Cinta Sejati dan Nafsu Duniawi | Bengkel Cinta

0
50
Sumber Gambar : pixabay.com
Advertisement

Cinta Sejati, adalah dambaan semua orang. Namun, acapkali kita sulit membedakan antara cinta sejati dengan nafsu duniawi.

Jebakan Cinta Palsu

Para Pria kadang terjebak oleh paras seorang wanita, sementara para wanita terjebak oleh lidah manis para pria. Cinta yang penuh Nafsu hanya berfikir mengenai kesenangan dunia, dan Rasa Cinta ini akan terhapus oleh waktu, yaitu ketika

Paras Rupawan berubah di makan usia

Fisik kekar menjadi lemah lunglai

Harta berkurang dan bahkan hilang

Jabatan dan kedudukan di lepas

Advertisement

Mereka yang penuh kepalsuan akan pergi ketika diminta untuk menunggu. Diam ketika kekasihnya melakukan kesalahan. Bersikap egois dan melupakan orang lain. Memilih mengacuhkan dari pada memperjuangkan.

Cinta Sejati

Cinta sejati, adalah hal yang paling indah di muka bumi. Yaitu ketika kita ingin memiliki dan melindungi orang yang kita cintai, melindungi baik di dunia, maupun di akhirtat.

Mereka yang terikat dengan cinta sejati, akan memandang bahwa ikatan mereka adalah ikatan suci, ikatan yang mengikat mereka di dunia dan akan mempertemukan mereka di akhirat. Sehingga, mereka yang mencinta secara sejati, tidak akan bermain-main dengan perasaan seseorang.

BACA JUGA  Wawasan Pancasila by Yudi Latif | Resensi Buku Bagus

Mereka bahkan akan bertindak tegas ketika pasangannya melampaui batas, dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar, agar mereka dapat di pertemukan kembali di akhirat kelak.

Cinta sejati di ukur berdasarkan waktu, Sang Waktu-lah yang mengukur besarnya rasa cinta itu. Karena, sejatinya Cinta Sejati tidak akan lekang dimakan waktu, Tak akan berubah dimakan usia, dan Tak akan berkurang walau diberikan berjuta-juta kali.

Sebuah kisah cinta sejati yang termasyur adalah ketika orang berpengaruh nomor satu di dunia, Nabi Muhammad SAW berada di samping sang Istri tercinta, Khadijah yang sedang menghadapi Sakaratul Maut.

Khadijah telah mengorbankan seluruh kekayaannya agar Nabi Muhammad SAW dapat berdakwah. Sehingga ketika Kahdijah mengalami Sakaratul Maut, ia hanya mengenakan pakaian yang penuh dengan tambalan.

Lalu, khadijah berkata, “Wahai Rasulullah seandainya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai, namun engkau tidak memperoleh rakit atau jembatan, maka galilah lubang kuburku jadikanlah tulang-tulangku sebagai jembatan untuk kau menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa melanjutkan dakwahmu.”

Advertisement