Bekerjalah Seperti Sebuah Gunung

0
81
Sumber Gambar : pexels.com
Advertisement

Era berganti, sikap manusia pun berevolusi. Layaknya sebuah kulit ular yang terlepas, setelah habis masa bakti. Ibnu Khaldun berkata, “Rakyat mengikuti Agama Raja yang ia patuhi”. Ia bermaksut memberi hikmah bahwa manusia akan mengikuti cara hidup penguasa, cara hidup panutan hati. Alangkah hati ini tersayat ketika mendapati bahwa zaman berubah namun melawan hati nurani.

Kini banyak orang yang hidup bermodalkan sebuah topeng. Sebuah citra yang ia harapkan menerangi kehidupan. Setiap langkah ia teriakan di segala media dengan lantang. Ia warnai media itu dengan citra kerja, ia warnai dengan senyum manis, ia warnai dengan gelak tawa. Ia sembunyikan segala malas, ia sembunyikan keburukan dirinya, ia sembunyikan kebodohannya. Harapannya sederhana, mendapatkan beribu simpati dari khalayak ramai. Dianggap pahlawan bangsa yang akan merubah dunia.

Ah, kita tak perlu mereka. Kerja mereka belum selesai, tapi rasa puas telah tertancap di dada. Apa hasil yang mereka berikan kepada kita. Apa hasil yang mereka berikan kepada bangsa. Apa hasil yang mereka berikan pada dunia.

BACA JUGA  Nasional : Prediksi Lonjakan Kasus Covid-19 Ditengah Keterbatasan Kapasitas Rumah Sakit

Hiduplah seperti gunung. Ia tumbuh dengan hening selama ribuan tahun. Ketika ia tinggi menjulang, betapa banyak yang hadir untuk menantang. Tumbuhlah dengan hening, layaknya sebuah pohon di tengah hutan. Memberi kehidupan dan memberikan mata pencaharian. Hiduplah dengan bekerja sungguh-sungguh. Tumbuhlah tanpa menggema memohon mata memandang.

Tenanglah kawan, walau dalam hening, kerja kita akan selalu di ingat. Apakah mungkn kau bisa lupa ketika gunung memuntahkan laharnya. Atau tak mungkin pula engkau tak sadar ketika sebuah pohon tumbang dengan suara pilu. Mereka yang bertumbuh dengan teguh, akan memiliki akhir yang menggelegar. Kerja kita, tak perlu ditunjukan, hanya cukup direnungkan. Biar mereka sadar, apa yang terjadi ketika kau menghilang.

Jikalau saat ini kau di tanya, siapakah artis papan atas di tahun 45’. Pasti kau bertanya-tanya, siapakah mereka. Namun, jikalau kau kutanya, siapakah mereka yang berusaha memerdekakan bangsanya. Pasti kau akan berceloteh dengan bangganya. Ingatlah kawan, tak perlu banyak pencitraan, banyaklah bekerja. Itulah arti dari melawan arus zaman. Janganlah kau banggakan kata melawan arus zaman, jikalau kau ikut terseret arus zaman.

Advertisement
BACA JUGA  Rangkuman Berita Internasional 5 Januari 2021

Ingatlah kawan, tanpa Bung Hatta, Republik ini merana. Tanpa Natsir, Republik ini terpencar. Tanpa Sri Sultan, Republik ini akan mengemis di jalanan. Tanpa Saudagar Aceh, Republik ini tak akan memiliki Pesawat Seulawah. Apakah mereka berteriak memohon penghargaan. Mereka diam dan tenang, walau-pun dunia berputar dan berusaha menghempas sejarah. Tapi, kenangan mereka tak akan pernah terlupa. Bukankah kita juga ingin menjadi jajaran mereka.

Advertisement