Wanita Karir dalam Pandangan Islam (Menjawab dilematis terkait pandangan tradisional tentang wanita karir)

0
216
Business Women Muslimah
Sumber: gettyimages.com/@ Chadchai Ra-ngubpai
Advertisement

Pengantar

Dalam mencapai syurga tentunya kita perlu berkontribusi melakukan pembangunan masyarakat untuk mengumpulkan amal-amal agar dapat menjadi pahala kita untuk masuk ke syurganya Allah SWT kelak, dan dalam meraih kontribusi tersebut tidak jarang tokoh-tokoh masa lalu yang dapat kita teladani dikarenakan mereka memberi kontribusi yang sangat besar. Tidak hanya seorang pria namun juga seorang wanita muslim di masa lalu tersebut tidak kalah hebatnya dalam memberikan kontribusi tersebut, sebut saja Ummu Imarah seorang istri dari Ghoziyah bin Amru dan seorang ibu dari Abdullah bin Zayd yang ikut bersama kaum muslimin pada perang uhud dan menerima sakit yang luar biasa karena terkena sekitar 13 hingga 14 anak panah pada saat sedang melindungi Rasulullah SAW, lalu Al-Khansa yang terjun ke medan motivasi pasukan dalam pertempuran membela agama islam dengan salah satu karyanya dapat memotivasi ke empat anaknya sehingga betempur habis-habisan dan mati syahid dalam pertempuran tersebut, kemudian Ummu Mahjan salah seorang sahabat Rasul yang sampai akhir hayatnya tidak pernah berhenti dalam berdedikasi dan berkarya dengan membersihkan masjid dari kotoran dan dedaunan. Tentunya dedikasi dan karya yang besar tersebut dapat mereka lakukan karena islam pada saat itu menyediakan lahan bagi mereka untuk menghasilkan karya yang sangat besar untuk agamanya sebagai seorang muslim.

Jika kita lihat di konteks abad 21 ini sebenarnya tidak dapat dinafikkan bahwa lahan karya yang tersedia untuk para wanita muslim tersebut juga sangat besar dan tidak kalah dengan dengan pria, terlebih lagi dengan gagasan emansipasi wanita yang pernah digagas oleh RA Kartini dan R Dewi Sartika di Indonesia. Dapat kita lihat banyak pekerjaan-pekerjaan yang saat ini tersedia di Indonesia dapat memberikan kesempatan bagi wanita untuk menggeluti pekerjaan tersebut sehingga dapat membuka peluang wanita di Indonesia untuk membangun karirnya dalam memberikan kontribusi pembangunan bangsa. Sebut saja seperti peran sebagai gubernur Jawa Timur yang saat ini di geluti oleh seorang wanita muslim yaitu Khofifah Indar Parawansa, Kemudian seorang wanita muslim bernama Tri Rismaharini yang saat ini dapat berperan membangun kota Surabaya sebagai walikota Surabaya.

Namun, ditengah sedang gencar-gencarnya peran pembangunan yang saat ini tidak hanya bisa dilakukan oleh pria muslim, akan tetapi juga dapat dilakukan oleh seorang wanita muslim. Terdapat beberapa kalangan umat islam tradisional yang justru berpendapat kalau wanita berkarir di luar rumah bertentangan dengan ajaran islam, dikarenakan menurut mereka terdapat ayat Al-Qur’an yang menyatakan kalau yang benar wanita berkarirnya adalah didalam rumah sebagai ibu rumah tangga dan melaksanakaan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ayat tersebut adalah sebagai berikut “Dan hendaklah kamu tetap dirumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS Al Ahzab : 33). Bahkan ada salah seorang ulama dalam bukunya yang menyatakan kalau wanita terlarang berkarir di luar rumah dikarenakan akan meninggalkan kewajibannya dalam mengurusi pekerjaan rumah tangga, dengan teksnya yang berbunyi “Pada dasarnya hukum karier wanita di luar rumah adalah terlarang, karena dengan bekerja diluar rumah maka akan ada banyak kewajiban dia yang harus ditinggalkan. Misalnya  melayani keperluan  suami, mengurusi dan mendidik anak serta hal lainnya yang menjadi tugas dan kewajiban seorang istri dan ibu. Padahal semua kewajiban ini sangat melelahkan yang membutuhkan perhatian khusus. Semua kewajiban ini tidak mungkin terpenuhi kecuali kalau seorang wanita tersebut memberi perhatian khusus padanya.”

Dari fakta yang terpaparkan diatas, dapat diketahui terdapatnya suatu dilematis pemikiran mengenai bagaimana sebenarnya kebolehan wanita dalam berkarir di luar rumah, di satu sisi dilihat dari sejarahnya Rasulullah SAW tidak pernah membatasi wanita dalam berkarir/berkontribusi untuk agamanya yang terlihat dari banyaknya karya yang dihasilkan wanita muslim pada saat zaman Rasul diatas bahkan dengan begitu wanitapun akan mendapatkan karya amal yang besar pada konteks saat ini seperti Khofiifah Indar Parawansa dan Tri Rimsaharini karena karirnya tidak dibatasi di dalam rumah, namun disisi lain terdapat ayat Al-Qur’an yang dipandang oleh beberapa ulama yang menyatakan kalau wanita tidak boleh berkarir di luar rumah dengan kata lain karirnya dibatasi di dalam rumah sebagai ibu rumah tangga dengan argument penguat bahwa pekerjaan tersebutlah yang menjadi kewajiban wanita yang harus wanita tersebut jalankan.

BACA JUGA  Umar Bin Abdul Aziz : Warisan Terpenting Bagi Seorang Anak

Sehingga dengan masalah dilematis tersebut, maka kali ini penulis akan membahas bagaimana sebenarnya wanita yang berkarir di luar rumah dalam pandangan islam, sehingga harapannya dapat menjadi pembelajaran dan pencerahan bagi kita terkait pemahaman mengenai sejauh apa wanita dapat berkarir memberikan kontribusi pada agamanya.

Advertisement

Konsep Wanita Karir

Wanita menurut KBBI adalah perempuan dewasa, dengan kata lain merupakan perempuan yang telah mencapai fase dewasa dalam pertumbuhan dan perkembangannya, sedangkan karir menurut KBBI adalah perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan bisa berupa pekerjaan, jabatan dan sebagainya, sedangkan makna karir menurut versi pembangunan masyarakat sesuai dengan yang kita pahami adalah perkembangan dan kemajuan dalam memberikan kontribusi/karya pembangunan sektor-sektor masyarakat. Sehingga dengan kata lain wanita karir merupakan seorang perempuan yang sudah dewasa yang memberikan kontribusi kemajuan dalam pembangunan sektor-sektor masyarakat.

Menurut Hafidz Anshary dan Huzaimah T dalam bukunya Ihdad Wanita Karir dalam Problematika Hukum Islam Kontemporer, menyebutkan bahwa salah satu ciri wanita karir adalah bidang pekerjaan yang wanita tersebut tekuni merupakan bidang yang sesuai dengan keahliannya, hal tersebut merupakan konsekwensi yang sangat logis dikarenakan agar dapat memberikan kontribusi pembangunan yang berefek kepada kemajuan pembangunan sektor masyarakat tersebut, maka seseorang yang memberikan kontribusi tersebut haruslah memiliki keahlian atau kompetensi, karena tanpa keahlian atau kompetensi tersebut maka subjek pembangun tidak akan bisa menemukan sunnatullah secara cepat dan tepat untuk melakukan pembangunan yang berefek pada kemajuan sektor masyarakat yang dia bangun.

Sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa wanita karir versi pembangunan masyarakat adalah wanita yang bergerak secara aktif menggeluti profesi untuk menghasilkan karya pembangunan sektor masyarakat sesuai dengan sektor yang dia miliki keahliannya, sebagai contoh wanita yang memiliki keahlian sebagai dokter maka dia dapat dikatakan sebagai wanita karir jika dirinya dapat mengoptimalkan seluruh keahlian yang dimilikinya untuk memberikan karya pembangunan masyarakat pada sektor kesehatan, kemudian jika wanita tersebut memiliki kemampuan mengajar maka dia dapat dikatakan sebagai wanita karir jika dirinya dapat mengoptimalkan seluruh keahlian yang  dimilikinya  untuk memberikan karya pembangunan masyarakat pada sektor pendidikan, dan berlaku juga untuk wanita yang memiliki keahlian pada sektor-sektor yang lainnya.

 

Islam dalam memandang Wanita Karir

                Ketentuan islam tentang karir dalam islam dapat diketahui dari firman Allah SWT dalam QS Al-Baqoroh : 30 yang berbunyi “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat. “sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. Mereka berkata “mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan menyucikan engkau” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dari firman Allah SWT tersebut maka dapat dipahami kalau perintah menjadi khalifah tersebut selaras dengan pengertian karir tersebut sendiri, dikarenakan menjadi khalifah di muka bumi berarti bertugas untuk mengelola bumi, dengan kata lain bertugas untuk melakukan pembangunan sektor-sektor masyarakat di muka bumi, dikarenakan yang mempengaruhi hal-hal yang terjadi di bumi adalah masyarakat yang berada di bumi dan perintah tersebut ditujukkan pada seluruh umat manusia tidak hanya pria (laki-laki), melainkan juga wanita (perempuan). Maka berkarir untuk memberikan kontribusi pembangunan sektor masyarakat tidak hanya menjadi kewajiban pria, namun juga menjadi kewajiban wanita, sehingga wanitapun mempunyai hak untuk melaksanakan kewajiban tersebut.

BACA JUGA  Kepekaan Spiritual Sebagai Syarat Kesuksesan

Lalu pada pemaparan sebelumnya juga telah dapat kita ketahui bahwa seseorang dalam berkarir memberikan kontribusi pada pembangunan sektor masyarakat haruslah seseorang yang memiliki kompetensi untuk melakukan pembangunan di sektor tersebut, karena jika tidak memiliki kompetensi tersebut maka kecepatan dan ketepatan dalam pembangunan tidak akan tercapai bahkan kemungkinan terburuknya yang terjadi justru adalah kemunduran dikarenakan dia tidak memiliki kompetensi untuk memecahkan masalah di sektor yang dia bangun tersebut dengan tepat. Maka dengan asumsi tersebut dapat diketahui sejauh wanita memiliki kompetensi untuk membangun karya pembangunan sektor masyarakat pada sektor tertentu di luar rumah maka dia berhak untuk menggeluti karir tersebut tidak harus pria dikarenakan dia memiliki kompetensi untuk menggeluti karir di sektor tersebut. Sejarah pun membuktikan sesuai dengan yang penulis paparkan pada saat pengantar yaitu wanita-wanita pada saat zaman Rasul sangat dipotensikan dan diperbolehkan untuk berkarir selain di dalam rumah jika memang wanita tersebut memiliki kompetensi pada sektor di luar rumah, seperti Ummu Imarah yang berkarir pada medan peperangan yaitu saat perang uhud dengan karyanya yang melindungi Rasulullah SAW dari anak panah yang berusaha membunuhnya.

Pada saat zaman Rasul saja hal tersebut sangat diperbolehkan sejauh wanita tersebut memiliki kompetensi, maka jika kita bandingkan dengan situasi dan kondisi wanita di abad 21 ini maka justru kemudahan wanita untuk berkarir di luar rumah lebih diperbesar karena jika kita lihat pada kompetensi-kompetensi yang dimiliki oleh wanita secara umum di zaman sekarang situasinya sangat berbeda dengan zaman dahulu, kalau dulu wanita secara umum hanya memiliki kompetensi untuk menjadi ibu rumah tangga karena situasinya memang pada saat zaman dahulu pemecahan masalah yang dibutuhkan lebih kepemecahan masalah yang berhubungan dengan fisik dan pria lebih mumpuni dalam hal itu, namun pada saat ini pemecahan masalah lebih membutuhkan kemampuan akal serta otak ketimbang otot dan wanita maupun pria mempunyai potensi yang sama untuk memiliki kompetensi pemecahan masalah dalam hal tersebut. Jikalau dahulu wanita hanya dipotensikan belajar dan mendapatkan tingkat pendidikan yang tidak terlalu tinggi dan hanya dilatih untuk menjadi ibu rumah tangga saja, namun sekarang dalam hal tingkat pendidikan pria maupun wanita memiliki potensi yang sama dalam hal pendidikan sehingga kompetensi yang dimiliki pun akan lebih beragam ketimbang hanya menjadi ibu rumah tangga saja, sehingga karena kompetensi yang beragam dan mudahnya akses wanita untuk mendapatkan kompetensi pemecahan masalah dan pembangunan sektor masyarakat saat ini itulah seharusnya wanita dalam berkarir di luar rumah dalam abad ini lebih diperbolehkan karena jika mengekangnya hanya untuk berkarir di dalam rumah maka akan mensia-siakan potensinya yang seharusnya bisa sangat menguntungkan untuk pembangunan sektor-sektor masyarakat, selain itu juga menghalangi wanita untuk berkarya lebih di luar rumah tersebut dikarenakan dia memiliki hal untuk berkarya di luar rumah tersebut karena memiliki kompetensinya.

Maka dengan demikian peran wanita dalam berkarir di era saat ini tidak bisa dipersempit hanya boleh berkarir di dalam rumah saja yaitu sebagai ibu rumah tangga, akan tetapi jika mereka memiliki kompetensi yang lebih seperti menjadi guru, pengacara, bahkan seorang pemimpin maka mereka layak untuk berkarir di luar rumah menggeluti karir-karir yang mereka miliki kompetensinya tersebut.

Namun ditengah lapangnya kompetensi yang dapat didapatkan wanita saat ini, dalam berkarir pun tetap ada batasnya, yaitu jika memang secara kompetensi yang dimiliki tersebut memang salah satu kompetensinya adalah tidak boleh wanita melainkan harus pria karena pertimbangan fisik seperti tentara, maka pada jalan karir tersebutlah wanita tidak diperkenankan untuk berkarir tersebut, karena seperti yang telah terpaparkan sebelumnya pertimbangan seseorang dipersilahkan untuk berkarir di sektor tertentu adalah jika seseorang tersebut memiliki kompetensi di sektor tersebut, karena jika tidak bisa terjadi keterhambatan dalam pembangunan bahkan bisa terjadi kerusakan, maka dengan begitu keseimbanganlah yang tetap harus  dipertimbangkan dalam menggeluti suatu karir.

BACA JUGA  Berjuanglah Sebelum Ajal Tiba

Kritik pada pandangan wanita tidak boleh menjadi wanita karir/berkarir di luar rumah.

                Pada pemaparan di pengantar sudah penulis paparkan kalau mereka yang mempunyai pandangan kalau wanita tidak boleh berkarir di luar rumah, berpijak pada QS Al-Ahzab : 33, padahal jika kita perhatikan ayat tersebut tersambung dengan ayat sebelumnya, yaitu QS Al-Ahzab : 32 yang berbunyi “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik”, barulah setelah ayat tersebut disambung dengan QS Al-Ahzab : 33 yang sebenarnya bunyi lengkapnya yaitu “Dan hendaklah kamu tetap dirumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. sehingga dari pemaparan ayat 32-33 surat Al-Ahzab tersebut secara lengkap, maka dapat diketahui bahwa ayat tersebut sebenarnya spesifik hanya ditujukan pada isteri-isteri nabi dan bukanlah pada seluruh wanita muslim, yang pada saat itupun konteksnya adalah jika ada wanita yang keluar sendirian maka di kultur arab saat itu wanita tersebut kemungkinan besar akan terkena godaan dan pelecehan dari laki-laki yang melihatnya dalam ayat Al-Ahzab : 32 Allah SWT menyebutnya sebagai seseorang yang berpenyakit hati, sehingga diturunkanlah ayat 32 dan 33 tersebut sebagai perlindungan bagi isteri nabi karena mereka adalah wanita yang seharusnya dihormati ketimbang wanita lainnya karena statusnya adalah sebagai isteri seorang nabi sehingga jika keluar sendirian maka mereka tidak layak untuk digoda, sehingga dari situ maka dapat diketahui bahwa ayat tersebut tidak membicarakan sedikitpun tentang karir maupun karir dalam konteks wanita dalam pandangan islam, sehingga pengambilan ayat itu sebagai pijakan untuk menetapkan kalau wanita tidak boleh berkarir dalam hal ini berkarir di luar rumah adalah sesuatu hal yang keliru, kemudian selain itu pada konteks saat ini pun jika wanita keluar rumah sendirian khususnya di indonesia terdapat kultur yang mencegah para lawan jenisnya yang memiliki penyakit hati untuk menggoda wanita tersebut sampai kategori terjadinya pelecehan seperti yang terjadi di kultur arab zaman Rasulullah SAW, sehingga penetapan untuk mereka berkarirnya selalu didalam rumah dengan alasan untuk melindungi mereka pun juga tidak berlaku dikarenakan jika mereka berkarir di luar rumah saat ini mereka telah terlindungi oleh kultur indonesia yang berlaku saat ini.

Penutup

                Maka dari pemaparan penulis diatas, dapat disimpulkan kalau kita pahami secara logis, islam tidak melarang wanita untuk berkarir di luar rumah (menjadi wanita karir) jika memang wanita tersebut memiliki kompetensi di sektor karir yang dia geluti, bahkan jika kompetensinya sangat mumpuni maka justru spesifik wanita yang memiliki kompetensi mumpuni tersebut sangat dianjurkan untuk menjadi wanita karir pada sektor sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya, namun tetap memperhatikan aspek keseimbangan yaitu karir yang digelutinya harus sesuai dengan kompetensinya atau minimal secara potensial bisa mendapatkan kompetensi tersebut, sehingga dengan begitu penggelutan karir yang dijalankan akan menghasilkan kemashlahatan bukan kemudhorotan. harapannya dengan pemaparan saya ini dapat menghasilkan solusi pemecahan masalah bagi kebingungan masyarakat muslim terkait bolehkan wanita muslim menjadi wanita karir atau tidak, sehingga dapat membantu untuk melakukan pembangunan masyarakat seimbang kedepannya, Amiin.

Advertisement