Walau Dalam Keterbatasan, Bangkitlah !

0
63
Sumber Gambar : www.pexels.com

Kadang kita terpuruk dalam kehancuran, seakan cahaya siang tak lagi nyata, sementara dingin malam menusuk jiwa. Kadang pula kita merasa bahwa sedemikian rendahnya diri kita ini dimata manusia. Atau merasa iri setelah melihat orang lain digdaya. Ingin rasanya diri ini bangkit dan berubah. Namun tak yakin akankah halauan kapal akan keluar dari badai hingga mampu selamat sampai berlabuh.

“Apakah aku dapat berubah?” Itulah tanya yang sering terungkap di jiwa. Maka terjawablah dalam al-Qur’an, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5 dan 6). Sesungguhnya dalam ilmu Manajemen kita dapat percaya, bahwa tiap posisi akan memberikan kondisi yang berbeda. Ia yang ada di bawah bukit, tak akan mampu melihat pemandangan. Maka sulitlah ia dalam berjalan dalam hutan belantara. Sementara mereka yang ada di atas bukit, akan mudah jatuh kedalam jurang.  Maka takut pula mereka dalam melangkah karena khawatir terperosok jatuh. Bukankah setiap posisi memiliki peluang dan kesulitan? Lalu mengapa kita harus gundah dan merasa bahwa hidup terlalu sempit? Padahal Allah SWT telah memberikan kita kesempatan melimpah.

BACA JUGA  Bekerjalah Seperti Sebuah Gunung

“Apakah kekayaan mampu memberi peluang?” Tanya dalam hati yang terdalam. “Kenyataannya, kekayaan dapat menjadi sebuah hambatan!” Jawab Malcom Gladwell (2018 : 142). Mereka yang berbakat, hadir dalam keluarga yang hebat. Namun, mereka yang jenius, hadir dalam keluarga yang luluh lantah. Bisakah kau lihat Rasullullah SAW, yang hidup menjadi Yatim-Piatu. Atau kau lihat Abraham Lincoln yang hidup menebang kayu. Atau Ghandi yang hidup berkecukupan, namun memilih jatuh dalam kemiskinan demi membela rakyatnya. Kemiskinan bukanlah hambatan, kekayaan bisa menjadi cobaan.

“Apakah musibah akan selalu menjatuhkan diriku?” Hadir keraguan dalam hati, setelah menyadari betapa banyak cobaan akan di lalui. “Kenyataannya, mereka yang tertimpa musibah, acapkali lebih bahagia dari pada yang hidup kaya raya.” Jawab Malcom Galdwel (2018 : 131). “Mengapa demikian adanya?” Kembali bertanya dalam keraguan. “Karena mereka bersyukur tidak tertimpa musibah lebih yang buruk lagi.” (Jawab Malcom Galdwel (2018 : 131). Ah, ku ingat reaksi ayah ku mendengar Virus Corona menyebar. Ia hanya santai menanggapi bahwa krisis ini pasti akan berlalu. Mungkin, krisis moneter ditahun 1998 telah merubah dirinya menjadi lebih kuat. Ah, ku ingat kakek ku dikampung, yang hidup dalam masa-masa krisis ditahun 70-an. Sampai akhir hayat, ia adalah seorang pekerja keras. Di usianya yang sudah senja, masih sanggup naik keatas atap untuk membenahi atap yang bocor. Cobaan ternyata membuat kita lebih kuat setelah melewatinya. Dan kita masih selamat hari ini, karena nenek moyang kita memberanikan diri melewati laut yang ganas, hanya dengan bermodal sebuah kapal layer yang rapuh.

BACA JUGA  Salahkah Menjadi Orang Sensitif?

“Apakah mereka yang hidup dalam pendidikan yang mapan mendapat kesempatan yang lebih lapang?” Pikiran ini bertanya kembali. Bukankah mereka yang hidup dalam sekolah-sekolah elit akan mendapat kesempatan yang lebih bagus. Acapkali dengan kantong yang dalam, mereka mampu hingga bersekolah keluar negeri. “Kenyataannya, mereka yang hidup dalam pendidikan yang mapan, acapkali terjebak dalam kekakuan.” Jawab Malcom Galdwel (2018 : 68). “Mengapa demikian?” Tanya dalam hati mencuat. Karena Institusi pendidikan yang borjuis, hadir untuk memuaskan orang tua mereka. Seorang siswa tak pelu kemewahan ruang kelas, tak perlu pula dengan pendingin ruangan yang berkualitas, tak perlu juga diberikan berbagai fasilitas. Yang dibutuhkan seorang murid adalah guru yang mampu membimbing, memecahkan masalah dan memberikan secercah harapan dikala seluruh dunia menghimpit dada.

Ah, sudah jelaslah bahwa hidup ini tidak sekedar kegagalan. Hidup adalah cerita sebuah perjuangan, atau sebuah lukisan sejarah yang kita buat. Setidaknya, sejelek apapun lukisannya, pastilah akan diakui bahwa hal tersebut adalah yang terbaik bukan? Berbanggalah, baik diatas ataupun dibawah, engkau akan tetap berjuang. Perlawanan ini ada hanya untuk yang masih hidup, kematian datang bagi mereka yang diam. Berjuanglah, jangan melihat kesamping atau menengok kebelakang. Karena seorang yang berlari, tak akan melihat garis awal, tapi hanya melihat garis akhir sebagai tujuan.