Pengaruh Nge-“Game” Tidak Sesuai Porsinya

0
58
AdvertisementKontak Kami

Bahaya Mengintai Bagi Milenial Yang Kecanduan Game

Seiring waktu, Pasti bro/sis sudah tau bahwa sangat banyak jenis game yang sudah berkembang, dan yang paling marak adalah berbasis . Tak heran, kemajuan di bidang ini terutama bagi milenial semakin pesat karena memiliki banyak peminat dan menjadi lahan bisnis yang menjanjikan.

Baik sebagai pemain atau developer, semuanya ikut merasakan untung yang tidak sedikit. Bukan tanpa konsekuensi, pertumbuhan industri game yang pesat tidak disertai dengan kedewasaan bagi para penggunanya.

Saat ini, kita berada di masa “darurat Game”. Mengapa demikian bro/sis? Karena nyatanya saat ini dari mulai anak-anak hingga orang dewasa sekalipun, telah banyak yang sedang kecanduan game. Mereka tidak merasa keberatan untuk bermain seharian, melupakan tugas dan tanggung jawab yang harusnya dijalankan.

Tak heran kini mudah sekali bro/sis menemukan realita anak sekolah yang menghabiskan waktunya di kelas untuk bermain game. Bahkan saat pelajaran masih berlangsung dan sang guru masih menerangkan.

Yang terparah saat ini tren bermain game sudah banyak yang meregang nyawa. Dengan mudah bro/sis akan menemukan banyak contoh orang-orang yang meninggal karena telah berhari-hari main. Rata-rata mereka meninggal dalam keadaan lemas karena berhari-hari tanpa sempat mengurus diri. Pada kesimpulan awal ini bro/sis bisa menyimpulkan sendiri bahwa game seolah bisa menggantikan hidup seseorang.

AdvertisementKontak Kami

Fenomena tersebut nyatanya masih menjadi topik yang debatable di luar sana. Ada yang menyatakan bahwa game itu sepenuhnya dilarang bahkan ada juga yang mengatakan bahwa masih diperbolehkan dengan syarat tertentu. Sehingga disini penulis ingin mengupas lebih dalam tentang game, untuk bisa memperjelas bagaimana pandangan yang ideal tentang game itu sendiri.

Pandangan Ideal tentang Permainan

Pada dasarnya suatu permainan/hiburan memiliki manfaat berdasarkan tujuan dari perilaku tersebut dengan syarat tidak menghabiskan kemampuan yang dimiliki untuk memenuhi hawa nafsunya (Qardhawi, 1993: 64).

Permainan juga memiliki makna “relaksasi jiwa”. Sebagai manusia yang diberikan nikmat berupa perasaan untuk menghasilkan semangat positif terutama dalam hal perjuangan memang tidak terlepas dari kondisi-kondisi tidak stabil yang dipengaruhi banyak hal.

Apapun sebabnya, andaikan hal itu memang telah membuat perasaan manusia terganggu apalagi  sampai mempengaruhi pikiran, maka memang relaksasi jiwa adalah obat yang bisa mengatasi masalah tersebut untuk me-recharge energi positif atau semangat dalam diri manusia.

BACA JUGA  Milenial Boleh Marah? Boleh Banget!

Dari sini atasan-batasan permainan salah satunya adalah tidak boleh dilakukan secara berlebih-lebihan. Pembatasan tersebut ditujukan agar orientasi dari relaksasi jiwa yang dilakukan tidak menjadi sebuah tujuan yang menggantikan tujuan hidup yang seharusnya. Kalau boleh menambahkan, justru seharusnya permainan yang dilakukan adalah yang mendukung pekerjaan atau peran kita.

Contoh dalam sejarah Islam, dimana Nabi Muhammad merekomendasikan permainan memanah saat itu dengan alasan yang kuat. Karena pada konteks tersebut peperangan sering terjadi akibat banyaknya ancaman bagi umat Muslim. Sehingga permainan tersebut selain menjadi alternatif untuk merelaksasi jiwa, namun juga perilaku produktif yang mendukung kemampuan memanah dalam perang

Dari sini sebenarnya kita harusnya minimal sudah bertanya-tanya. Apakah seorang milenial tidak memiliki tanggung jawab dalam hal upgrade diri dalam belajar ataupun bekerja. Jika hari-harinya diisi dengan bermain game yang melebihi porsi upgrade-nya, apakah akan mampu mengembangkan diri?

Dengan demikian selain dari segi porsi waktu yang digunakan untuk hiburan, jenisnya pun juga perlu dihitung-hitung. Pun akhirnya kita mengetahui jikasebaiknya  jenis-jenis hiburan atau permainan/game yang dimainkan, di dalamnya terdapat hal-hal upgrade kualitas dan nilai-nilai moral. Terutama yang mendukung peran/pekerjaan yang menjadi tanggung jawab. Karena hal tersebutlah yang bisa membuat produktivitas kita sebagai milenial yang berprestasi dapat terjaga.

Dampak buruk kebiasaan bermain Game tanpa tujuan kompetensi

Memang, nyatanya saat ini game pada jenis penggunaan dan tujuan pembuatan tertentu bisa menghasilkan sesuatu yang positif bro/sis. Contohnya seperti permainan edukatif untuk anak-anak usia dini yang fungsinya adalah merangsang antusiasme anak-anak yang suka bermain sepanjang waktunya agar mau mengisi waktunya sambil belajar.

Bahkan ada juga sebuah perusahaan di Jepang yang menggunakan instrumen game  sebagai alat tes untuk menyeleksi calon karyawannya, kaitannya untuk mengetahui kadar intelejensi, ketangkasan, dan variabel lain yang menjadi indikator  kompetensi seseorang untuk bisa bekerja di perusahaan tersebut.

Itupun  game yang disediakan sudah didesain sedemikian rupa agar menyesuaikan dengan indikator yang ingin dicapai. Dengan begitu permainan tersebut ketika dijalankan tidak akan menggeser tujuan hidup seseorang, menjadi hanya untuk kesenangan dalam bermain game tersebut semata.

BACA JUGA  Bagi Milenial, Tahu Ilmu dan Berilmu itu Sama?

Faktanya gamegame  yang ada dan beredar di luar notabene didominasi oleh jenis-jenis yang tujuannya adalah untuk hiburan semata bahkan selain tidak memiliki unsur pengembangan diri dan unfaedah lainnya. Di lain sisi juga memuat konten atau unsur yang kurang baik seperti kekerasan, pornografi, dan sejenisnya.

Pernahkah bro/sis berpikir. Meskipun setiap game itu memiliki kategori usia, namun apakah saat bro/sis sudah berusia 18 tahun misalnya, game dengan kategori “18+” menjadi bermanfaat atau bernilai baik untuk kita? Kita hanya dianggap bisa membedakan yang baik dan buruk, bukannya akan lebih produktif setelah bermain apalagi untuk porsi waktu harian yang panjang.

Berikut adalah dampak buruk dari kebiasaan bermain Game melebihi porsi:

  • Menggantikan Peran dan Pekerjaan

Pada dasarnya game  yang bisa memberikan efek candu bagi para pemainnya pastinya  juga akan memunculkan tingkat kesenangan yang tinggi. Dan jika kesenangan tersebut telah berulang-ulang terjadinya, maka sebenarnya ini akan menyebabkan munculnya sebuah kebiasaan baru bagi seseorang. Karena dalam kesenangan tersebut terdapat kebanggaan ketika melewati sebuah level, menjadi ranking tertinggi, memiliki skill yang mumpuni dalam bermain.

Berbahayanya, jika kebiasaan ini sampai lebih besar dari dorongan belajar dan bekerja misalnya, maka dorongan lama ini akan tergeser bahkan bisa hilang karena tergantikan. Efeknya bro/sis hanya akan jadi milenial yang stuck dan akan kehilangan tempat.

Hal ini sangat mungkin terjadi apabila keseharian seseorang dominan diisi oleh game tersebut sehingga sumber dorongan aktivitas hanya berasal dari situ. Andaikan hal ini terjadi pada para generasi milenial secara menyeluruh, maka milenial hanya akan menjadi generasi “gagal”. Karena para pemuda akhirnya tidak lagi memiliki arah yang bisa membuat diri mereka siap menjadi generasi milenial yang berkualitas.

  • Kadar Lelahnya Setara Dengan Bekerja Profesional

Saat ini gamegame yang beredar diluar sana sudah didominasi oleh jenis yang memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi untuk memainkannya seperti game ber-genre MOBA salah satunya.

Sehingga memainkannya dengan harapan untuk mendapatkan kemenangan. Secara otomatis kita akan mengerahkan segala fokus bahkan berpikir keras layaknya seseorang yang sedang bekerja keras. Ini sangat jelas bahwa bermain game akan memiliki tingkat kelelahan bahkan hampir seperti yang disebabkan ketika kita bekerja.

BACA JUGA  10 Manfaat Kopi Untuk Kesehatan

Jika kita memiliki tanggung jawab atau tugas yang memiliki bobot cukup penting, maka seharusnya kita perlu mengistirahatkan tubuh kita di luar dari waktu produktif.

Namun apa jadinya jika dalam 24 jam, kita menggunakan 9 jam untuk fokus bekerja / belajar misalnya.  Ditambah saat waktu luang digunakan untuk bermain game dengan  dengan minimal waktu rata-rata yang penulis temukan dalam sebuah riset mayoritas 3 jam untuk bermain game bahkan lebih. Maka itu sama saja dengan menekan tubuh kita untuk bekerja selama 12 jam dalam sehari.

Dan bisa dibayangkan bagi yang ngegame lebih lama dari itu. Kerugiannya yaitu kelelahan tanpa manfaat. Efek jangka panjangnya, bisa mengganggu pekerjaan maupun peran yang dimiliki.

  • Berpotensi Menjadi Sebuah Kultur Negatif

Saat ini, nyatanya bermain game telah menjadi kultur atau tren yang mendorong orang untuk terus konsisten bermain. Atau bagi yang belum menjadi player untuk coba-coba memainkannya dan akhirnya kecanduan. Ini tidak sekali saja terjadi, namun sudah berulang kali terjadi seiring dengan jenis game yang sedang tren aktualnya.

Sebuah kultur apabila memiliki sifat berlawanan dari kultur sebelumnya, maka kultur baru akan menggeser atau menghilangkan yang sudah ada sebelumnya. Dalam hal ini adalah kultur produktif atau bahkan kultur “perjuangan” para milenial.

Jika diibaratkan seperti sebuah mobil, bisa dibayangkan jika kultur perjuangan itu seperti “bahan bakar” yang  akan menjalankan mobil tersebut. Namun kita malah memilih bahan bakar yang salah dan justru membuat mobil kita tidak bergerak bahkan rusak. Itulah gambaran sederhana yang akan terjadi

Penutup

Sebelum tulisan singkat ini berakhir, diharapkan bro/sis yang membaca tulisan ini untuk melakukan perenungan. Tentang siapa kita ini, apa tujuan hidup kita, dan apa tanggung jawab kita setelah kita tahu tujuan kita. Berbicara panjang lebar tentang game, sekarang tanyakan pada diri kita, apakah kita sudah ideal dalam memanage waktu refreshing kita dengan baik khususnya saat main game?

Oleh sebab itu, sebagai milenial yang unggul sudah saatnya bijak dalam memutuskan. Memilih kegiatan “relaksasi jiwa” yang terbaik untuk perkembangan kita mencapai tujuan yang ingin kita capai.

Wassalam

 

AdvertisementKontak Kami

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.