Berhati-hati Ambil Resiko | EnterPreneur

0
18
Advertisement

Defisini Resiko

Resiko di Definisikan oleh Rhenald Kasali dkk (2009) dalam Modul Kewirausahaan sebagai adanya konsekuensi, sebagai dampak adanya ketidakpastian, yang memunculkan dampak yang merugikan pelaku usaha.

Resiko ada dua jenis yaitu Resiko Murni dan Resiko Spekulatif

  1. Resio Murni – Yaitu resiko yang muncul akibat dari proses bisnis. Misalnya Resiko alat produksi rusak, resiko prodak tidak terjual, resiko kecelakaan kerja dls
  2. Resiko Spekulatif – Yaitu resiko yang muncul bersamaan dengan potensi keuntungan dan kerugian. Misalnya Resiko Nilai Tukar Rupiah, Investasi Saham, Investasi Bitcoin, Tidak Mengasuransikan Aset dls

Cara Mengidentifikasi Resiko

1. Analisa dari Data Lama (Pengalaman dan Sejarah)

Gunakan Informasi Keluhan Pelanggan, Data Kecacatan Produk, Rekam Jejak Karyawan, Hutang-Piutang Pelanggan dan Pertumbuhan Penjualan untuk memperkirakan resiko yang bisa terjadi.

Kelemahannya, acapkali terjadi musibah di masa depan yang tidak pernah kita prediksi karena tidak terjadi di masa lalu.

2. Pengamatan dan Survei

Metode ini layaknya penelitian baik sederhana maupun kompleks. Metode ini bisa digunakan untuk mengidentifikasi Kebutuhan Pasar, Kepuasan Pelanggan, Produk Baru, Gaya Hidup Konsumen dan Lokasi Usaha. Metode ini bisa dilakukan dengan bantuan perusahaan Survei atau bisa dilakukan dengan cara mandiri. Kita juga bisa mengikuti Seminar dan membaca Jurnal Ilmiah untuk dapat mengidentifikasi kondisi lapangan.

BACA JUGA  Ketika Kekasih Meminta Untuk Berubah | Bengkel Cinta

Contoh lainnya adalah ketika Covid-19 masuk ke Indonesia Survei menunjukan, penjualan Mobil Mewah menurun dan bahkan banyak yang menjual mobil mewahnya. Tetapi, penjualan Mobil Rakyat (yang murah dan terjangkau) naik. Disini ada resiko jika kita menjual mobil mewah, tetapi peluang jika kita menjual mobil murah.

Advertisement

3. Metode Acuan

Yaitu kita menggunakan pesaing kita yang unggul sebagai acuan keunggulan produk.

Misalnya, kita menggunakan tingkat penjualan Produsen Sepatu ternama untuk memperkirakan perubahan kebutuhan pasar sepatu. Bisa saja karena sekolah dari rumah, penjualan sepatu menurun. Penurunan jumlah penjualan sepatu Produsen Sepatu Ternama itu bisa menjadi masukan perhitungan resiko penjualan sepatu kita.

4. Pakar dan Pendapat Ahli

Kita langsung bertanya kepada Pakar dan Ahli terkait potensi usaha kita. Ingat, Pakar dan Ahli itu bukan berarti Ilmuwan setara S2, S3 atau Proffesor, tetapi mereka yang memahami dunia usaha kalian.

Misalnya, saya memiliki teman yang berkecimpung di dunia Ponsel, ia juga saya nilai ahli dalam dunia perponselan. Saya tanya mengenai kondisi penjualan handphone bekas, lalu ia menjawab bahwa perubahan tarif Cukai berpengaruh terhadap penjualan handphone bekasnya. Ia juga bercerita semakin sulit mendapatkan Suplayer berkualitas karena semua orang menahan diri untuk menjual Handphonenya. Dari sini saya bisa membayangkan akan kondisi resiko ekspansi di dunia Usaha Handphone Bekas.

BACA JUGA  Pahami Hukum Kebalikan Untuk Sukses | Re-Talk

Proses Manajemen Resiko

Setelah kita mengidentifikasi Resiko-resiko usaha maka masuklah kita pada proses Manajemen Resiko. Alur Manajemen Resiko adalah sebagai berikut:

1. Identifikasi Resiko

Daftar proses Resiko Potensial yang saya jelaskan caranya tadi.

2. Analisis Resiko

Kita memprioritaskan Resiko dari yang paling kecil hingga besar. Jangan terbalik, Resiko yang paling besar malah kita abaikan karena berfokus kepada hal yang remeh.

Misalnya Resiko Produk tak terjual lebih besar di bandingkan dengan Resiko Alat Rusak. Karena alat rusak masih bisa di perbaiki dan bahkan sewa atau pinjam uang untuk membeli baru, tetapi jika dagangan tidak laku, maka tidak ada putaran uang.

3. Perencanaan Resiko

Yaitu menyusun secara detail bagaimana kita menghadapi resiko dari yang paling besar hingga yang paling remeh.

4. Pengawasan Resiko

Yaitu kita melakukan pengawasan kepada hal-hal yang beresiko. Intensitasnya bisa lebih tinggi kepada hal yang paling beresiko, hingga yang paling rendah kepada hal yang remeh. Misalnya Resiko Penjualan di kontrol harian, sementara Resiko Kerusakan Mesin di Kontrol Mingguan dan Resiko Kerusakan Bangunan Di Kontrol Bulanan.

BACA JUGA  Membangun Jiwa Kepemimpinan | EnterPreneur

Nantinya Pengawasan Resiko menjadi Feedback ke Analisis Resiko, karena semua hal bisa berubah secara resiko. Bisa saja yang awalnya Beresiko Tinggi berubah menjadi Beresiko Sedang. Misalnya Penjualan ternyata lancar sehingga tidak ada masalah, tetapi karena Produksi di Genjot terus, mesin jadi berpotensi cepat rusak.

Pengelolaan Resiko ada beberapa cara

1. Kontrol Resiko

Yaitu upaya untuk mengkontrol hal-hal yang beresiko secara langsung. Misalnya mesin produksi yang merupakan alat yang fundamental bagi kelangsungan usaha, di kontrol secara rutin oleh mekanik untuk memastikan kinerja dan performa.

2. Di Transfer kepada Pihak Lain (Asuransi)

Kita melakukan pemindahan resiko lewat asuransi. Terutama hal-hal yang tidak bisa kita kontrol resikonya, seperti Proses Pengiriman yang menggunakan Pihak ke-3. Namun, dalam asuransi ini, kita harus memperhitungkan biaya yang kita bayarkan kepada pihak Asuransi.

3. Di Biayai Sendiri

Yaitu kita menghitung resiko usaha dan biaya yang kita harus bayarkan dalam proses usaha. Sehingga kita harus menyisihkan dana untuk kondisi terburuk.

4. Dihindari

Berbekal Prediksi, kita bisa menghindari Resiko.

Misalnya kita memprediksi bahwa usaha pakaian akan jatuh selama Covid-19 dan usaha berbau kesehatan akan meningkat, maka jangan ekspansi di Pasar Pakaian, tetapi Ekspansi di Pasar Kesehatan seperti jualan Madu dls.

Advertisement