China : Apakah Vaksin Buatan China Efektif?

0
32
Ilustrasi Vaksin (Sumber Gambar : www.pexels.com)
Advertisement

Ada tiga Vaksin buatan China yang saat ini terkenal di dunia yaitu Sinopharm, Sinovac Biotech dan CanSino. Pertanyaan ini bergulir setelah China mengkampanyekan untuk menyangsikan efektifitas vaksin-vaksin negara barat.

Salah satu tuduhan di lontarkan presenter di penyiaran yang di kontrol negara. Setelah 10 orang yang menerima vaksin Pfizer meninggal di Jerman. Akibat tuduhan ini, para Netizen internasional menyerangnya bersamaan dengan tuduhan menggunakan Twiter untuk provokasi informasi yang keliru.

Maka kini semua berbalik mempertanyakan Efektifitas Vaksin China. Bahkan sebuah paradok yang tidak bisa di pungkiri adalah sebenarnya Pemerintah China mendapatkan vaksin dari Pfizer melalui perusahaan Fosun Pharma. Seakan-akan kampanye ini bertujuan untuk mengkaburkan asal muasal vaksin yang di dapatkan oleh China.

Sinofarm

Vaksin ini di sebut jenis Vero, di dasarkan pada virus yang tidak aktif. Perusahaan Sinopharm mengembangkannya bekerja sama dengan Institut Virologi Wuhan dan Institut Produk Biologi. Vaksin semacam Vero telah dicoba dan diuji selama beberapa dekade. Misalnya, mereka berhasil digunakan melawan difteri, hepatitis B, polio, batuk rejan dan tetanus.

Uji coba fase III untuk Vero telah dilakukan di Uni Emirat Arab, Bahrain, Peru, Serbia, Maroko, Argentina, Yordania, dan Pakistan. Salah satu alasan untuk pengadaan uji coba karena jumlah kasus di China sukses menurun drastis karena Lockdown, sehingga sulit untuk mendapatkan data pengaruh Vaksin yang akurat.

BACA JUGA  China : Team WHO Meragukan Covid-19 Terlepas Dari Laboratorium

Sejauh ini, Vero adalah satu-satunya vaksin China yang datanya telah dipublikasikan oleh pabrikan. Pada 29 Desember 2020, Sinopharm melaporkan 79% kemanjuran dalam evaluasi sementara. Vaksin itu di lisensikan di China sehari kemudian.

Advertisement

Data dari negara lain tidak menyajikan gambaran yang konsisten – Emirates mengonfirmasi keefektifan yang lebih tinggi dalam penelitian mereka hingga 86%. Serbia juga menyetujui vaksin tersebut pada Januari.

Hal-hal kurang menjanjikan di Peru. Pihak berwenang di sana menghentikan uji klinis pada bulan Desember setelah satu pasien menderita kelumpuhan di lengannya akibat vaksinasi.

Sinovac Biotech

Vaksin, yang di sebut CoronaVac, juga di dasarkan pada virus yang tidak aktif (Vero). Vaksin ini telah di uji dalam berbagai uji coba Fase III sejak musim panas, termasuk di Brasil, Indonesia, Bangladesh, dan Turki. Pabrikan belum merilis angka resmi mengenai kemanjuran vaksin CoronaVac, tetapi evaluasi oleh kolaborator Brasil menunjukkan kemanjuran hingga 78%. Sementara otoritas kesehatan Indonesia melaporkan kemanjuran sekitar 65%. Sejauh ini perbedaan hasil Brasil dan Indonesia di sebabkan obyek percobaan Vaksin di Indonesia adalah masyarakat luas, sementara di Brasil adalah para kalangan medis yang terbatas.

BACA JUGA  Amerika Serikat : Panel Membuka Peluang AI Mengontrol Persenjataan Otonom

Negara-negara yang berpotensi berminat seperti Malaysia dan Singapura masih ragu-ragu. Thailand berencana untuk memperkenalkan vaksin tersebut meskipun kemanjurannya sedang. Di China, vaksin tersebut telah mendapat persetujuan darurat.

Sinovac berharap untuk meningkatkan kemanjuran dengan memperpanjang interval antar dosis. Namun, penelitian lebih lanjut di perlukan sebelum hal ini terjadi. Memperpanjang waktu antara vaksinasi pertama dan suntikan penguat juga meningkatkan risiko terjadinya mutasi.

CanSino Biologics

Vaksin yang di sebut Ad5-nCoV atau Convidecia, yang di kembangkan oleh perusahaan CanSino Biologics bersama dengan Institut Bioteknologi Beijing, adalah vaksin virus vektor berdasarkan adenovirus tipe 5.

Ini berarti bahwa virus transpor yang tidak berbahaya membawa protein permukaan patogen SARS-CoV-2 yang tidak dapat di replikasi ke dalam sel dan memicu reaksi kekebalan di sana. Dalam hal cara kerjanya, vaksin ini sebanding dengan vaksin Inggris-Swedia yang di kembangkan oleh AstraZeneca dan Universitas Oxford.

Uji coba fase III telah di mulai di Pakistan, Rusia, Meksiko, dan Chili.   Sebuah studi juga di rencanakan di Arab Saudi. Di China, vaksin telah di berikan kepada personel militer sejak Juni 2020. Produsen belum merilis data kemanjuran.

Advertisement