Milenial Boleh Marah? Boleh Banget!

0
44
Milenial pasti masih banyak yang berkutat pada masalah emosi. marah adalah mekanisne yang harus dijawab sejak dini
AdvertisementKontak Kami

Bagaimana Milenial Mengendalikan Rasa Marah

Bro/sis Reaktif, marah itu adalah sebuah hasil dari perasaan manusia yang menurut Charles Rycroft  adalah reaksi emosional kuat yang didatangkan oleh ancaman, campur tangan, serangan verbal maupun fisik, atau frustasi. Yang jelas pasti bro/sis semua tidak terkecuali bro/sis pernah merasakan marah. Umumnya pasti berawal dari perasaan tidak nyaman ya bro/sis. Dari banyaknya contoh perilaku marah yang bersifat agresif, tidak heran jika perilaku marah sangat erat kaitannya dengan penyakit mental. Lantas seperti apa proses yang tyang terjadi dibalik rasa marah kita dan bagaimana cara mengendalikan marah itu?

Kondisi yang terlihat antara lain adalah wajah yang memerah, pandangan yang tajam, nafas pendek, tekanan darah yang meningkat dan tentu saja masih banyak selainnya yang bisa bro/sis ketahui. Karena sejatinya kemarahan bukanlah sesuatu yang asing, dengan kata lain siapapun pernah mengalami atau melihat realitasnya.

Seseorang yang sedang dalam keadaan marah pasti rasionalnya menjadi terganggu. Yang harusnya sebelum menyikapi masalah perlu mencerna dengan rasional dan melihat dari sudut pandang yang obyektif, namun hal tersebut tidak terjadi lantaran telah dikuasai oleh dorongan untuk melawan saat kita marah.  

Fenomena ini bisa terjadi pada siapa saja. Dalam sejarah, Rasulullah SAW sebagai figur yang memiliki kesabaran luar biasa sekalipun pernah merasakan dorongan marah yang besar. Ketika mengetahui  paman yang paling dicintai dan selalu melindungi, yakni Hamzah bin Abdul Muthalib terbunuh dengan sadis di Perang Uhud. Bisa bro/sis bayangkan saat itu bagaimana perasaan yang dialami oleh Rasulullah, tatkala menerima kenyataan bahwa pamannya harus berpulang dengan cara yang mengenaskan. Beliau dikabarkan sama sekali tidak ingin melihat wajah orang yang membunuh pamannya saat itu. Meskipun dengan kondisi amarah demikian, ia tidak sampai melakukan sesuatu yang berlebihan seperti ingin balas dendam, dll.

Bisa bro/sis bayangkan saat itu bagaimana perasaan yang dialami oleh Rasulullah, tatkala menerima kenyataan bahwa pamannya harus berpulang dengan cara yang mengenaskan. Beliau dikabarkan sama sekali tidak ingin melihat wajah orang yang membunuh pamannya saat itu. Meskipun dengan kondisi amarah demikian, ia tidak sampai melakukan sesuatu yang berlebihan seperti ingin balas dendam, dll.

AdvertisementKontak Kami

Akhir-akhir ini yang merupakan konteks dimana banyak realitas kemarahan sering terjadi baik yang sifatnya personal atau massa. Mulai dari kasus penistaan agama yang menyeret seorang politikus non muslim, berbagai macam isu-isu hoax yang ditujukan untuk membangkitkan kemarahan masyarakat terhadap suatu obyek, santernya isu-isu Pelakor atau perebut laki orang yang banyak diantaranya tersebar lewat video berisi kemarahan terhadap si pelaku di media sosial, hingga realitas pribadi yang dialami penulis dan teman-teman penulis terkait dengan penghianatan teman dekat yang sudah dipercaya sebelumnya.

BACA JUGA  10 Manfaat Kopi Untuk Kesehatan

Namun membahas tentang marah juga menjadi hal yang bisa menyita perhatian tersendiri. Mulai dari banyaknya pendapat yang pro dan kontra. Tidak terkecuali rhadap status boleh atau tidaknya marah itu sendiri baik dari perspektif perasaan maupun perilaku. Ada yang mengatakan jika marah adalah sesuatu yang patut diwajari sehingga ekstrimnya tidak perlu ada penanganan khusus. Namun dari sisi yang berseberangan ada yang mengatakan bahwa marah itu dilarang secara “absolut” atau haram untuk sama sekali dilakukan. Ekstrimnya, ketika menghadapi ancaman, penghianatan, atau ketidakadilan maka hal ini bukanlah alasan untuk seseorang memiliki perasaan atau perilaku marah.

Hal seperti diatas jelas menimbulkan status yang abu-abu. Bagaimana tidak, ada dua argumen yang berseberangan jauh atas status marah itu diperbolehkan atau tidak. Sehingga jika hal ini terus dibiarkan, maka status abu-abu tersebut akan terus ada dan bepotensi membingungkan kita semua bro/sis. Termasuk akan menyulitkan penyikapan kita nantinya, baik untuk meredam, berempati dengan orang lain, hingga menjaga persatuan itu sendiri.

 “Bukanlah
orang kuat itu karena kemampuannya bergulat, tetapi orang yang kuat itu adalah orang
yang bisa mengendalikan nafsunya ketika marah.” (H.R.Muslim)

Dari sabda yang diungkapkan oleh Rasulullah diatas menjelaskan bahwa perlu adanya proses pengendalian, sebagai bentuk kehati-hatian bagi seseorang yang sedang marah agar tidak menimbulkan dampak negatif yang disebabkan oleh kemarahan bro/sis.

Pun dalam Q.S Al-Baqarah : 194

Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadapmu.” 

Jika bro/sis menghayati ayat tersebut dan dihubungkan dengan konteks orang yang sedang marah, dimana orang tersebut akan  cenderung terdorong untuk melakukan serangan atau balasan pada sesuatu yang memicu kemarahan, maka disini untuk bentuk perilakunya adalah bagaimana bro/sis diperbolehkan untuk membalas sesuai dengan proporsi dan keseimbangan. Dengan kata lain ada aturan yang membatasi perilaku marah seseorang yakni agar diarahkan sesuai dengan proporsi. Bahkan dimotivasi oleh Allah SWT untuk lebih baik memaafkan seperti yang tertuang dalam Q.S Al-Maidah : 45

dan luka-luka (pun) ada qisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak qisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.” 

Tentu saja dari sini terlihat bahwa pengaturan tersebut mengarahkan kita semua agar tidak terjebak dalam perilaku marah yang membabi buta dan merusak keharmonisan antar sesama. Sehingga dari sini saja sudah menggugurkan 2 argumen sebelumnya yang menyatakan bahwa kemarahan itu adalah sesuatu yang tidak perlu dikendalikan dan mutlak dibiarkan maupun yang menyatakan bahwa marah adalah sesuatu yang haram tanpa pengecualian.

Sehingga dari sini tidak bisa bro/sis membiarkan kemarahan yang ada dalam diri bro/sis seperti orang yang sakit mentalnya karena pasti kemarahan tersebut akan menenggelamkan bro/sis semakin jauh dari yang seharusnya bro/sis lakukan. Perlu ada usaha untuk mengendalikan diri dari kemarahan seperti orang yang sehat secara mental, yakni pengendalian kemarahan (jika seandainya terjadi) secara proporsional sebagai pembatas agar tidak merugikan orang banyak dan diri kita sendiri.

BACA JUGA  Pengaruh Nge-"Game" Tidak Sesuai Porsinya

“Seni” mengendalikan amarah dengan proporsional

Setelah banyak “membedah” secara menyeluruh tentang proses terjadinya dan status marah itu. Sekarang saatnya kita mengetahui cara-cara yang patut dilakukan untuk mengendalikan amarah, yaitu:

  • Melapangkan dada dengan pendekatan rasional

Memaafkan harusnya diibaratkan sebagai “jalan pintas” bagi seorang mukmin untuk bisa meredam kemarahannya. Tentu saja orang yang seperti ini memiliki landasan pemahaman yang benar mengenai nilai penting memaafkan itu sendiri. Rasulullah mendidik para sahabatnya selama kurun waktu 13 tahun masa dakwah, untuk menjadi orang-orang yang selalu memaafkan padahal tidak lewat seharipun mereka tidak disakiti lahir dan bathin saat masa dakwah pra-hijrah di Makkah. Sikap lapang dada menjadi instrumen yang mujarab bagi orang yang memiliki kepribadian temperamental atau pemarah. Mengapa?

Nyatanya sikap tersebut jika dilandaskan pada pemahaman dan kesadaran bahwa setiap manusia pasti pernah bersalah. Kondisi pikiran yang dipengaruhi pengetahuan dan pengalaman masing-masing juga berbeda. Dan kesalahan adalah sesuatu yang tidak mungkin dihindari. Berbeda dari keburukan yang didorong oleh unsur kesengajaan yang mengancam orang lain bro/sis. Yang dengan wajar secara obyektif marah itu adalah hal yang diperlukan namun tetap mengikuti batas keseimbangan.

Oleh karena itu untuk mengetahui kadar kesalahan orang lain, tolok ukur yang paling tepat adalah dengan mengukur kadar kesalahan bro/sis terhadap Allah, diri sendiri, maupun orang lain. Pasti bro/sis menyadari bahwa sangat dimungkinkan jika kesalahan bro/sis lebih besar. Sehingga dari sini bro/sis akan merasa bahwa diri ini juga membutuhkan kelapangan dada dari orang yang pernah tersakiti oleh kesalahan bro/sis. Dengan kata lain tidak adil bro/sis menutup kelapangan dada bro/sis untuk memaafkan orang lain.

Dari sini, bro/sis akan lebih mudah untuk berempati atas kesalahan orang lain dan juga mempertimbangkan baik dan buruk perilaku bro/sis selanjutnya dalam rangka mengendalikan amarah bro/sis agar tidak menodai keharmonisan antar manusia.

  • Mengetahui hikmah lembaran masa lalu

Memikul beban kesalahan masa lalu tanpa melihat jika setiap tragedi memiliki hikmah dibaliknya akan membuat bro/sis tidak pernah move on. Karena pandangan bro/sis tidak pernah berpaling dari pandangan ke belakang. Dampaknya, masa depan cerah di depan seakan merasa diabaikan oleh diri sendiri dan enggan menghampiri.

Orang yang ingin menyelamatkan diri dari kemarahan harus mampu mengambil hikmah dari masa lalu yang kelam. Ia harus menyelamatkan dirinya dari memori masa lalu yang kelam. Salah satu jalan yang bisa dilakukan adalah menanamkan dalam hati dengan berkata, “Allah maha pemaaf dan pemurah. Aku adalah manusia saat ini bukan masa lalu. Aku sudah bebas dari belenggu memori kelam sebagai orang yang sudah berubah. Dan aku adalah leader bagi hidupku saat ini, bukan budak masa lalu.”

Muhammad Nabil dalam bukunya “Manajemen Marah” menceritakan, seorang pendeta Budha berjalan di pinggir pantai dengan muridnya tiba-tiba melihat seorang wanita yang hampir tenggelam. Dengan sigap sang pendeta menolong wanita tersebut dan setelah menolongnya ia diberikan pertanyaan oleh muridnya, “mengapa engkau mengotori diri dengan menggendong wanita itu padahal dalam Budha dilarang menyentuh wanita?” Sang pendeta menjawab, “masalahnya engkau tetap membawa wanita itu dalam pikiranmu hingga sekarang, sedangkan aku telah meletakkannya dan bahkan melupakannya.”

BACA JUGA  Muslim Milenial Melawan Hoax dan Hawa Nafsu?

Kisah ini sangat cocok sebagai simbol akan seseorang yang memiliki kepribadian sering marah yang dipengaruhi masa lalunya. Mereka yang selalu membawa kepahitan masa lalunya akan membuat beban tersebut semakin bertambah berat tiap harinya. Karena itu bro/sis harus menutup lembaran masa lalu dan belajar melupakannya secara positif. Melupakan bukan berarti menghilangkan sama sekali, melainkan tidak selalu mengungkit-ungkit, dan membiarkan otak kita mengganti prioritas untuk dipikirkan.

  • Heart controlling

Dalam kondisi kehidupan yang kian rumit tiap harinya, manusia sering sekali lupa menjadi bodyguard bagi perasaannya sendiri. Ketika tumpukan perasaan sudah menebal tanpa pernah dikontrol, maka ia akan dikejutkan oleh peringatan mendadak seperti bom waktu, kemudian meledak menjadi reaksi amarah.

Oleh karena itu bro/sis perlu untuk bersikap hati-hati terhadap tumpukan masalah maupun konflik dengan orang lain. Karena kondisi ini disadari atau tidak, sangat membahayakan dan menyeret diri bro/sis dalam kemarahan yang jika terlambat diobati akan meledak-ledak. Dengan begitu bro/sis diwajibkan untuk selalu berintrospeksi diri tiap hari, tiap minggu, ataupun tiap bulannya yang berkenaan dengan perasaan terutama yang negatif. Agar bro/sis bisa mengobatinya sejak awal. Andaikan diibaratkan warna merah untuk melambangkan tingkat amarah, maka semakin indikatornya berwarna merah berarti tanda bahaya sudah semakin dekat terjadi untuk diri bro/sis.

Dapat ditarik hikmah bahwa kemarahan bisa terjadi kapan pun dan dimana pun. Untuk tetap berada dalam koridor perilaku marah yang masih diwajari, maka bro/sis perlu untuk peduli terhadap diri sendiri. Terus berupaya dalam rangka meminimalisir potensi amarah yang sulit untuk bro/sis kontrol nantinya. Karena bro/sis semua dibutuhkan kerasionalannya termasuk dalam mengontrol emosinya, agar bisa menjadi milenial yang bermanfaat.

AdvertisementKontak Kami

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.