Wabah Corona : The Unsinkable Economics?

0
43
Sumber pexels.com
Advertisement

Hari ini kita sudah mendapati manusia menjadi cukup sombong atau terlalu percaya diri akan sistem ekonomi yang mereka bangun. Namun, semua kesombongan itu sirna setelah sebuah wabah merebak. Hal ini mengingatkan kita kepada kejadian tenggelamnya kapal Titanic. Sebuah kapal yang dinyatakan tidak bisa tenggelam (unsinkable ship) namun sirna setelah hampir menghantam gletser. Artikel ini akan membahas mengenai  dunia ekonomi modern yang dinyatakan tahan guncangan dan nasib buruk yang menimpa kesombongan manusia.

 

Refleksi

15 April 1912, sebuah kapal yang dinyatakan sebagai ciptaan manusia yang paling sempurna tenggelam setelah bergesekan keras dengan sebuah gletser es. Kesombongan manusia atas karyanya yang luar biasa, terhapuskan segera setelah puing-piung kapal ditelan gelapnya samudera Atlantik. Kapal ini di nyatakan paling canggih karena memiliki 16 kompatemen yang bisa menutup kedap udara. Titanic akan tetap mengapung di air dalam keadaan apapun. Namun, kompatemen tersebut terkoyak oleh taring gletser yang sangat tajam dan air membanjiri kompatemen tersebut satu persatu. Tuhan telah menunjukan kuasanya melampaui kesombongan manusia.

Dunia ekonomi modern saat ini tidak jauh berbeda dengan Titanic yang menjadi lambang kesombongan manusia di Abad 19 tersebut. Rantai produksi diciptakan dengan sangat teliti dan penuh pertimbangan. Acap kali rantai produksi itu di lengkapi dengan perhitungan komputasi yang rigit. Negara-negara adidaya berusaha mengontrol minyak bumi karena merupakan rantai pasokan energi utama. Bahkan Amerika dengan berani berperang ke Timur Tengah untuk semakin menguatkan taringnya di rantai produksi tersebut.

Kini kita dapat teknologi informasi di buat dengan sedemikian rupa sehingga memermudah transaksi dengan para konsumen. Teknologi informasi menyempurnakan rantai produksi dari minyak mentah di Timur Tengah, desainer prodak di Amerika, pabrik-pabrik di China dan konsumen di Indonesia. Teknologi Informasi sendiri di buat dengan cukup dahsyat. Jikalau kita melihat RMS Titanic seberat 45.000 ton mengapung di lautan, maka kita dapati Falcon Heavy seberat 63.000 Kg melayang kelangit membawa satelit-satelit. Bahkan SpaceX menarget 10.000 satelit melayang mengitari bumi untuk memberikan akses internet gratis.

Advertisement
BACA JUGA  Nasional : Jokowi Meminta Evaluasi Subsidi Pupuk

 

Awal Kehancuran

Hari ini kita sudah mendapati manusia menjadi cukup sombong atau terlalu percaya diri akan sistem ekonomi yang mereka bangun. Namun, semua kesombongan itu sirna setelah sebuah wabah merebak di Negara China. Negara China sendiri adalah sebuah mata rantai strategis di dunia. China menyediakan sumber daya batu bara, baja dan tenaga kerja murah yang melimpah. Kini mata rantai itu bermasalah dan menularkan masalah ke mata rantai di berbagai negara di dunia. Kini kesombongan manusia kembali di jatuhkan oleh Tuhan.

Wabah ini merusak semua rantai produksi tanpa pandang bulu. Semua negara tidak berdaya menghadapi kehadiran wabah ini, baik yang sudah adidaya, masih berkembang dan terbelakang. Rantai produksi macet menyebabkan produksi terhenti dan kiriman barang kepada konsumen ikut terhenti pula. Berhentinya produksi menyebabkan PHK Massal dan berkurangnya kiriman barang menyebabkan harga melangit. Namun, melangitnya harga tidak dibarengi oleh kemampuan beli masyarakat (akibat PHK atau pendapatan yang tetap). Maka akhirnya pengusaha menurunkan harga barang (agar tetap terjual) yang berdampak pada berkurangnya modal. Berkurangnya modal, artinya semakin menyusut pabrik dan perusahaan mereka. Menyusutnya skala usaha tersebut membuat mereka akan kembali mem-PHK karyawannya. Lingkaran setan ini akan terus terjadi hingga skala negara dan itulah yang disebut dengan resesi.

Kini resesi menanti semua negara di dunia. Negara-negara Eropa kini sudah menyerah dan menerima datangnya resesi. Mereka semua saat ini mencari cara agar resesi yang menciptakan lingaran setan tersebut bisa berhenti. Ahli paling optimis menyatakan bahwa resesi ini sementara karena pemerintah akan mengucurkan modal untuk mempertahankan skala usaha perusahaan. Ahli paling pesimis menyatakan bahwa resesi ini jangka panjang karena wabah ini telah mengacauan rantai produksi dunia.

BACA JUGA  Rangkuman Berita Nasional 4 Januari 2021

 

Belajar dari HMS Titanic

Titanic memiliki beberapa saudara kapal (varian atau biasa disebut sister ship) diantaranya RMS Olympic dan Britanic. Setelah saudara mereka tenggelam, Olympic dan Britanic di benahi untuk meningkatkan keamanannya. Tentu, masalah terbesar Titanic adalah jumlah sekoci yang tidak sepadan dengan penumpangnya. Sehingga banyak penumpang Titanic yang mati kedinginan (hipotermia) di samudra Atlantik. Selain itu, digalakan pula patroli udara untuk memetakan gletser. Tentunya para kapten kapal akan lebih berhati-hati akan potensi bahaya tenggelamnya kapal. Walau mereka adalah kapten kapal di RMS Olympic dan Britanic, saudara dari di “Unsinkable Ship”.

Ekonomi Indonesia saat ini sangat bergantung kepada ekport bahan mentah dan import barang teknologi. Indonesia dinilai masih tertinggal secara teknologi untuk mampu menyaingi asing. Sementara itu, percepatan perkembangan teknologi membutuhkan bantuan pemerintah untuk berperan aktif. Jepang di tahun 1844 adalah bangsa yang tidak mengenal kapal bertenaga uap. Namun, di tahun 1943 (kurang dari 100 tahun) Jepang dengan berani menyerang Pangkalan Laut Amerika di Pearl Harbour dengan 6 Kapal Induk. Amerika saat itu dibuat terperangah oleh IJN Akagi yang merupakan kapal Induk yang cukup besar dan sepadan dengan kapal Induk tercanggih Amerika.

Jepang membutuhkan 100 tahun untuk berubah dari Zero to Hero. Ditahun 1905 jepang sudah berani melawan dan memenangkan peperangan atas kekaisaran Russia (71 tahun setelah 1844). Momentum itu dianggap sebagai bangkitnya Asia terhadap Imperialisme Barat. Kini Indonesia sudah merdeka selama 75 tahun, namun kita masih saja memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pihak Asing. Bahkan para pemikir kita dengan bangga terus saja menggemakan pemikiran Liberalisme dan Kapitalisme (prodak buatan asing) yang merugikan rakyat.

Pemerintah sendiri terlalu jauh terlibat dalam persengketaan politik dibandingkan dengan melayani masyarakatnya. Di masa modern ini, seharusnya kita memiliki paradigma pemerintah sebagai pelayan masyarakat. Namun kenyataannya kita masih dibayang-bayangi paradigma eropa abad kegelapan dimana tubuh pemerintah sebagai ajang perebutan kekuasaan. Jika kita hidup di abad kegelapan eropa, kita akan melihat Istana sebagai sebuah lembaga yang penuh intrik politik dan saling menjatuhkan. Hal tersebut membawa Eropa kepada konflik dan kekerasan yang terus berkelanjutan hingga puncaknya di Perang Dingin yang baru selesai di awal Abad 20. Tentu kita tidak mau Indonesia berakhir sama seperti Eropa Abad Pertengahan.

BACA JUGA  Membuat Pembersih Tangan "Hand Sanitizer" di Rumah

Kini terlihat sekali, Indonesia tidak memiliki kesiapan seperti Titanic dalam menghadapi tenggelamnya ekonomi Indonesia. Kesadaran akan pemerintahan yang melayani rakyat bukan hanya di tunjukan untuk pemerintah sebagai bahan evaluasi. Kesadaran ini juga harus dimiliki oleh masyarakat yang nantinya akan melahirkan calon pemimpin yang masuk di tubuh pemerintahan. Pemerintah harus berbenah dan mempersiapkan lebih banyak “sekoci” dibandingkan memperebutkan posisi kapten kapal. Jikalau tidak, kita akan melihat rakyat yang panik akibat permasalahan ekonomi. Hal tersebut layaknya para penumpang kapal Titanic yang memperbutkan kursi di Sekoci untuk dapat selamat.

 

Penutup

Ingatlah bahwa kita tidak boleh memaklumi kehancuran ekonomi Indonesia karena ekonomi dunia hancur. Jika bangsa ini hancur, mau kemana lagi kita akan tinggal. Tanah ini milik kita, kita rawat dan jaga bersama. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan peduli?

 

Refensi

https://en.wikipedia.org/wiki/Olympic-class_ocean_liner#Olympic diakses 7 Mei 2020 Pukul 04.00

https://en.wikipedia.org/wiki/First-class_facilities_of_the_RMS_Titanic diakses 7 Mei 2020 Pukul 04.00

https://en.wikipedia.org/wiki/Falcon_Heavy diakses 7 Mei 2020 Pukul 04.00

https://en.wikipedia.org/wiki/Japan_during_World_War_I#Events_of_1914 diakses 7 Mei 2020 Pukul 04.00

https://en.wikipedia.org/wiki/Russo-Japanese_War diakses 7 Mei 2020 Pukul 04.00

https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Ships diakses 7 Mei 2020 Pukul 04.00

https://www.dw.com/en/how-bad-will-the-recession-be/av-53082023 diakses 7 Mei 2020 Pukul 04.00

https://www.dw.com/en/germany-faces-worst-recession-since-wwii/av-53286329 diakses 7 Mei 2020 Pukul 04.00

https://www.livescience.com/38102-titanic-facts.html diakses 7 Mei 2020 Pukul 04.00

Advertisement