Ayo Bertindak! | EnterPreneur

0
13
Advertisement

Salah satu ciri pengusaha adalah lebih berorientasi tindakan dari pada sekedar mimpi / angan-angan. Karena seorang Enterpreneur menghabiskan 90% waktunya di lapangan bersama dengan karyawan, pemasok dan pelanggannya.

Ada dua potensi masalah ketika kita melakukan kegiatan Wirausaha

  1. Ketika kita lebih berorientasi kepada data / konsep, yaitu berusaha mendapatkan data yang valid. Ketika kita terjebak dalam hal ini, kita akan terus menerus mengumpulkan data, menyusun rencana pemecahan masalah, evaluasi rencana, pengumpulan data dan kembali ke penyusunan rencana pemecahan masalah terus menerus.
  2. Potensi yang kedua adalah terjebak dalam keputusan yang terlalu terfokus kepada tindakan jangka pendek sehingga kita sulit merencanakan pengembangan.

Sehingga saya akan mencoba memberikan pemecahan masalah agar bisa menyeimbangkan antara tindakan teknis dan pemikiran konseptual. Hal-hal di bawah ini adalah mixing antara pemikiran Prof. Rhenald Kasali dkk dengan pemikiran saya. Semoga bisa memecahkan masalah.

 

Tahap Pertama – Menyadari Tujuan Filosofis

“Berfikir sebelum bertindak,” bukanlah sebuah omong kosong. Itu adalah sebuah pepatah yang sudah di wariskan ratusan tahun dan bahkan turun temurun di bangsa kita. Sayangnya, semua orang mungkin bisa berfikir, tetapi tidak tahu cara berfikir yang tepat.

Berfikir yang tepat harus di mulai dari dasar filosofis yang benar. Yaitu sebuah kebajikan yang tidak bisa di sanggah, sebuah kebenaran yang kita percayai walau dalam kondisi terburuk sekali-pun. Tujuan Filosofi layaknya sebuah obsesi, keinginan yang terpendam dan ingin di wujudkan. Nilainya benar-benar mulia yang akan menjadi visi kita memimpin perusahaan.

Advertisement

Ada pepatah yang menyatakan bahwa besar kecilnya seseorang di tentukan oleh tujuan hidupnya. Sehingga tujuan ini haruslah tujuan yang mulia, datang dari sanubari hati yang terdalam.

BACA JUGA  Ayo Beretika! | EnterPreneur

Misalnya keinginan membangun usaha yang berprinsip green energy, atau usaha yang mampu memberikan lapangan kerja bagi banyak orang, juga bisa usaha yang mampu memimpin pasar dan membawa nama Indonesia ke kancah dunia internasional. Intinya, visi tersebut haruslah mulia dan kita menjadi semakin termotivasi ketika memikirkannya.

 

Tahap Kedua – Mendefinisikan Tujuan Filosofis dalam bentuk Target

Tujuan kita mencapai sebuah tujuan mulia haruslah di pecah dalam target-target kecil yang asalnya dari target 10 s.d 20 tahun (Tujuan Jangka Panjang) hingga menjadi ukuran 5 tahun (Jangka Pendek), lalu target tahunan, bulanan hingga harian.

Ketika kita bergerak, kita tidak lagi membayangkan imajinasi visi yang masih di alam konsep. Tetapi, gerakan kita sudah riel dalam bentuk tindakan yang kita lakukan perharinya atau biasa di sebut (Program Kerja). Program Kerja biasanya memiliki target-target yang harus di capai dalam jangka waktu selama Program itu berjalan. Misalnya Program Promosi Instragram harus mencapai impresi 1.000 orang dalam waktu seminggu.

 

Tahap Ketiga – Belajar Memprioritaskan

Tahapan berikutnya adalah cara kita memprioritaskan sesuatu. Setelah kita membuat program kerja, acapkali program kerja ini ada yang bermasalah, saling bertubrukan atau bahkan saling berebut sumber daya (Dana, SDM, Waktu, Tenaga dls). Maka kita perlu memprioritaskan tindakan yang kita harus ambil

Urgent /

Deadline Mepet

Kurang Urgent /

Deadline Jauh

Penting / Dampak BesarPrioritas Pertama

Ini sangat genting dan perlu mendapat perhatian yang utama.

Prioritas Kedua

Ini lebih penting, jika kita lengah akan memberi menjadi gawat seperti Prioritas Pertama. Terlalu sering membiarkan target dalam keadaan deadline akan mengurangi kualitas kerja.

Kurang Penting / Dampak KecilPerioritas Ketiga

Pekerjaan ini bisa di kerjakan jika P1 dan P2 sudah selesai dilaksanakan. Tetapi, jangan sering meremehkan hal yang kecil. Hal-hal kecil kalau terkumpul dan terakumulasi, bisa menjadi masalah yang besar.

Prioritas Keempat

Kadang pekerjaan ini sering di delegasikan ke orang lain. Selain dampaknya kecil, juga kita tidak perlu pusing mengontrol target ini jika orang tersebut lalai.

 

Tahap Keempat – Memperbaiki Kemampuan Penilaian

Tindakan yang tepat amat bergantung dengan analisis penilaian kita terhadap sebuah realita. Kadang realita terselubung oleh kabut data yang simpang siur. Sehingga tugas kita menyibak kabut dan mendapatkan kenyataan yang sebenarnya.

Misalnya ada pelanggan yang kecewa, awal kali kita perkirakan ia kecewa karena produk kita yang kurang baik dan tidak sesuai harganya yang dipersepsi mahal. Tetapi, bisa saja bukan karena produk atau harga, melainkan karena pelayanan kita yang terlalu berlebihan. Kita menanyakan pelanggan secara detail akan tanggapan produk kita, bahkan kita memaksa memberikan service yang tidak di butuhkan sehingga akhirnya pelanggan merasa privasinya ternganggu.

Tahap Kelima – Memperbaiki Kemampuan Kerja (Efekti dan Efisien)

Apalah arti rencana yang matang tanpa konsistensi kerja yang jelas.

Misalnya target-targer kerja banyak yang tidak tercapai, bahkan program di biarkan molor begitu saja tanpa pemecahan.

Jika hal ini terjadi, kemungkinan besar masalah yang hadir adalah masalah kinerja. Kita harus membangun ketahanan kerja, fleksibilitas dan kekuatan dalam menghadapi tantangan kerja. Kita harus tangguh dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai target program. Bahkan kita senang tiasa membangun inovasi agar performa kerja kita meningkat.

Tujuan akhirnya kita dapat bertindak secara efektif, yaitu mencapai target kerja. Juga bertindak efisien atau tanpa melebihi sumber daya yang sudah di tetapkan, dan bahkan bisa lebih hemat lagi. Sumber daya ini bisa waktu, tenaga, SDM, modal, teknologi dls

Tahap Keenam – Memanfaatkan Keunggulan dan Bersinergi Dengan Itu

Setelah kita memiliki program yang stabil, kita bisa mempercepat kerja program itu dengan memanfaatkan keungulan dari masing-masing orang. Biasakan teman-teman memulai usaha dengan orang yang memiliki keunggulan tertentu.

Misalnya ada orang yang unggul dalam aspek kepekaan bisnis, kecepatan gerak dan kemampuan negosiasi. Tapi, ia memiliki kekurangan dalam aspek kesabaran dan menghadapi pekerjaan monoton seperti keuangan. Maka ia mencari teman yang ahli dalam bidang keuangan untuk di jadikan partner bisnisnya.

Jangan pernah berpartner bisnis karena alasan kedekatan saja. Kita harus mencari keunggulan yang dapat melengkapi kekurangan kita. Kalau hanya berlandas kedekatan, bisa saja nanti ia menjadi beban karena tidak bisa bekerja dengan baik.

Tahap Ketujuh – Inisiatif dan Inovasi

Tanpa Inovasi, sebuah bisnis akan cenderung mati. Maka teman-teman harus meluangkan waktu untuk dapat mengambil tindakan inovatif. Selain itu, teman-teman harus berinisiatif atau mengambil tindakan tanpa perlu di arahkan orang, tanpa perlu menunggu masalah datang atau tanpa perlu kompetitor bisnis menyerang.

Advertisement