasai materi pembicaraan dan sugesti positif. Bahkan buku ini juga membahas cara kita menghadapi kepribadian introvert, yang merupakan pribadi yang menyukai diam.

Masih banyak seni berkomunikasi yang di tawarkan dalam buku ini. Kelebihan buku ini dibanding buku yang kami bahas sebelumnya (Cara Berbicara Dalam Setiap Situasi karangan Emma Sargent & Tim Fearon) adalah salah satu fokus buku ini untuk menyembuhkan traumatik komunikasi. Buku ini sangat cocok untuk kawan-kawan yang pernah mengalami traumatik dan kegagalan dalam komunkasi, namun bertekat kuat untuk menyembuhkannya secara mandiri.

RE-PODCAST: #ResensiBukuBagus E02

Buku ini telah di bahas dalam RE-PODCAST: #ResensiBukuBagus E02. Dalam Podcast kali ini kami membahas dua buku sekaligus yaitu buku Cara Berbicara Dalam Setiap Situasi karangan Emma Sargent & Tim Fearon dan Berbicara itu Ada Seninya karangan Oh Su Hyang. Penjelasan resensi lebih detail dan perbandingan kelengkapan buku dapat mendengarkan RE-PODCAST: #ResensiBukuBagus E02.

BACA JUGA  Mahalnya Konsentrasi di Era 4.0 | Generasi Zet

Advertisement