Penolakan atau Denial | Generasi Zet

0
14
Sumber gambar: pixabay.com
Advertisement

Sebelum berlanjut membaca artikel, ada baiknya teman-teman menjawab pertanyaan berikut:

  • Apa teman-teman suka lari dari sesuatu masalah?
  • Apakah teman-teman menyadari bahwa banyak masalah terjadi disekitar kamu, namun teman-teman beranggapan bahwa semua baik-baik saja?

Jika banyak jawaban “ya”, kemungkinan besar teman-teman dalam perilaku yang dinamakan Denial atau Penolakan pada Kenyataan. Yaitu, teman-teman mengabaikan fakta atau kenyataan masalah yang terjadi didepan mata. Contohnya

  • Saat ini teman-teman sedang diberikan tugas oleh dosen atau guru, lalu teman-teman malah bermain-main seakan tidak memiliki kewajiban.
  • Atau situasi bahwa besok akan ada ujian, entah Ujian dadakan, Ujian Semester, Ujian praktek dan lainnya. Namun, teman-teman malah bermain game semalaman dan baru belajar ketika sudah sampai di kelas.
  • Mungkin pula ada masalah dalam hubungan percintaan teman-teman, namun teman-teman berperilaku seakan-akan tidak memiliki masalah sama sekali.

Masih banyak contoh perilkau denial, pada intinya teman-teman hendak menolak kenyataan pahit yang terjadi didepan mata.

Penjelasan Denial

Denial atau Penolakan Kenyataan terjadi akibat reaksi pikiran atau psikologis untuk menstabilkan emosi. Misalnya ketika seseorang mendapati orang terdekatnya meninggal, pastilah ada rasa tidak percaya karena baru saja bercengkrama beberapa jam yang lalu. Reaksi ini normal, karena merupakan usaha kita untuk berfikir sehat dan agar tidak mudah percaya dengan suatu kebohongan.

BACA JUGA  RE-PODCAST: #EntrepreneurMuda​ E10 - SD/SMP Mulai Usaha, SMK Jadi CEO, Sekarang Usaha Kuliner

Tetapi Denial bisa menyadi penyakit mental apabila kenyataan pahit didepan mata, namun kita tidak mau menerima hal itu dan bahkan menciptakan kebohongan-kebohongan untuk orang lain.

Jangan pernah mempertahankan status Denial atau Penolakan, alasannya;

Advertisement
  • Pertama, hal itu tidak akan merubah situasi apapun. Kalau-pun kita menolak bahwa kita harus bertanggung jawab, kita pasti akan tetap bertanggung jawab walau kita terus menolak hal tersebut.
  • Kedua, hal itu akan menyulut kebohongan-kebohongan lain. Ketika kita terus menyangkal, tentu akan ada banyak kebohongan yang kita lahirkan untuk memvalidasi sikap penolakan kita. Kebohongan-kebohongan ini akan terus mengikat kita dan menghantui kita.
  • Ketiga, melahirkan masalah lebih besar dikemudian hari. Tentu ketika kita terus berbohong tanpa akhir, akan ada titik dimana kebohongan kita terungkap dan memicu masalah yang lebih besar dari yang awalnya terjadi.

Pemecahan masalah

Disini team Reaksi.id sudah menyusun sedikit cara memecahkan masalah seputar perasaan denial

Pertama, cari yakinlah bahwa kamu benar-benar berperilaku Denial

misalnya seperti: lari dari masalah, berangapan bahwa tidak ada masalah, memalsukan identitas atau status atau tidak menerima sebuah kenyataan.

BACA JUGA  Cinta Yang Tak Terbalas | Bengkel Cinta

Kedua, cari alasan terkuat mengapa kamu berperilaku demikian:

  • Kenapa kamu lari dari masalah?
  • Atau, kenapa kamu menyembunyikan masalah? Atau kenapa kamu terus berbohong?

Intinya, cari alasan mengapa kamu terus menerus berperilaku Denial.

Ketiga, hadapi alasan itu:

  • Sadari bahwa kamu tidak akan bahagia jika kamu terus lari dari masalah.
  • Bahkan kamu akan kesulitan jika kamu terus menyembunyikan masalah, lalu masalah itu bertambah besar dan akhirnya menyakiti diri mu dan orang yang kamu cintai.
  • Bahkan bisa jadi, kebohongan yang kamu sembunyikan terus bertambah dengan kebohongan-kebohongan lainnya. Lalu terbongkar ketika semua kebohongan itu sudah bertumpuk-tumpuk banyaknya.

Jawab alasan-alasan yang menguatkan kamu berperilaku denial. Karena terus menerus mempertahankan perilaku itu, tidak ada baiknya.

Keempat, eksekusi

Memang sulit mengeksekusi sesuatu yang telah kamu sembunyikan, tunda dan hindari selama ini. Tapi yakinlah bahwa lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Mungkin kamu membutuhkan bantuan teman atau keluarga ketika kamu harus menghadapi hal ini.

Carilah sahabat terbaik atau keluarga mu yang paling pengertian sebelum kamu menghadapi hal yang sangat berat ini. Minta dukungan mereka dan yakinkan diri mu bahwa kamu bisa menghadapinya.

BACA JUGA  RE-PODCAST: #ResensiBukuBagus E04 - Seni Mengatasi Depresi dan Coping With Depression

Advertisement