Kapan Kita Menyerah | Re-Talk

0
12
Sumber Gambar : www.pexels.com
Advertisement

Perjalanan Para Katak

Untuk membantu teman-teman memahami waktu untuk menyerah, silahkan membaca dongeng dari negeri Cina ini terlebih dahulu:

Suatu ketika hiduplah sekelompok Katak di sebuah kawasan Danau yang sangat subur dan indah. Para Katak sangat bersyukur hidup di tempat itu. Namun, tiba-tiba pakeclik hadir dan membuat Danau tersebut mengalami kekeringan. Pimpinan katak berinisiatif untuk mencari air dengan mengikuti Sungai yang bermuara dari Danau tersebut. Kali saja, di bagian Hilir, terdapat air yang masih melimpah.

Maka, perjalanan mereka dimulai, panas terik tersebut membuat banyak Katak kehausan. Tibalah mereka di sebuah Sumur dekat sungai yang memiliki banyak air didalamnya. Terjadilah dialog panjang lebar untuk mengambil Air dari sumur tersebut.

“Didalam sini banyak air, kita hanya tinggal mengambilnya saja.”

Katak yang lain menyanggah, “Tetapi, jika kita masuk ke lubang ini, kita tidak akan bisa keluar.”

Perdebatan mereka tidak ada habisnya, hingga akhirnya mereka menyerah untuk mencari cara mendapatkan Air dari sumur tersebut. Mereka memilih untuk berjalan menelusuri sungai kembali, walau perjalanan makin terasa sulit.

Advertisement

Tak lama kemudian, aliran air sungai makin meninggi, pada titik tertentu, sungai tersebut terhubung kesebuah Danau yang masih banyak menyimpan Air. Para Katak sangat bahagia dan mereka berhasil bertahan hidup di tengah kemarau panjang.

Penafsiran

Dari kita ini bisa kita ambil beberapa pelajaran mengenai masalah ”menyerah”. Jika kita pahami kembali, menyerah ada dua jenis.

  • Pertama, menyerah kepada tujuan filosofis hidup kita.
  • Kedua, menyerah terhadap cara kita mencapai tujuan filosofis tersebut.
BACA JUGA  Harga Sebuah Kesetiaan | Bengkel Cinta

Para Katak menyerah terhadap Danau asal mereka, lalu mereka kembali menyerah dengan Sumur yang mereka temukan. Ketika mereka menyerah kepada kedua hal ini dan meninggalkannya, sebenarnya mereka menyerah terhadap sebuah cara mencapai tujuan. Mereka tidak menyerah dengan tujuan filosofis mereka mencari tempat tinggal yang lebih baik.

Penerapan Dalam Kehidupan Sehari-hari

Jikalau kita menyerah terhadap Lini Bisnis kita, karena dianggap tidak menguntungkan, atau resign terhadap pekerjaan yang tidak memberikan kita kenaikan jenjang karir. Sebenarnya hal tersebut bukanlah menyerah dalam artian Filosofis, tetapi cara kita mencapai tujuan Filosofis kita.

Bisa saja jika kita bertahan dalam bisnis tersebut, kita hanya menjadi pengusaha kerdil yang selalu di kejar target dan kesulitan mencari pelanggan. Atau ketika kita bertahan di sebuah pekerjaan yang tidak memberikan kenaikan jenjang karir, kita menyesal di masa tua karena tidak menjadi apapun dalam hidup.

Einstein pernah berkata, “Kegilaan adalah usaha gagal yang di ulang-ulang.” Ketika kita tahu bahwa diri ini tidak akan pernah bisa berhasil jika mencoba menghadapi rintangan dengan cara yang sama terus menerus.  Berhenti dari cara tersebut bukan berarti kita menyerah, artinya kita mencari jalan lain untuk menghadapinya.

BACA JUGA  Cinta Yang Tak Terbalas | Bengkel Cinta

Advertisement