Antartika & Greenland : Pencairan Es Semakin Cepat dan Mengkhawatirkan

0
12
Jokulsarlon adalah danau glasial besar di tenggara Islandia, di tepi Taman Nasional Vatnajökull. (www.istockphoto.com)

Pencairan es di seluruh planet semakin cepat pada tingkat rekor tertinggi dengan mencairnya lapisan es di Greenland dan Antartika menjadi yang tercepat, demikian temuan penelitian.

Tingkat kerugian sekarang sejalan dengan skenario kasus terburuk dari Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (otoritas terkemuka dunia untuk iklim) menurut sebuah makalah yang diterbitkan pada Senin di jurnal The Cryosphere .

Thomas Slater adalah penulis utama dan peneliti di pusat pengamatan kutub dan pemodelan di Universitas Leeds. Thomas Slater memperingatkan bahwa dampak dari pencairan Es akan di rasakan di seluruh dunia. “Kenaikan permukaan laut dalam skala ini akan berdampak sangat serius pada masyarakat pesisir abad ini,” ujarnya.

Sekitar 28 triliun ton es hilang antara tahun 1994 dan 2017. Jumlah Es sebanyak itu menurut perhitungan penulis makalah itu setara dengan ketebalan 100 meter Es dengan seluas Inggris. Sekitar dua pertiga dari hilangnya es disebabkan oleh pemanasan atmosfer, dengan sekitar sepertiganya disebabkan oleh pemanasan laut.

Selama periode penelitian, tingkat kehilangan es di percepat hingga 57%. Makalah tersebut menunjukan dari 0,8 triliun ton per tahun pada 1990-an menjadi 1,2 triliun ton per tahun pada 2017. Sekitar setengah dari semua es yang hilang berasal dari daratan, yang berkontribusi terhadap langsung ke kenaikan permukaan laut global. Hilangnya es selama periode penelitian, dari 1994 hingga 2017, di perkirakan telah menaikkan permukaan laut hingga 35 milimeter.

BACA JUGA  China : China Menyetujui Masuknya Tim WHO

Hilangnya Efek Albedo dan Sumber Air Tawar Gletser

Jumlah es terbesar yang hilang berasal dari es yang mengapung di wilayah kutub. Hal tersebut meningkatkan risiko hilangnya Efek Albedo. Es putih selama ini memantulkan radiasi matahari kembali ke luar angkasa yang di sebut efek albedo.

Awan rendah di atas pegunungan yang tertutup salju dan bongkahan es mengapung di Teluk Admiralty, Pulau King George, Antartika (Sumber : www.istockphoto.com)

Tetapi ketika es laut yang mengapung mencair, ia berubah menjadi air gelap yang menyerap lebih banyak panas, mempercepat pemanasan lebih lanjut. Sehingga hilangnya Efek Albedo (efek pemantulan cahaya matahari) akan di iringi oleh munculnya efek penyerapan panas.

Sebuahi kapal melintasi Samudra Atlantik, di hari yang indah. (www.istockphoto.com)

Gletser menunjukkan kehilangan volume es terbesar berikutnya, dengan lebih dari 6 triliun ton hilang antara tahun 1994 dan 2017, sekitar seperempat dari kehilangan es global selama periode tersebut. Menyusutnya gletser mengancam menyebabkan banjir dan kekurangan air di beberapa daerah. Volume pencarian tersebut dapat membanjiri daerah hilir, kemudian gletser yang menyusut menghasilkan lebih sedikit aliran air yang stabil yang di butuhkan untuk pertanian.

Inès Otosaka, rekan penulis laporan dan peneliti PhD di pusat pengamatan dan pemodelan kutub Universitas Leeds, mengatakan: “Selain berkontribusi terhadap kenaikan rata-rata permukaan laut secara global, gletser gunung juga penting sebagai sumber air tawar bagi masyarakat lokal. Oleh karena itu, mundurnya gletser di seluruh dunia menjadi sangat penting, baik pada skala lokal maupun global. ”

BACA JUGA  Rangkuman Berita Internasional 9 Januari 2021

Penelitian berjudul Earth’s Ice Imbalance, menggunakan pengamatan satelit selama periode 23 tahun untuk menilai es di seluruh dunia. Studi sebelumnya telah memeriksa belahan dunia daripada membuat penilaian data yang komprehensif. Tim peneliti termasuk Universitas Edinburgh, Universitas College London dan Earthwave, sebuah organisasi ilmu data, dan di danai oleh Dewan Riset Lingkungan Alam Inggris.