Ayo Beretika! | EnterPreneur

0
20
Advertisement

Etika dalam bisnis adalah masalah tersendiri ketika kita membuka usaha. Acapkali kita menemukan banyak orang yang berbuat curang di dalam dunia bisnis untuk meraup untung. Lalu mereka berfikir bahwa hal tersebut tidak akan mampu mempengaruhi bisnis mereka, karena konsumen bisa saja tidak mengenali sang penjual. Ketika sang konsumen kecewa, toh ia tetap untung karena produknya dibeli sebelumnya.

Paradigma Keliru

Dari buku legendaris Manajemen Pemasaran karya Bapak Pemasaran Dunia, Philip Kotler, kita bisa mempelajari ada dua paradigma dalam menawarkan produk ke konsumen, paradigma yang pertama adalah Penjualan dan yang kedua adalah Pemasaran. Perbedaannya sebagai berikut:

PenjualanPemasaran
Fokus menjual produk dengan melahirkan kebutuhan konsumen.Fokus untuk melakukan pertukaran nilai antara kebutuhan konsumen dengan produk yang mampu memecahkan masalah kebutuhan tersebut.
Lebih menekankan pada cara agar konsumen tertarik dan membeli produknya.Menjaga brand image produk, konsumen memutuskan membeli produk karena sudah mengetahui kualitas dan image brand produk
Berorientasi jumlah penjualan yang merupakan target penjualan.Berorientasi kepuasan pelanggan sebagai usaha untuk melakukan penjualan berkelanjutan.
Fokus pada kuantitas.Fokus pada kualitas.
Hubungan antara sales dengan konsumen hanya sebatas sampai proses transaksi jual beli.Hubungan marketing dan konsumen harus tetap terjaga mulai dari sebelum transaksi hingga transaksi selesai demi menjaga loyalitas konsumen.
Berfikir Jangka PendekBerfikir Jangka Panjang
BACA JUGA  Pintar Tidak Sama dengan Sukses | Re-Talk

 

Paradigma yang keliru ini melahirkan para penjual yang hanya berfokus untuk menjual produk yang kualitas barangnya, cara operasi bisnisnya dan cara penjualannya buruk. Mereka lalai atau tidak menyadari bahwa cara mereka berjualan hari ini akan mempengaruhi penjualan mereka di kemudian hari.

Filsafat Etika

Seorang Enterpreneur harus bisa menguasai banyak ilmu, salah satunya adalah ilmu Etika. Disini saya menggunakan Metode Etika Terapan yang di jelaskan dalam buku Etika karya K. Bertens (2011) Hlm. 313 – 322. Metodenya saya sedrhanakan sebagai berikut:

1. Standar Baik dan Buruk

Bisnis di jalankan dengan tujuan untuk melakukan perturakan sosial. Kita sebagai seorang enterpreneur mendapatkan uang dari masyarakat, sementara masyarakat mendapatkan manfaat dari bisnis kita (pemikiran Kotler). Semua pihak harus mendapatkan manfaat dan sama-sama menang (win-win), jangan sampai ada pihak yang merugi (Win-Lose).

Advertisement

Kita tidak boleh memanipulasi dan bahkan merugikan masyarakat ketika memakai produk kita. Operasi bisnis yang kita jalankan juga tidak boleh merugikan masyarakat. Demikian juga karyawan yang bekerja didalam perusahaan. Mereka yang rela menukar waktu dan tenaga, tidak boleh di eksploitasi dan di jerat oleh kontrak kerja yang merugikan mereka.

BACA JUGA  Leading In Crises by Rhenald Kasali | Resensi Buku Bagus

Misalnya : Ketika ada pegawai yang korupsi. Saat ini, karyawan kita yang korup telah merugikan perusahaan (Win – Lose). Perusahaan ini bukan hanya kita secara pribadi (pemilik), tetapi pemegang modal, karyawan selainnya (yang bekerja di perusahaan), pelanggan (karena kerugian kita bisa mempengaruhi kualitas & kinerja) dls.

 2. Sikap Awal menuju Refleksi

Awal kali pasti kita memiliki sebuah pandangan, sikap atau nilai-nilai terhadap seuatu kebijakan.

Misalnya : Ketika ada pegawai yang korupsi, kita terpikirkan untuk memberi sanksi tegas berupa surat peringatan dan pemindahan posisi, tetapi bisa saja ada teman-teman yang terpikirkan untuk langsung melakukan pemecatan.

Semua dari kita memiliki sikap tertentu yang tertanam sebagai akibat dari pendidikan, pengalaman, perasaan, kultur dan lingkungan. Awal kali kita harus menyadari sikap yang kita mau ambil ketika kita menemukan sebuah kasus masalah.

3. Informasi

Ketika kita memiliki sebuah sikap, kita harus menyadari bahwa sikap itu acapkali karena dorongan emosional. Maka kita perlu duduk dan menenangkan diri, lalu mulai mencari informasi pembanding untuk menyelesaikan masalah kita.

Misalnya : Dari informasi yang kita dapat, karyawan yang melakukan tindak korupsi memiliki keluarga yang harus di hidupi. Selain itu kemungkinan besar dia akan kesulitan mendapat pekerjaan lagi jika di pecat secara tidak terhormat. Maka jika ada pertimbangan demikian, tentu kita akan melakukan rotasi kerja dengan ketentuan bahwa ia tidak boleh menyentuh hal yang berbau keuangan.

BACA JUGA  Stress Pada Remaja Part 1 | Generasi Zet

4. Identifikasi Norma & Moral

Ketika kita mengambil suatu keputusan, tentu kita perlu mengumpulkan informasi berkaitan dengan Norma dan Moralitas yang berkalu di lingkungan kita. Norma-norma ini akan menjadi pertimbangan kita untuk mengambil keputusan.

Misalnya : Kita menyadari bahwa Norma dan Moralitas Bangsa Indonesia adalah orang yang lemah terhadap korupsi. Dengan mudah kita terbiasa melakukan “Mark Up” terhadap harga. Dari jajaran pejabat hingga rakyat jelata, korupsi adalah hal yang lumrah.

Selain itu, di kalangan pekerja, mereka tidak takut jika di pindah posisi jabatan, sementara hanya jera jika di pecat secara tidak hormat. Maka pemindahan posisi jabatan seseorang, selama ia masih di dalam perusahaan tetap akan memberikan efek buruk di internal perusahaan.

5. Logika

Setelah data-data terkumpul, baik dari perspektif awal sikap kita, informasi-informasi, norma-norma dan standar baik-buruk maka selanjutnya kita jadikan suatu kesimpulan akan sikap yang kita ambil terkait masalah etis tersebut.

Advertisement