Pengendalian Diri, Salah Satu Kunci Kesuksesan

0
57
Sumber Gambar : https://www.pexels.com

Hasi Sobat Milenial dan Gen Z, sebelumnya, Reaksi.id telah membahas Cyberloafing, Prokrastinasi dan Seni Menghadapi Hambatan Mental. Kali ini Reaksi.id akan membahas mengenai Pengendalian Diri yang akan melengkapi pembahasan sebelumnya.

Pernahkan Sobat Milenial dan Gen Z merasa tidak berdaya dihadapan dorongan emosi? Atau sobat Milenial dan Gen Z tidak mampu melawan keinginan yang kuat untuk lari dari suatu pekerjaan? Nah, hal tersebut mengindikasi kurangnya pengendalian diri. Nah, untuk pembasahan detailnya simak informasi berikutnya.

Apa Itu Pengendalian Diri ?

Goldfried dan Merbaum dalam ghufran (2010) mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif.

Singkatnya, pengendalian diri adalah kemampuan Sobat untuk produktif. Walau harus memaksa, Sobat Milenial dan Gen Z mampu mendorong diri untuk mencapai suatu capaian produktif.

Apa yang Mempengaruhi Pengendalian Diri ?

Ada dua faktor yang mempengaruhi Pengendalian Diri, diantaranya ;

Faktor Internal

Menurut Hurlock (1973), faktor internal yang mempengaruhi kontrol diri seseorang adalah faktor usia dan kematangan. Jadi, semakin dewasa seseorang, umumnya ia mampu mengendalikan diri. Dewasa adalah kondisi dimana kita mampu membayangkan konsekuensi logis secara positif dan negatif ketika kita melakukan suatu hal. Sehingga kita mampu mengambil sikap secara tepat.

BACA JUGA  Cyberloafing, Fenomena Sosial Pekerja Indonesia

Faktor emosional (hormonal) juga cukup berpengaruh, remaja sangat sulit mengendalikan diri dibandingkan orang dewasa karena pada saat pertumbuhan, tingkat hormon mereka belum stabil. Hal tersebut mempengaruhi kemampuan berfikir mereka. Disamping sedikitnya pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki.

2. Faktor Eksternal

a. Keluarga

Pola didik dimasa kecil akan mempengaruhi seseorang dalam mengendalikan diri. Pola didik bebas / permisif akan melahirkan individu yang sulit mengendalikan diri. Pola didik Demokrasi Terpimpin (dimana orang tua memberi kebebasan dengan control / tanggung jawab) akan melahirkan Individu yang lebih mampu mengendalikan diri.

b. Lingkungan

Umumnya, lingkungan yang mengondisikan diri individu memiliki tingkat stres atau emosi yang tinggi akan membuat kita sulit mengendalikan diri. Misalnya kita berada di kerumunan orang yang sedang demonstrasi, maka kita akan terdorong untuk terpengaruh emosi mereka.

c. Teman Sebaya

Umumnya, berteman orang yang ekspresif dan sulit mengendalikan diri akan mendorong kita ikut demikian. Karena pertemanan tersebut akan mendorong kita untuk sama dan kita akan terdorong untuk sama-sama ekspresif dan sulit mengendalikan diri.

BACA JUGA  Sinovac Sang Penyelamat dan Ancaman Ekonomi Indonesia

Bagaimana Saya Mencoba Mengendalikan Diri ?

1. Internal

Jika hal kesulitan mengendalikan diri berasal dari Internal, maka berikut tahapan terapinya

a. Sadarilah Kapan Emosi Memuncak

Sadarilah pola ketika kita gembira, panik, marah dan sedih. Ketika emosi memuncak, kemampuan berfikir kita menurun. Maka jangan pernah langsung mengambil keputusan ketika dalam posisi emosional tinggi.

b. Berfikir Sejenak

Ketika kita sadar sedang dalam emosi tinggi, berusahalah memberi jeda untuk berfikir. Renungkan terlebih dahulu dampak positif dan negatifnya. Jikalau memang dampak positifnya lebih banyak, maka ambil keputusan tersebut.

c. Jajak Pendapat

Acap kali, kita tidak punya cukup data untuk memutuskan. Maka ada baiknya berkonsultasi dengan orang yang lebih senior atau berpengalaman di bidang tersebut.

2. Eksternal

Jika hal kesulitan mengendalikan diri berasal dari Eksternal, maka berikut tahapan terapinya

a. Keluarga

Jika lingkungan buruk berasal dari keluarga / didikal pola asuh dimasa lalu. Maka hal ini sulit di benahi kecuali dari keinginan kuat untuk berubah. Karena hal ini sudah menjadi masalah internal.

BACA JUGA  Rangkuman Berita Internasional 2 Januari 2021

Namun jika hal ini berasal dari pola komunikasii (Suami / Istri), bangunlah pengertian. Hal ini cukup banyak untuk dijelaskan, sehingga akan dibahas di artikel selanjutnya mengenai pola komunikasi suami dan istri.

b. Lingkungan

Jika lingkungan kerja, lingkungan rumah atau lingkungan kota (macet dls) berpengaruh buruk bagi pengendalian diri, maka seringlah hadir di lingkungan yang tenang. Hal tersebut bisa kita dapatkan di masjid / tempat Ibadah, taman kota dls. Ketenangan itu akan mengimbangkan beban stress yang kita terima.

c. Teman Sebaya

Sadarilah bahwa kita tidak harus berteman dengan semua orang. Jika ia berpengaruh buruk bagi kehidupan kita, ada baiknya kita mengurangi intensitas pertemanan. Ingatlah, semakin dewasa kita, kita akan semakin memiliki sedikit teman namun teman yang sedikit tersebut akan semakin berkualitas.

 

Nah sekian pembahasan mengenai pengendalian diri. Semoga Sobat Milenial dan Gen Z mampu meningkatkan pengendalian diri. Sehingga terdorong menjadi pribadi yang membanggakan dan didamba semua orang. Terimakasih telah membaca, sampai jumpa di artikel berikutnya …