#ResensiBukuBagus – Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

0
2

Sebuah temuan baru menunjukan bahwa penyakit yang menjangkiti tubuh banyak yang berasal dari sisi psikologis ketimbang permasalahan fisik. Dengan kata lain, dunia kedokteran telah mengakui bahwa permasalahan kesehatan mental sangatlah penting.

Namun, permasalahan mental semakin menjadi-jadi ketika dunia mengalami revolusi industri 4.0 (Informatika). Keterasingan atau alienisasi yang di jelaskan oleh Karl Marx seratus tahun lalu atas fenomena Industrialisasi telah terbukti kembali. Banyak penyakit-penyakit mental bermunculan dan mendorong isu kesehatan mental menjadi tema utama.

Dimasa ketika informasi dengan mudah di peroleh dalam waktu sepersekian detik membuat kita khawatir akan banyak hal. Bahkan kita bisa terdorong mengkhawatirkan ucapan orang yang tidak kita kenal atau berjarak puluhan atau ratusan kilometer jauhnya. Banyaknya kekhawatiran ini mendorong mentalitas kita pada titik kritis yang membuat kejernihan pikiran menjadi kelabu dan pada akhirnya mempengaruhi kesehatan fisik.

Sebuah Sikap Bodo Amat

Mark Manson, seorang penulis Blog / Blogger asal New York memberikan cara untuk dapat bertahan di Era Informatika yang tidak manusiawi. Cara termudahnya adalah dengan cara bersikap tidak peduli terhadap banyak hal. Namun, seni berfikir “bodo amat” ini tidak lantas membuat kita mengacuhkan segala hal. Seni Berfikir “Bodo Amat” mendorong kita berfikir SELEKTIF, yaitu hanya memikirkan hal-hal yang prioritas saja. Tidak masalah jika kita harus berbeda dengan lingkungan tempat kita hidup, karena memang kita harus mempedulikan hal yang paling prioritas dalam hidup kita.

BACA JUGA  2021 WhatsApp Tidak Bisa Digunakan Pada Android dan iOS Lawas

Selain itu, Mark juga mengingatkan untuk bersikap Bodo Amat terhadap Kesulitan Hidup. Toh, hidup ini ditakdirkan untuk sulit dan menderita adalah hal yang wajar. Semakin kita lari dari kesulitan hidup, semakin terjerembab kita kedalam kesulitan hidup. Ada sebuah pemikiran yang ia paparkan bahwa semakin kita berani menghadapi kesulitan hidup atau membiarkan diri kita menderita, maka semakin kita akan mendapat kebahagiaan. Ini adalah sebuah paradoks dari kehidupan, yang menunjukan bahwa semakin kita lari dari penderitaan malah membuat kita semakin menderita.

Contohlah seorang yang membiarkan dirinya menderita karena membangun usaha dan berkali-kali gagal hingga akhirnya terbentuk usaha yang cukup mapan. Penderitaannya berakhir dengan kebahagiaan. Sementara, ada orang yang menggunakan uangnya untuk berfoya-foya dan bahkan menggunakan miras dan narkoba untuk menciptakan kebahagiaan semu. Maka ia akan semakin menderita di kemudian hari akibat kemiskinan dan penyakit yang dideritanya.

Mark Manson layaknya Nietzsche yang berfilsafat dengan Palu dan Gada. Ia memaksa kita menyadari sisi gelap umat manusia dan memaksa kita menerimanya. Tiap pukulan pemikirannya akan membuat kita berusaha menolaknya. Namun, setelah kita berfikir cukup panjang, perlahan kita akan menerimanya. Setelah itu, hidup kita akan menjadi lebih baik layaknya pil pahit untuk menyembuhkan penyakit mental yang kita derita.

BACA JUGA  RE-PODCAST: #RBBSpecialRamadan​ Ep01 - Biografi Nabi Muhammad SAW

Sebuah Buku Bagi Mereka yang Menderita

Buku ini sangat cocok bagi mereka yang merasakan beratnya hidup dan ketidakadilan yang terjadi dalam hidupnya. Bahkan juga cocok bagi mereka yang merasa bahwa jalan hidup mereka malah membawa mereka pada penderitaan tak ada akhir dan tujuan akhir yang diharap semakin kabur.

Bahasa buku ini memang sangat kasar dan acapkali membuat diri saya yang berpegang kepada nilai-nilai luhur Bangsa Asia terluka. Namun, dibalik kata-kata kasar ini terdapa kebenaran yang ia tawarkan. Bagi pembaca, diharapkan bersabar atas gaya tulis Mark Manson yang notabene adalah orang barat yang terbiasa berkata kasar. Ia hanya berusaha menguak fenomena dibalik sebuah topeng besar keindahan yang dibangun oleh masyarakat. Mark hanya berusaha menunjukan sisi keropos kapitalisme dengan emosi yang sangat membara, sehingga ucapan kasar acap kali terlontar dalam tulisannya.