Muslim Milenial Melawan Hoax dan Hawa Nafsu?

0
54
menghindari hoax bagi milenial
AdvertisementKontak Kami

Menghindari Hoax dengan Mengendalikan Hawa Nafsu

Bro and Sis Reaktif, persebaran informasi yang semakin mudah diakses menjadi hal yang sangat wajar saat ini. Dari sini, kita sebagai milenial yang dibekali dengan daya pikir kritis serta knowledge dengan level beragam, dengan hawa nafsu yang dimiliki, pasti tangan serasa “gatel” gitu untuk memberikan respon.

Namun kalau kita spesifik membahas respon kritis di negara berkembang, khasnya pasti kita akan menemukan banyak contoh kecacatan analisa di dalamnya. Contoh yang sering bro/sis  jumpai di dunia maya mulai dari isu sensitif hingga gosip-gosip yang beredar. Pasti bagi pengguna Instagram seperti bro/sis kurang lebih pasti mengenal akun gosip dengan inisial akun LT. Seringnya video/foto yang diunggah adalah tentang seorang artis yang sedang pergi bersama dengan orang lain. Dengan framing yang seolah menyatakan kalau si artis diisukan selingkuh misalnya. Dan benar saja dengan mudahnya banyak yang mengganggap opini tersebut adalah Fakta. Jadilah sebuah penghakiman yang belum tentu jelas dasarnya. Dimana komentar yang muncul biasanya merupakan sebuah penghujatan, sumpah serapah, bahkan kutukan. Anehnya perilaku ini justru dilakukan tanpa benar-benar memahami kebenaran beritanya secara mendalam.

Hal ini disebut berpikir kritis dengan nafsu bro/sis. Maksudnya adalah seolah kita berpikir kritis terhadap sesuatu, padahal dalam analisa kita masih dipengaruhi keberpihakan, ketidaksukaan pada obyek, hingga rasa enggan untuk membuktikan kalau berita tersebut salah.

Salah satu hal yang menjadi sebab tidak obyektif kali ini tak lain adalah hawa nafsu. Berputar kemanapun analisa kita, dengan hawa nafsu hanya akan menghasilkan satu kesimpulan yang subyektif. Pada dasarnya, hawa nafsu itu fitrah pada manusia dan datangnya dari kebutuhan. Menurut Abraham Maslow, kebutuhan ada untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Contohnya dalam hal fisiologis, tanpa kebutuhan terhadap makan dan minum maka manusia akan mati.

Mungkin kita semua sudah memahami bahwa Iblis akan berusaha menyesatkan anak cucu Adam. Cara yang dilakukan adalah mendekatkan antara manusia dengan hawa nafsunya, dibanding pertimbangan yang selainnya seperti obyektifitas. Tidak terkecuali dalam berpikir kritis terhadap suatu informasi / kabar. Seperti halnya untuk memenuhi kebutuhan kasih sayang, saat ada orang yang menjadi saingan kita (lebih populer) diisukan negatif. Karena dorongan kita ingin lebih populer, kita langsung saja menganggap bahwa kabar tersebut benar. Bukan keinginan lebih populernya yang salah, tapi menganggap kabar tersebut benar tanpa crosscheck yang salah bro/sis.

BACA JUGA  Milenial Boleh Marah? Boleh Banget!

Sebagai seorang muslim milenial yang rasional, menjadikan obyektifitas terhadap data dan orientasi kebenaran sebagai pijakan utama itu wajib bro/sis . Masalahnya adalah kebanyakan orang atau mungkin diri kita sendiri bro/sis bisa saja terkadang kurang menjadikan obyektifitas sebagai pijakan berpikir kritis. Bukan dalam rangka mewajari, namun manusia memang tidak luput dari kesalahan. Sangat mungkin jika pertimbangan kita dalam menganalisa hingga memutuskan sesuatu berdasarkan pada pijakan yang “bukan pada tempatnya”.

Tentunya usaha kita untuk berpikir kritis tidak akan menghasilkan suatu manfaat dari kebenaran, jika yang mengendalikan adalah hawa nafsu bro/sis. Sekalipun hasil penilaian / kesimpulannya memang benar, pastilah hanya sebuah kebetulan. Dibalik itu, masalah jangka panjangnya cukup serius apabila proses berpikir kritis yang dilakukan selalu dikendalikan oleh hawa nafsu. Kebenaran tidak akan ada harganya lagi, karena antara kebenaran dan kesesatan tidak berbeda jauh. Maksudnya setiap kabar yang datang kepada kita, apapun analisanya, kesimpulannya tidak berbeda jauh dari frame pada kabar tersebut.

AdvertisementKontak Kami

Lebih jauhnya lagi, jika telah masif perilaku seperti ini, maka bukan tidak mungkin ketidakpercayaan antar suatu pihak dengan pihak lainnya akan terjadi. Dari situ jelas bisa menghasilkan perpercahan. Seperti Firman Allah SWT dalam surat Al-Hujurat ayat 6, yang berbunyi: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu…”

Terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan bro/sis Reaktif demi mengendalikan hawa nafsu dalam proses berpikir kritis, terutama dalam konteks menilai kabar/informasi, yaitu sebagai berikut:

  • Menyadari Belum Tentu Informasi yang Didapat Itu Utuh Atau Benar

Langkah pertama ini merupakan hal paling penting yang menjadi pijakan dalam merespon suatu informasi. Sangat penting karena jika sampai hal ini lalai diterapkan, maka bro/sis tidak akan benar-benar merasakan nikmatnya kebenaran. Terkadang kabar yang diterma terlihat meyakinkan karena disampaikan oleh orang yang kredibel. Bisa juga karena kabar tersebut memiliki kemiripan dengan dugaan kita terhadap obyek yang sama (yang dibahas). Berita yang terlihat meyakinkan akan berpotensi menjadikan proses berpikir cenderung hanya mengandalkan cocoklogi. Saat data pembandingnya relevan dan lengkap mungkin tidak ada masalah. Permasalahannya adalah jika data yang kita punya belum tentu valid kebenarannya.

  • Menghayati Asas Praduga Tak Bersalah
BACA JUGA  Bagi Milenial, Tahu Ilmu dan Berilmu itu Sama?

Asas ini sangat lazim bro/sis temukan di dunia hukum, khususnya pada pengadilan. Jika berdasarkan ilmu hukum, terdapat Undang-undang kehakiman yang kurang lebih menyatakan bahwa “Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap.” Dari sini bro/sis bisa menghayati bahwa seharusnya tidak melakukan penghakiman, sebelum benar-benar suatu kabar berita terbukti kebenarannya. Karena andaikan masih ada potensi kekeliruan kabar / informasi, meskipun kecil, tetap patut secara fair untuk tidak mengambil keputusan sepihak. Jika dalam konteks pengadilan hukum saja, masih bisa dinyatakan seseorang tidak bersalah. Apalagi konteks kabar berita yang masih bersifat simpang siur.

  • Mengesampingkan Egoisme Dan Masalah Pribadi

Segala bentuk ketidaksukaan, kekecewaan, maupun rasa dengki sangat mampu untuk membuat manusia terbuai untuk melakukan kedosaan. Jangankan berpersepsi negatif, membunuh pun bisa saja dilakukan. Karena amarah adalah salah satu emosi yang paling mudah untuk disesatkan oleh syaitan. Dalam hal ini bisa jadi banyak orang dalam kondisi tertentu, juga sangat mungkin pemikiran kritisnya menghasilkan kesimpulan yang subyektif. Sehingga cobalah bro/sis untuk meredakan amarah dan mengesampingkan masalah yang dialami, demi bisa mencapai kesimpulan yang obyektif dari berpikir kritisnya.

  • Kroscek Dan Menunda Penilaian Tanpa Bukti Kuat

Setelah kita mendudukkan paradigma berpikir kritis pada langkah-langkah sebelumnya, maka pada langkah ini adalah waktunya untuk action dalam mencari bukti atau data. Karena paradigma tanpa langkah untuk bergerak mencari pembanding, tidak akan ada artinya. Kita hanya akan tetap menjadi orang yang tidak jauh dari kekeliruan, dan sekali lagi andai menemukan kebenaran maka itu hanya kebetulan. Inilah mengapa langkah ini termasuk langkah yang juga krusial, untuk menyempurnakan proses berpikir kritis kita. Karena dari proses ini kita bisa menemukan data pembanding untuk bisa menghasilkan kesimpulan dan penilaian yang tepat.

  • Menghindari Tindakan Menghujat Dengan Cacian

Terakhir andaikan langkah-langkah sebelumnya telah dilakukan, namun memang hasil kesimpulan dari kabar yang diterima adalah penilaian buruk adanya, maka hindarilah tindakan menghujat dengan cacian. Karena sesungguhnya cacian yang diucapkan akan memberikan efek psikologis berupa kebencian atau ketidaksukaan. Semakin kita menghujat, semakin membesar pula kebencian kita terhadap orang lain (yang dihujat). Akan lebih sulit untuk menghentikan tindakan tersebut andai tidak cegah sedari awal. Jika sudah sampai berlarut-larut dalam kebencian karena cacian yang sering kita lontarkan, maka kita harus mengulang langkah ini dari yang pertama lagi. Karena paradigma yang sudah kita bangun, telah kembali terkikis oleh perilaku kita sendiri.

BACA JUGA  Milenial Boleh Marah? Boleh Banget!

Hikmah

Panjang lebar kita membahas cara untuk menghindari berpikir kritis yang dikuasai oleh hawa nafsu. Harapannya hal ini bisa menjadi langkah evaluasi kita, apakah kehidupan kita masih sering dikuasai oleh hawa nafsu termasuk dalam hal berpikir kritis sekalipun? Ataukah selama ini, tanpa sadar kita terjebak dalam egoisme diri yang mencemari proses berpikir kritis. Padahal berpikir kritis/obyektif adalah salah satu aktivitas “suci”. Karena perilaku ini sesungguhnya adalah aktivitas untuk mencari kebenaran yang jangan sampai ternodai oleh subyektivitas karena didorong oleh hawa nafsu.

Seorang muslim milenial yang rasional hendaknya mampu membentengi diri dari masalah ini. Agar kedepannya tidak menjadi batu sandungan bagi keimanan dirinya. Oleh karena itu, kesadaran dan komitmen untuk memperbaiki diri dan kepedulian terhadap kerabat yang terjangkit penyakit ini, harus juga ditingkatkan. Sekian

AdvertisementKontak Kami

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.