Mencari Yang Terbaik atau Menerima Yang Sudah Ada | Bengkel Cinta

0
26
Sumber Gambar : pixabay.com
Advertisement

Dalam sebuah hubungan, rasa kecewa kerap menghampiri. Melukai hati dan menggoyahkan hubungan. Para anak muda yang masih dalam proses penetapan pasangan tentu mudah goyah. Lalu terbesit untuk mencari yang lain, seseorang yang mungkin lebih sempurna.

Tetapi, apakah itu keputusan yang tepat, ataukah itu merupakan hal yang gegabah? Mari kita membahas masalah mencari yang lebih baik atau menerima yang ada.

Menciptakan standar

Ketika konflik terjadi dalam sebuah hubungan, lantas goyah dan muncul godaan untuk berpindah hati. Tentu, kebimbangan hadir mempertanyakan ketepatan sikap ini. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, ada sebuah standar dalam memilih pasangan.

Standar itu antara lain :

  1. Tingkat Kedewasaan Emosional
  2. Kemampuan Ekonomi Pasangan Kita
  3. Tingkat Kedewasaan dalam Beragama
  4. Dan Kenyamanan Secara Emosional

Tentu ketika kita tergoda untuk mencari yang lain, tidak serta merta menggunakan pertimbangan emosional belaka.

Banyak teman-teman yang awalnya bersama dengan orang yang Dewasa, Mapan dan Relius, memutuskan untuk menyudahi hubungan hanya karena faktor emosi belaka. Akhirnya menyesal di kemudian hari karena sulit mendapatkan orang yang sama baiknya.

Advertisement
BACA JUGA  Pahami Hukum Kebalikan Untuk Sukses | Re-Talk

Menghadapi Konflik

Salah satu permasalah hubungan asmara adalah konflik. Konflik sejatinya adalah usaha untuk saling berkompromi dan mendewasakan diri satu sama lain. Tetapi, konflik bisa bersifat destruktif jika ditangani dengan emosional, perbedaan pendapat akan semakin melebar dan menciptakan rasa sakit yang mendalam.

Tentu ada cara dalam menghadapi konflik:

Pertama, di perjelas terlebih dahulu permasalahannya dan kedua belah pihak harus jujur akan keberatan-keberatannya.

Biasanya para wanita cenderung sulit mengungkap masalahnya, baik karena malu atau ia tidak memahami gemelut hatinya. Sehingga para pria harus bersabar dan membantu para wanita mengurai benang kusut dalam hatinya.

Kedua, di bangun standar atau kesepakatan bersama mengenai hasil pemecahan masalah.

Misalnya wanita merasa prianya tidak mampu memahaminya. Maka di buat standar, bagaimana keinginan si wanita agar merasa di pahami. Beri ia opsi, seperti memberikan waktu tertentu untuk interaksi.

Berikan juga pengertian dan keberatan jika sang wanita meminta perhatian berlebihan, karena tentunya Sang Pria juga memiliki kebutuhan waktu untuk bekerja dan menyendiri beristirahat.

BACA JUGA  Mari Berubah! | EnterPreneur

Ketiga, eksekusi, jalankan pemecahan bersama sesuai kesepakatan, di sinilah komitmen dalam sebuah hubungan di buktikan.

Afterword

Tentu, pemecahan sebelumnya hanya bisa dicapai jika pasangan kita sudah Dewasa secara Emosional, Memiliki Independensi Ekonomi dan Dewasa secara Beragama.  Jika belum memenuhi hal ini, biasanya permasalahan akan berlarut-larut dan keruh. Karena sikap kekanak-kanakan akan menambah masalah bekepanjangan.

Sementara mereka yang belum paham beratnya dunia kerja, akan meminta perhatian berlebih, bersikap foya-foya dan menuntut uang dari pasangannya. Mereka yang belum dewasa dalam beragama juga akan memberi masalah karena tidak memahami rambu-rambu dalam menjalani hubungan, sehingga hubungan tersebut dapat berakhir dengan konflik nilai-nilai.

Sehingga, jika pasangan kamu masih kekanak-kanakan, bergantung kepada orang tua atau belum dalam memahami agama, sebaiknya putuskan saja dan cari yang lebih baik.

Advertisement